Lima Klaster Budidaya Rumput Laut, Mesin Penggerak Ekonomi Pesisir NTT
Liputan6.com, Kupang — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menggalakkan lima klaster budidaya rumput laut sebagai mesin penggerak ekonomi
Lima Klaster Budidaya Rumput Laut: Strategi NTT Bangun Ekonomi Pesisir Berkelanjutan
Beritaterbaik.com – Liputan6.com, Kupang — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menggalakkan lima klaster budidaya rumput laut sebagai mesin penggerak ekonomi pesisir yang terintegrasi. Inisiatif ini bertujuan membangun ekosistem usaha yang mencakup rantai pasok dari hulu hingga hilir, sehingga nilai tambah komoditas dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Stefania Tunga Boro, menjelaskan bahwa kelima klaster tersebut dirancang untuk mengatasi berbagai hambatan yang selama ini menghambat pertumbuhan sektor ini.
“Melalui pengembangan lima klaster budidaya, pemerintah daerah berharap rantai pasok rumput laut dapat diperkuat sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan di NTT agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati masyarakat setempat,” ujar Stefania Tunga Boro, seperti dilansir Antara.
Tantangan di Sektor Hulu dan Hilir
Sektor hulu budidaya rumput laut di NTT masih menghadapi sejumlah kendala serius. Kelangkaan bibit unggul yang berkelanjutan menjadi salah satu masalah utama, disusul dengan serangan penyakit ice-ice yang sering kali melanda tanaman. Selain itu, penurunan kualitas air akibat perubahan iklim juga memperparah kondisi budidaya. Masalah ini makin kompleks akibat minimnya penerapan teknologi modern dan CBIB (Cara Budidaya Ikan dan Ikan Laut yang Baik), serta optimalisasi lahan budidaya yang belum berjalan maksimal.
Di sisi lain, sektor hilir juga tidak luput dari tantangan. Mayoritas hasil panen masih dijual dalam bentuk kering sebagai bahan baku mentah. Akibatnya, nilai tambah lebih banyak dinikmati oleh daerah pemroses industri pengolahan. Keterbatasan infrastruktur logistik, akses pembiayaan, standarisasi mutu, sertifikasi produk, hingga akses pasar ekspor masih menjadi hambatan utama yang perlu diatasi secara bersama-sama.
Dukungan Teknologi dan Kolaborasi Multi-Pihak
Untuk mendukung pengembangan lima klaster budidaya rumput laut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bekerja sama dengan Ditjen Perikanan Budidaya KKP serta berbagai mitra strategis. Pendampingan yang diberikan mencakup penerapan CBIB secara komprehensif, mulai dari pemilihan lokasi sesuai daya dukung lingkungan, penggunaan bibit berkualitas, pengaturan jarak tanam, pemeliharaan ramah lingkungan, pengelolaan limbah, hingga teknik panen dan pascapanen.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan investor terus diperkuat guna menghadirkan inovasi teknologi yang efisien, adaptif terhadap iklim, dan berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi biru (blue economy) yang menekankan keseimbangan antara peningkatan produksi dan kelestarian ekosistem pesisir serta laut.
Strategi ini juga didukung oleh penyuluhan perikanan yang intensif. Para penyuluh perikanan berperan penting dalam mendampingi pembudidaya secara langsung di lapangan. Melalui pendekatan ini, Pemprov NTT menargetkan rumput laut menjadi penggerak ekonomi biru yang mampu meningkatkan daya saing, menciptakan nilai tambah, serta mendorong kesejahteraan warga pesisir secara berkelanjutan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Budidaya Rumput Laut di NTT
Apa saja lima klaster budidaya rumput laut yang dikembangkan di NTT? Kelima klaster tersebut meliputi penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, penguatan kapasitas pembudidaya, pengembangan industri pengolahan, serta penguatan akses pasar dan logistik.
Mengapa rumput laut menjadi komoditas unggulan di NTT? Rumput laut menjadi komoditas unggulan karena memiliki potensi ekonomi tinggi, dapat dibudidayakan di berbagai kondisi perairan, serta mendukung prinsip ekonomi biru yang berkelanjutan.
Bagaimana cara mengatasi penyakit ice-ice pada rumput laut? Penyakit ice-ice dapat diatasi melalui penerapan CBIB, pemilihan lokasi budidaya yang sesuai, penggunaan bibit berkualitas, serta pemeliharaan yang ramah lingkungan.
Apakah ada dukungan teknologi untuk pembudidaya rumput laut di NTT? Ya, melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian, berbagai inovasi teknologi yang adaptif terhadap iklim telah diperkenalkan kepada pembudidaya.
Untuk informasi lebih lanjut tentang budidaya rumput laut di NTT, Anda dapat membaca artikel terkait di Liputan6.com.
