Kisah Jumairah: Perjuangan Buruh Kebun Menabung 20 Tahun di Ember untuk Berhaji
Kisah Jumairah, seorang buruh kebun asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dengan usaha tekun selama lebih dari 20 tahun, wanita berusia di atas 70 tahun ini akhirnya mewujudkan impian berhaji yang telah ia perjuangkan sejak lama. Kisah Jumairah menggambarkan bagaimana tabungan kecil yang ia kumpulkan dengan sabar dan konsisten bisa mengubah hidupnya secara drastis. Dari kerja keras di sawah dan kebun, ia menyisihkan sebagian penghasilan untuk menyimpan uang dalam ember, yang menjadi simbol perjuangannya menuju Ka’bah.
Perjalanan Menabung di Tengah Kehidupan Sederhana
Jumairah tinggal sendirian setelah berpisah dari suaminya. Setiap hari, ia mengurus sawah kecil miliknya dan bekerja di kebun tetangga untuk menambah penghasilan. Aktivitas ini dijalaninya tanpa henti, bahkan setelah salat subuh, ia terus melanjutkan rutinitasnya dengan memberi makan ayam, membersihkan rumah, dan memasak sendiri sebelum pergi ke kebun. “Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri,” ujarnya, menggambarkan semangat kerja keras yang ia banggakan. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal, Jumairah tak pernah menyerah dalam usahanya menabung, meski hanya Rp 50 ribu dari penghasilan harian Rp 110 ribu.
Menabung di ember menjadi kebiasaan unik yang ia jalani. Ember tersebut menjadi tempat simpanan tabungannya, dengan setiap uang yang ia kumpulkan masuk secara bertahap. Sisihkan uang setiap hari, sesekali mengisi ember dengan tabungan yang terus menumpuk. Kisah Jumairah mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu berasal dari kaya raya, tetapi dari disiplin dan keinginan yang tak pernah padam. “Saya kumpul uang sedikit-sedikit di ember,” tambahnya, sambil mengusap kerudung hitam yang dipakainya, menunjukkan kebanggaan atas pencapaian kecil yang dianggap besar.
Momen Bersejarah: Melihat Ka’bah untuk Pertama Kalinya
Pada tahun 2011, tabungan Jumairah yang mencapai Rp 25 juta akhirnya cukup untuk mendaftarkannya ke Makkah. Perjalanan ke sana terasa sangat berarti bagi wanita tua ini. Setelah menunggu lebih dari satu dekade, ia bisa berdiri di depan Ka’bah, kiblat umat Muslim. Momen pertama kali melihat bangunan suci itu tak bisa dilupakan, bahkan membuat air mata mengalir saat ia menceritakannya. “Saya senang bisa melihat Ka’bah,” katanya kepada tim Media Center Haji, mengungkapkan rasa gembira yang mendalam.
Dalam perjalanan ke Makkah, Jumairah mengalami banyak tantangan. Namun, usaha dan tekad yang ia tanam sejak bertahun-tahun tak pernah berkurang. Meski bekerja di kebun, ia tetap memprioritaskan tabungan untuk berhaji. Pengalaman berhaji memberinya pengalaman spiritual yang tak terlupakan, sekaligus membuktikan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, bisa membuahkan hasil yang luar biasa. Kisah Jumairah menjadi bukti bahwa keinginan untuk beribadah bisa terwujud meski dengan cara yang sederhana dan berkesinambungan.
Kisah Jumairah juga menginspirasi masyarakat sekitarnya. Ia menjadi contoh nyata bahwa usia bukan penghalang untuk meraih impian. Dengan usaha terus-menerus, wanita tua ini mampu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus memenuhi tujuan spiritual. Setelah tiba di Masjidil Haram, ia merasakan kepuasan yang luar biasa, menandai akhir dari perjalanan menabung yang panjang. Meski tidak mengenyam pendidikan, Jumairah mampu memahami nilai-nilai kesabaran dan kerja keras yang menjadi dasar keberhasilannya.
Usaha Jumairah juga menunjukkan bagaimana kehidupan sederhana bisa menciptakan kisah luar biasa. Dari pagi hingga sore, ia menghabiskan waktu di kebun, memanen ubi, dan menabung setiap hari. Pengorbanan ini ia lakukan demi bisa berhaji, sebuah keinginan yang ia pertahankan sejak 20 tahun lalu. Kisah Jumairah mengingatkan bahwa tabungan bisa menjadi sarana untuk menggapai tujuan yang selama ini diimpikan, terlepas dari kondisi ekonomi yang terbatas.
Kisah Jumairah memperlihatkan bagaimana usaha dan konsistensi bisa membawa perubahan. Dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, ia mampu mencapai impian berhaji. Pengalaman ini juga memperkuat keyakinannya bahwa Tuhan selalu membuka jalan bagi orang yang berusaha. Meski memulai dari usaha kecil, Jumairah tetap bersemangat dalam setiap langkahnya. Rasa syukur dan keberhasilan mengisi hari-harinya, menandai pencapaian yang menginspirasi banyak orang.
