Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Meeting Results: Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk: Didedikasikan untuk Perjuangan Buruh

Mark Williams 3 mins read 4 views

Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk untuk Perjuangan Buruh Meeting Results - Dalam Meeting Results acara peresmian Museum Marsinah yang berlangsung di

Meeting Results: Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk: Didedikasikan untuk Perjuangan Buruh

Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk untuk Perjuangan Buruh

Meeting Results – Dalam Meeting Results acara peresmian Museum Marsinah yang berlangsung di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto hadir untuk menandai pentingnya perjuangan buruh perempuan. Museum ini dibangun sebagai penghargaan atas peran Marsinah, yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 11 November 2025, dalam memperjuangkan hak buruh di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh keluarga Marsinah, Ketua Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, serta para pengunjung yang ingin merasakan sejarah perlawanan buruh perempuan.

Dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, Prabowo Subianto secara resmi meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk. Ia menegaskan bahwa museum ini menjadi simbol keberanian buruh perempuan yang telah mengorbankan diri demi kesejahteraan sosial.

Meeting Results ini tidak hanya sekadar upacara peresmian, tetapi juga momen refleksi terhadap perjuangan Marsinah yang membawa dampak besar dalam sejarah gerakan buruh. Prabowo menekankan bahwa museum tersebut merupakan bagian dari upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perjuangan kelas pekerja. “Kegiatan ini diharapkan menjadi kesempatan untuk mengingat kisah heroik buruh perempuan seperti Marsinah,” ujarnya, menambahkan bahwa kisah Marsinah tetap relevan hingga hari ini.

Perjuangan Marsinah Sebelum Meninggal

Marsinah, lahir di Nglundo, Nganjuk, 10 April 1969, merupakan putra dari pasangan Astin dan Sumini. Ia memiliki saudara perempuan bernama Marsini dan adik perempuan bernama Wijati. Sebagai aktivis buruh, Marsinah dikenal gigih dalam mengadvokasi hak rekan-rekannya, terutama perempuan yang sering terpinggirkan dalam perusahaan. Pada 1989, ia memutuskan pindah ke Surabaya untuk mencari penghidupan, meskipun hanya lulusan SLTA.

Dalam perjalanan karier, Marsinah bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut. Meski gajinya terbatas, ia tetap berjuang untuk meningkatkan kondisi buruh dengan bekerja ekstra, seperti berjualan nasi bungkus. Tahun 1990, ia bergabung dengan PT Catur Putra Surya (PT CPS) di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, dan aktif dalam organisasi buruh SPSI unit kerja perusahaan tersebut. Kehadirannya dalam rapat perencanaan unjuk rasa pada 2 Mei 1993 menjadi bagian dari Meeting Results yang mendorong gerakan buruh.

Kisah Tragis di Masa Orde Baru

Meeting Results yang dihadiri Marsinah pada 2 Mei 1993 menjadi awal dari peristiwa yang tragis. Para buruh, termasuk Marsinah, berupaya memperjuangkan 12 tuntutan terhadap PT CPS. Namun, koramil setempat langsung mengambil alih untuk mencegah aksi mogok kerja. Pada 5 Mei 1993, Marsinah menjadi salah satu dari 15 perwakilan buruh yang terlibat dalam perundingan. Tanggal 6 Mei, 13 buruh dianggap menghasut dan dipaksa mengundurkan diri setelah dituduh gelap mata.

Marsinah sempat mengunjungi Kodim Sidoarjo untuk mengetahui kondisi rekan-rekannya. Namun, setelah malam hari 5 Mei 1993, ia menghilang hingga ditemukan tewas di Nganjuk pada 9 Mei 1993. Hasil autopsi menyebutkan bahwa Marsinah meninggal akibat penganiayaan berat dan pemerkosaan. Kematian beliau memicu kemarahan masyarakat, yang menuntut investigasi menyeluruh terhadap pelaku. Sampai saat ini, identitas pelaku masih menjadi misteri, tetapi kisah Marsinah tetap menjadi inspirasi bagi buruh perempuan.

Meeting Results yang diadakan pada 16 Mei 2026 menegaskan komitmen pemerintah untuk merayakan sejarah perjuangan buruh. Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk dirancang sebagai pusat edukasi, penghargaan, dan pengingat akan perlawanan sosial yang berani. Prabowo menyebutkan bahwa kisah Marsinah menjadi bukti bahwa perjuangan buruh perempuan tidak hanya tentang upah, tetapi juga tentang keadilan dan hak dasar. “Museum ini akan menjadi tempat bagi generasi muda untuk mempelajari bagaimana buruh perempuan seperti Marsinah membawa perubahan,” kata Prabowo.

Pembangunan museum dan rumah singgah ini diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak aktivis buruh di masa kini. Marsinah, yang telah meninggal pada 9 Mei 1993, menjadi simbol keberanian di tengah tekanan sistem kapitalis. Dalam Meeting Results, Prabowo juga menekankan bahwa perjuangan Marsinah selama ini dianggap sebagai bagian dari sejarah pergerakan buruh nasional. “Kita harus terus menerus mengingat dan merayakan perjuangan mereka,” ujarnya.

Museum Marsinah di Nganjuk tidak hanya menampilkan sejarah, tetapi juga menjadi tempat untuk membangun kesadaran akan pentingnya partisipasi buruh perempuan dalam dunia kerja. Acara ini juga menegaskan bahwa perjuangan Marsinah tidak terlupakan, sekalipun ia telah mengorbankan nyawanya. Prabowo mengajak masyarakat untuk tidak hanya memperingati, tetapi juga melanjutkan perjuangan Marsinah melalui tindakan nyata di tengah tantangan ekonomi dan sosial saat ini.

Gabung diskusi