BPBD DKI: Waspada Banjir Rob di Pesisir Utara Jakarta hingga 21 Mei 2026
BPBD DKI – Jakarta, Liputan6.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini terkait risiko banjir rob yang berpotensi terjadi di sepanjang wilayah pesisir utara ibu kota hingga 21 Mei 2026. Peringatan ini didasari oleh fenomena pasang air laut maksimum yang diprediksi akan terjadi bersamaan dengan fase bulan baru dan perigee, yaitu titik terdekat bulan dengan bumi. Kombinasi kedua faktor tersebut diperkirakan dapat meningkatkan ketinggian muka air laut secara signifikan, sehingga memicu risiko banjir rob di sejumlah titik.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, data tentang fenomena ini diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok. “Puncak pasang maksimum air laut akan terjadi pada pukul 20.00 hingga 01.00 WIB,” jelas Isnawa. Ia menegaskan bahwa warga di kawasan pesisir harus tetap waspada, terutama selama jam-jam puncak pasang. Fenomena ini, lanjutnya, berpotensi menyebabkan kenaikan air yang cukup signifikan, sehingga memicu genangan di sejumlah titik.
Wilayah yang Berisiko Terkena Banjir Rob
BPBD DKI Jakarta menyebutkan bahwa terdapat 11 kelurahan di wilayah Jakarta Utara yang perlu diwaspadai. Daftar tersebut mencakup Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, dan Pluit. Selain itu, kelurahan Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, serta Tanjung Priok juga berpotensi terdampak. Pihak BPBD menjelaskan bahwa kondisi ketinggian air laut yang naik tajam dapat mengakibatkan air masuk ke daratan, terutama pada daerah yang memiliki elevasi rendah.
Dalam peringatan tersebut, BPBD juga menyebutkan bahwa seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu berisiko mengalami banjir rob dalam beberapa hari ke depan. Wilayah kepulauan ini sudah dikenal rentan terhadap kenaikan permukaan air laut, sehingga fenomena ini bisa memperparah kondisi. Peringatan ini penting karena tingginya risiko kejadian yang bisa mengganggu kehidupan masyarakat, termasuk kerusakan infrastruktur dan gangguan transportasi.
Langkah-Langkah Pencegahan Banjir Rob
Sebagai upaya mencegah dampak banjir rob, BPBD DKI Jakarta mengimbau warga di sekitar wilayah pesisir untuk memperketat pengawasan terhadap kondisi lingkungan. Terutama pada saat pasang tinggi, masyarakat dianjurkan menghindari aktivitas di area pesisir, seperti berjalan kaki di tepi pantai atau menggunakan kendaraan di daerah rawan genangan. Kepala Pelaksana BPBD, Isnawa Adji, menekankan bahwa peningkatan kewaspadaan ini bisa mengurangi risiko terjebak oleh air yang meluap.
Lebih lanjut, BPBD mengingatkan agar sistem drainase lingkungan tetap dalam kondisi prima. Kinerja saluran drainase yang baik dapat mencegah air berlebihan menggenang di permukaan jalan atau permukiman. Dalam beberapa tahun terakhir, Jakarta sering mengalami masalah banjir rob akibat drainase yang tidak memadai, terutama pada musim hujan. “Dengan memastikan saluran air terbuka, kita bisa mengurangi intensitas banjir,” jelas Isnawa.
Pentingnya Peringatan Dini dan Tanggap Cepat
BPBD DKI Jakarta juga menekankan pentingnya memantau informasi terkini melalui kanal resmi mereka. Pihaknya menyediakan data real-time dan update terus-menerus mengenai perubahan tinggi air laut. “Masyarakat dapat mengakses informasi ini untuk memperkaya kesadaran akan risiko yang mungkin terjadi,” imbuh Isnawa. Ia menambahkan, jika ditemukan kondisi darurat seperti air menggenang di permukiman, jembatan rusak, atau kemungkinan terjangan gelombang tinggi, warga segera menghubungi Call Center Jakarta Siaga 112.
Call Center Jakarta Siaga 112 merupakan pusat koordinasi darurat yang dioperasikan oleh Pemprov DKI Jakarta. Unit ini diperkuat oleh pihak BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, dan instansi terkait lainnya. Fungsi utama dari pusat ini adalah memberikan bantuan cepat dalam kondisi darurat, termasuk pemadam kebakaran, evakuasi, dan penanganan banjir. Isnawa mengatakan, dengan koordinasi yang baik, tanggap darurat bisa diatasi lebih efektif.
Pola Pasang Maksimum dan Faktor yang Memengaruhi
Fenomena pasang maksimum air laut yang diperkirakan berlangsung hingga 21 Mei 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, fase bulan baru yang terjadi setiap bulan, saat bulan, matahari, dan bumi berada dalam satu garis lurus. Pada fase ini, gravitasi bulan dan matahari bekerja secara sinergi, sehingga memicu peningkatan pasang air laut. Kedua, perigee, yaitu kondisi bulan berada di titik terdekat dengan bumi. Hal ini menyebabkan gaya gravitasi bulan lebih kuat, sehingga menambah tinggi air laut.
Peningkatan ketinggian air laut yang terjadi bersamaan dengan fenomena tersebut bisa mencapai 1-2 meter di atas rata-rata. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah di daerah pesisir, risiko kejadian banjir rob menjadi semakin besar. BPBD DKI Jakarta berharap masyarakat bisa mengambil langkah pencegahan sejak dini, agar tidak terjadi korban jiwa atau kerugian yang signifikan.
Proyeksi Peningkatan Permukaan Air Laut
Berdasarkan data BMKG, kenaikan permukaan air laut di wilayah Jakarta Utara diprediksi terus meningkat seiring perubahan iklim. BPBD DKI Jakarta menyebutkan bahwa peningkatan ini bukan hanya terkait dengan fase bulan dan perigee, tetapi juga dipengaruhi oleh efek rumah kaca dan pemanasan global. Fenomena seperti ini bisa terjadi setiap tahun, tetapi intensitasnya berbeda-beda.
Untuk mengantisipasi dampak jangka panjang, BPBD menyebutkan bahwa kawasan pesisir perlu memiliki sistem penanggulangan bencana yang lebih lengkap. Ini termasuk pembangunan infrastruktur penahan air, seperti tanggul atau saluran drainase, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai bahaya banjir rob. “Kita perlu bersiap sejak dini, karena ancaman ini tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi bisa merambat ke daerah lain,” ujar Isnawa.
Waspada dan Persiapan untuk Penanganan Darurat
BPBD DKI Jakarta menekankan bahwa warga perlu mem
