Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Visit Agenda: Laporan Liputan6.com dari Turki: Sebuah Pesan Mendalam Sebelum Misi Mulia ke Gaza

Jessica Hernandez 4 mins read 3 views

Laporan Liputan6.com dari Turki: Sebuah Pesan Mendalam Sebelum Misi Mulia ke Gaza Visit Agenda - Kamis (14/5/2026), As’ad Aras, relawan dari Indonesia yang

Visit Agenda: Laporan Liputan6.com dari Turki: Sebuah Pesan Mendalam Sebelum Misi Mulia ke Gaza

Laporan Liputan6.com dari Turki: Sebuah Pesan Mendalam Sebelum Misi Mulia ke Gaza

Visit Agenda – Kamis (14/5/2026), As’ad Aras, relawan dari Indonesia yang turut serta dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, masih merasakan kehangatan dari pertanyaan sederhana anaknya saat kapal tersebut perlahan meninggalkan Pelabuhan Albatros, Marmaris, Turki. Saat itu, di tengah keberangkatan yang penuh haru, sebuah kalimat dari sang anak menggema di benaknya. “Abah kalau sudah dari Gaza, abah balik lagi ke rumah kan?” tanyanya. Pertanyaan ini memicu refleksi dalam diri As’ad, yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk menjalani perjalanan laut menuju wilayah konflik di Jalur Gaza. Sebagai bagian dari Relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), ia berangkat bersama ratusan aktivis kemanusiaan internasional untuk mengatasi blokade ilegal Israel yang membatasi akses bantuan bagi warga Palestina.

Pesan Keluarga yang Menyentuh

Sebelum keberangkatan, As’ad sempat menghubungi keluarga di rumah untuk mengetahui kondisi terkini. Di tengah keharuan suasana, ia merasakan dukungan penuh dari orang tua, istri, serta anak-anak yang menjadi kekuatan besar selama perjalanan. “Orang tua, istri, dan keluarga sangat mendukung perjalanan ini,” jelasnya. Meski tahu bahwa pelayaran ke Gaza membawa risiko, keluarga hanya memanjatkan doa agar ia selamat dan pulang dengan aman. “Mereka mendoakan agar Allah menjaga keselamatan, kesehatan, dimudahkan sampai ke Gaza, serta kembali ke Indonesia dalam kondisi baik,” tambah As’ad.

“Istri berpesan agar saya ikhlas semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Karena perjalanan ini bukan tentang diri sendiri, tapi ibadah, amanah kemanusiaan, dan perjuangan untuk saudara-saudara kita di Gaza,”

Dari semua pesan yang diberikan, nasihat sang istri menjadi yang paling terkenal dalam ingatannya. Ia mengingatkan As’ad untuk menjaga niat tulus selama menjalani tugas. Sebagai seorang ayah, As’ad juga berupaya menanamkan kepedulian terhadap Palestina kepada anak-anaknya. Selama ini, ia sering menjelaskan bagaimana warga Gaza menghadapi kesulitan yang berat. Karena itu, saat ia memutuskan untuk berlayar, anak-anak memahami bahwa sang ayah sedang melakukan perjuangan untuk saudara-saudara mereka.

Sementara itu, doa dari sang ibu menyentuh hatinya. “Beliau berdoa agar saya ditempatkan di kapal yang besar dan aman. Alhamdulillah, Allah ijabah doa itu,” kata As’ad. Dengan doa tersebut, ia merasa dijaga oleh kekuatan spiritual keluarga. “Restu orang tua dan keluarga menjadi sumber semangat yang luar biasa selama perjalanan,” ujarnya. Meski terkadang merasa berat meninggalkan keluarga, ia percaya bahwa tawakal kepada Allah akan membawa keberhasilan dalam misi ini.

Perjalanan Kemanusiaan yang Berat

As’ad menyadari bahwa meninggalkan keluarga adalah hal terberat dalam perjalanan ke Gaza. Jika komunikasi terputus di tengah laut, yang paling ia khawatirkan adalah istri dan anak-anak di rumah. “Yang paling saya khawatirkan tentu istri dan anak-anak. Tapi kami semua berusaha menitipkan semuanya kepada Allah, sebaik-baik penjaga,” jelasnya. Baginya, misi ini bukan hanya tentang keberanian menghadapi risiko, tetapi juga tentang kepercayaan pada Tuhan sebagai penjamin keselamatan.

Sebagai bagian dari misi Global Sumud Flotilla 2.0, sembilan delegasi Indonesia turut serta dalam perjalanan ke Gaza. Misi ini menyatukan 500 relawan dan aktivis dari 45 negara untuk menembus blokade ilegal Israel. Dalam armada ini, kelima relawan GPCI berada di berbagai kapal, sementara empat jurnalis Indonesia juga turut menyertai perjalanan. Setiap kapal memiliki peran tertentu, dengan nama-nama kapal yang menjadi simbol kemanusiaan, seperti Kapal Zapyro, Josef, Kasr-1, Boralize, dan Ozgurluk.

Relawan-relawan Indonesia ini memiliki latar belakang beragam, namun semua mengharapkan untuk memberikan bantuan bagi warga Gaza. Dalam Kapal Zapyro, Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu menjadi anggota utama. Sementara di Kapal Josef, Andi Angga Prasadewa turut serta. Kapal Kasr-1 menyambut As’ad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo, yang dikenal sebagai bagian dari GPCI. Di sisi lain, Bambang Noroyono berada di Kapal Boralize, sementara Thoudy Badai, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo bergabung di Kapal Ozgurluk. Seluruh delegasi berharap misi ini mampu mengurangi penderitaan warga Gaza.

Keberangkatan yang Penuh Harap

Dalam perjalanan menuju Gaza, As’ad menyadari bahwa setiap langkah diawali oleh doa-doa yang terus mengiringi. “Perjalanan ini adalah bentuk tawakal sebagai seorang muslim, juga tentang keluarga yang ditinggalkan, doa-doa yang terus terdengar, dan keyakinan bahwa selalu ada Allah yang menjaga,” ujarnya. Dengan semangat itu, ia percaya bahwa misi ini bukan hanya untuk menyampaikan bantuan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang lebih dalam.

Sebelum berlayar, As’ad merasa dirinya dilengkapi oleh kekuatan emosional dari keluarga. Pertanyaan anaknya, nasihat sang istri, serta doa sang ibu menjadi bagian dari persiapan mentalnya. Meski terkadang merasa ragu, ia mengingat bahwa keluarga adalah fondasi yang memperkuat keberanian dalam menghadapi tantangan. “Mereka mengingatkan saya bahwa ini adalah amanah kemanusiaan yang harus diperjuangkan,” imbuhnya.

Kapal Global Sumud Flotilla 2.0 ditemani oleh ratusan peserta dari berbagai belahan dunia, yang memiliki tujuan bersama. Misi ini tidak hanya tentang melewati blokade Israel, tetapi juga memberikan semangat bagi komunitas internasional yang peduli pada kondisi Palestina. As’ad mengakui bahwa rasa ingin membantu warga Gaza terus meng

Gabung diskusi