Program Keripik Cipuy Renyah: Usaha Rumahan yang Membangun Ekonomi Janda dan Lansia
Latest Program di Jalan Nanggerang, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, kini menjadi simbol pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. Di sini, delapan perempuan dan tiga lansia duduk di lantai, sibuk memasukkan produk keripik singkong ke dalam kemasan plastik. Aroma minyak goreng yang hangat mengisi udara, menggambarkan aktivitas usaha yang telah bertahan dan berkembang sejak 2019. Tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, Latest Program ini juga mampu menjangkau pasar di Jakarta, membuktikan bahwa usaha rumahan bisa menjadi sumber penghasilan yang stabil.
Kisah Sukses Pemilik Usaha
Encih, salah satu pengelola Latest Program, memulai usaha ini dengan modal sekitar Rp 15 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan memasak, bahan baku seperti singkong, dan minyak goreng. Sebagian besar modal berasal dari pinjaman keluarga yang mendukungnya sejak awal. Sebelum memulai, Encih pernah bekerja di usaha serupa, mempelajari proses produksi sebelum akhirnya memutuskan membuka usaha sendiri.
“Waktu itu mikirnya mudah-mudahan bisa jalan dulu,” kata Encih saat berbincang dengan Liputan6.com. Awalnya, produksi hanya sekitar satu kuintal per minggu. Namun, dengan meningkatnya permintaan, produksi melonjak hingga dua kuintal. Kemudian, usaha ini berkembang menjadi satu sampai dua ton per minggu. Kegiatan ini menjadi Latest Program yang berdampak nyata dalam membangun ekonomi kelompok wanita dan lansia.
Kendala dan Perbaikan
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Latest Program mengalami tantangan serius. Toko-toko dan warung yang sebelumnya menjadi mitra penjualan mulai sepi pembeli, menyebabkan banyak produk dikembalikan. “Barang banyak yang balik lagi,” ujarnya. Selama satu bulan, produksi sempat berhenti. Kadang hanya sekali pengerjaan dalam sepekan, bahkan pernah tidak ada produksi sama sekali.
Untuk bertahan, Encih memutar tabungan menjadi modal tambahan. Beruntung, beberapa reseller tetap membantu penjualan, memungkinkan usaha ini bangkit kembali. Tiga bulan kemudian, kapasitas produksi meningkat hingga lima kuintal dalam sekali pengerjaan. Dengan dukungan karyawan, Latest Program kini bisa memenuhi permintaan yang lebih besar, bahkan mulai ekspor ke wilayah Jakarta.
Dukungan Pemerintah dan Peningkatan Kualitas
Seiring berkembangnya usaha, Encih berhasil mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2022. Pinjaman pertama bernilai Rp 25 juta digunakan untuk membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar. “Kalau alat-alat mah sebenarnya sudah ada. Jadi fokusnya buat nambah bahan produksi,” jelasnya. Kini, kebutuhan singkong mencapai dua ton per minggu, menunjukkan keterlibatan aktif Latest Program dalam meningkatkan produksi.
Proses pengajuan KUR memakan waktu sekitar satu bulan, tetapi setelah pencairan, tahap selanjutnya jauh lebih cepat. Dengan bantuan program pemerintah, usaha ini tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang pesat. Latest Program menjadi contoh nyata bagaimana bantuan keuangan bisa mendorong keberlanjutan usaha rumahan.
“Latest Program ini tidak hanya menghasilkan keripik cipuy renyah, tetapi juga memberi peluang kerja bagi janda dan lansia,” kata Encih. Ini adalah bukti bahwa usaha sederhana bisa menjadi berkah bagi komunitas lokal.
Dalam perjalanannya, Latest Program menunjukkan inisiatif yang tangguh. Dengan menggabungkan keterampilan tradisional dan kreativitas, Encih dan timnya mampu merancang strategi pemasaran yang efektif. Mereka fokus pada kualitas produk, harga kompetitif, dan kepercayaan pelanggan. Selain itu, usaha ini juga mengajarkan pentingnya kerja sama dan ketekunan, dua faktor yang menjadi inti dari Latest Program.
Dengan menjaga konsistensi dan beradaptasi terhadap tantangan, Latest Program terus berkembang. Usaha rumahan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi kelompok rentan. Berkat dukungan komunitas dan program pemerintah, Latest Program menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai usaha kecil-kecilan.
