Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Meeting Results: Prabowo Keliling Museum Marsinah, Takjub Lihat Barang Peninggalan Sang Aktivis Buruh

James Gonzalez 4 mins read 4 views

Prabowo Kunjungi Museum Marsinah, Apresiasi Peninggalan Aktivis Buruh Meeting Results - Jakarta - Presiden Prabowo Subianto hadir di Kabupaten Nganjuk, Jawa

Meeting Results: Prabowo Keliling Museum Marsinah, Takjub Lihat Barang Peninggalan Sang Aktivis Buruh

Prabowo Kunjungi Museum Marsinah, Apresiasi Peninggalan Aktivis Buruh

Meeting Results – Jakarta – Presiden Prabowo Subianto hadir di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada hari Sabtu, 16 Mei 2026, untuk secara resmi membuka Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah. Di sana, ia melihat koleksi sejumlah benda yang pernah dipegang oleh tokoh perempuan yang dianggap sebagai pelopor perjuangan buruh. Turut serta dalam kunjungan tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Andi Gani Nena Wea, Ketua Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).

Peninggalan Marsinah Tampilkan Kehidupan Sederhana

Di dalam museum, Prabowo memperhatikan berbagai benda kenangan seperti pakaian, tas, dan sandal terakhir yang dikenakan oleh Marsinah. Ia juga menyempatkan diri memasuki kamar tidur sang aktivis, yang dihiasi dinding kayu dan tempat tidur yang tidak terlalu modern. Patung Marsinah, yang dipajang di bagian tengah museum, mencuri perhatian. Patung itu menampilkan sosok Marsinah dengan tangan terangkat, serta bertuliskan “Pahlawan Buruh Ibu Marsinah” di bawahnya. Dalam pengelolaan museum, informasi tentang perjuangan Marsinah disajikan melalui media digital yang tersedia di dalam ruangan.

Menurut laporan Liputan6.com dari YouTube Sekretariat Presiden, museum tersebut telah resmi dibuka setelah seremoni peresmian oleh Prabowo. Sementara itu, berbagai benda kenangan lainnya, seperti sepeda ontel yang sering digunakan Marsinah untuk pergi kerja ke pabriknya dari kost di Sidiarjo, juga disimpan sebagai bagian dari koleksi. Sepeda itu menjadi kenangan akan peran Marsinah dalam aktivitas sehari-hari sebagai buruh.

Jejak Hidup Marsinah Sebelum Meninggal

Marsinah, yang meninggal dunia pada 8 Mei 1993, lahir di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969. Ia merupakan putri dari Astin dan Sumini. Sebelum menjadi aktivis buruh, Marsinah bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya. Namun, pendapatan yang diperoleh tidak memadai, sehingga ia terpaksa mencari tambahan penghasilan dengan berjualan nasi bungkus. Tahun 1989, Marsinah memutuskan merantau ke Surabaya setelah lulus dari SLTA. Pergi ke kota besar memang menjadi impian, tetapi kondisi ekonomi menyulitkannya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Marsinah tinggal di rumah kakak perempuannya, Marsini, yang telah menikah dan bekerja. Di Surabaya, ia mencoba menambah penghasilan dengan berjualan nasi bungkus, sambil tetap bekerja di pabrik. Pada 1990, Marsinah pindah ke Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, untuk bekerja di PT Catur Putra Surya (PT CPS), sebuah perusahaan arloji. Di sana, ia mulai terlibat dalam kegiatan aktivis buruh, terutama dalam organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), unit kerja PT CPS.

Perjuangan Buruh yang Memicu Tragedi

Pada 1993, pemerintah mengeluarkan instruksi Gubernur KDH TK I Jawa Timur melalui surat edaran No. 50/Th. 1992, yang menuntut kenaikan gaji pokok karyawan sebesar 20 persen. Namun, imbauan tersebut tidak langsung diikuti oleh pengusaha, termasuk PT CPS. Akibatnya, para buruh menggelar aksi unjuk rasa. Marsinah aktif dalam rapat perencanaan aksi tersebut, yang digelar di Tanggulangin, Sidoarjo.

Sehari setelah rapat, buruh-buruh mengajak rekan-rekan mereka untuk mogok kerja. Upaya itu dikabulkan oleh Komando Rayon Militer (Koramil) setempat, yang memaksa buruh untuk kembali bekerja. Pada 8 Mei 1993, aksi mogok total dilakukan, dengan 12 tuntutan yang diajukan kepada PT CPS. Marsinah dikenal sebagai salah satu dari 15 perwakilan buruh yang terlibat dalam perundingan dengan perusahaan, bahkan sampai 5 Mei 1993. Namun, pada siang hari, 13 buruh termasuk Marsinah dituduh menghasut rekan-rekan mereka untuk berunjuk rasa.

Para buruh tersebut digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo dan memaksa mengundurkan diri dari PT CPS. Marsinah, yang mendengar situasi ini, dikabarkan mengunjungi Kodim Sidoarjo untuk memastikan kondisi para rekan yang digrebek. Malam hari, sekitar pukul 10, Marsinah menghilang. Sejak 5 Mei 1993, ia tidak terlihat lagi hingga ditemukan tewas di Nganjuk pada 9 Mei 1993. Hasil autopsi menunjukkan bahwa Marsinah meninggal pada 8 Mei 1993.

Penghargaan Prabowo kepada Marsinah sebagai Pahlawan Nasional

Sebagai informasi tambahan, Prabowo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah pada 11 November 2025. Penghargaan ini menandai apresiasi atas perjuangan Marsinah selama masa Orde Baru. Aktivis buruh perempuan ini dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di dunia kerja. Pengunjung museum bisa mempelajari biografi dan perjuangannya melalui media digital yang dipasang.

Marsinah juga memiliki dua saudara perempuan, yaitu Marsini dan Wijati. Kehidupan awalnya di Surabaya memperlihatkan bagaimana ia berjuang menghadapi tantangan ekonomi. Selama bekerja di pabrik, ia berupaya memperjuangkan hak rekan-rekan kerjanya. Perjalanan hidup Marsinah diakhiri dengan kehilangan nyawanya, tetapi kisahnya tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Di Museum Ibu Marsinah, pengunjung dapat menyaksikan perjalanan hidup sang aktivis dari awal hingga akhir. Benda-benda yang dipamerkan menunjukkan bagaimana ia memulai karier sebagai buruh sekaligus menjadi penggerak perubahan. Setiap item di dalam museum menceritakan hal-hal yang berkesan. Dari tas yang digunakan sehari-hari hingga sepeda ontel yang mencerminkan keseharian Marsinah, semuanya menjadi bukti perjuangannya.

Gabung diskusi