Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Bisnis

Visit Agenda: Pengusaha Terbebani Rupiah, Tapi Masih Pikir-pikir Naikkan Harga

Mark Williams 3 mins read 6 views

Pengusaha Masih Pikir-pikir Naikkan Harga Meski Rupiah Melemah Peringatan dari Kadin Indonesia Visit Agenda - Liputan6.com, Jakarta - Kamar Dagang dan

Visit Agenda: Pengusaha Terbebani Rupiah, Tapi Masih Pikir-pikir Naikkan Harga

Pengusaha Masih Pikir-pikir Naikkan Harga Meski Rupiah Melemah

Peringatan dari Kadin Indonesia

Visit Agenda – Liputan6.com, Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan peringatan terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang kini mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, mengatakan kondisi ini memberi tekanan pada daya tahan pengusaha, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global saat ini.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp 17.614 per dolar AS telah memengaruhi berbagai aspek ekonomi, termasuk arus kas perusahaan dan biaya operasional. Sarman menekankan bahwa perubahan ini didorong oleh faktor-faktor global dan domestik, seperti ketegangan geopolitik serta dinamika pasar keuangan internasional. “Pelemahan rupiah menjadi peringatan serius yang perlu diwaspadai oleh pelaku usaha,” tambah Sarman, saat diwawancara Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Menurut Sarman, kondisi rupiah yang terus mengalami tekanan berpotensi menyebabkan penyesuaian harga di tingkat konsumen. Namun, ia menyoroti bahwa pengusaha masih mempertimbangkan keputusan kenaikan harga, terutama dalam upaya mempertahankan margin keuntungan. “Kenaikan harga produk bisa mengurangi daya beli masyarakat, tetapi pengusaha tetap memikirkan strategi jangka panjang dalam menghadapi tantangan ini,” jelasnya.

Analisis Ekonomi dari Ahli Pasar Uang

Ariston Tjendra, Analis Pasar Uang dan Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, mengamini bahwa rupiah memang mencapai level terlemah dalam sejarah. “Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan signifikan, terutama akibat konflik antara AS dan Iran yang belum mereda,” katanya kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Menurut Ariston, faktor utama pelemahan rupiah adalah kenaikan harga minyak dunia serta sentimen negatif dari konflik geopolitik. “Kenaikan harga minyak memperburuk inflasi, sementara konflik AS-Iran menurunkan kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia,” tambahnya. Ia juga memprediksi bahwa rupiah akan terus mengalami tekanan hingga mencapai Rp 18.000 per dolar AS, tergantung pada dinamika politik dan ekonomi global.

Dampak pada UMKM dan Daya Beli Masyarakat

Sarman Simanjorang menyoroti bahwa pelemahan rupiah berdampak signifikan pada UMKM, yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. “Kenaikan biaya impor bahan baku memperburuk kondisi keuangan bisnis kecil, terutama yang bergantung pada bahan baku impor,” jelas Sarman. Ia menambahkan bahwa meskipun harga produk bisa meningkat, pengusaha masih mempertimbangkan daya beli masyarakat yang terganggu akibat inflasi.

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur yang mengimpor bahan baku seperti logam atau elektronik akan merasakan kenaikan biaya produksi, yang bisa menyebabkan kenaikan harga jual. Namun, pengusaha tidak ingin mengorbankan pangsa pasar karena konsumen mungkin berpaling ke produk lokal atau alternatif lain. “Strategi harga harus diatur dengan hati-hati, terutama dalam konteks Visit Agenda yang menekankan keseimbangan antara keuntungan dan daya beli,” kata Sarman.

Peran Visit Agenda dalam Kebijakan Ekonomi

Visit Agenda dianggap sebagai alat penting untuk membantu pengusaha menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah. Dalam beberapa sesi diskusi, para pengusaha diingatkan untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kenaikan harga, terutama terhadap kesejahteraan masyarakat. “Kebijakan Visit Agenda bisa menjadi titik pembelokan jika mampu memberikan solusi berbasis data dan analisis ekonomi yang tepat,” kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas.

Ibrahim memprediksi rupiah akan mencapai Rp 17.612 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026), yang merupakan level terendah sejak sejarah. “Visit Agenda harus menjadi acuan untuk pengambilan keputusan bisnis, terutama dalam menghadapi ketidakpastian nilai tukar,” jelas Ibrahim. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga produk perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas atau inovasi, agar tidak mengurangi daya beli masyarakat.

Dalam konteks ini, pelemahan rupiah menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha dalam menentukan strategi harga. Meski demikian, banyak pelaku usaha tetap mempertimbangkan penyesuaian harga sebagai cara untuk tetap kompetitif dalam pasar nasional maupun internasional. “Visit Agenda bisa menjadi pelengkap untuk memastikan bahwa keputusan bisnis tidak hanya fokus pada profit, tetapi juga keberlanjutan ekonomi,” pungkas Ibrahim.

Gabung diskusi