Topics Covered: Rupiah Melemah, DPR Minta BI Jelaskan Dana Asing
Topics Covered – Di tengah kondisi pasar keuangan global yang terus berubah, DPR RI meminta Bank Indonesia (BI) menjelaskan lebih jauh tentang potensi keluarnya dana asing dari Indonesia. Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai NasDem, Charles Meikyansah, mengapresiasi langkah BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, tetapi mengingatkan bahwa pelemahan rupiah menjadi isu utama yang perlu diungkap.
“Rupiah telah mengalami penurunan signifikan, dan kita perlu memahami apakah ini berdampak pada ketersediaan dana asing atau hanya tekanan sementara,” jelas Charles dalam pertemuan dengan BI, Senin (18/5/2026).
Kondisi inflasi 2,5% dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% mencerminkan perbaikan, tetapi Charles menyoroti bahwa penurunan kurs rupiah ke level 17.600 per USD memicu pertanyaan tentang kebijakan BI dalam menghadapi tekanan inflasi dan volatilitas mata uang. Menurutnya, BI harus memberikan penjelasan transparan mengenai standar “stabilitas rupiah” yang digunakan, terutama dalam konteks tekanan yang semakin meningkat akibat perubahan kebijakan luar negeri.
“Pada saat ekonomi global tidak pasti, rupiah harus tetap menjadi penyangga yang kuat, dan BI perlu memastikan itu terjadi,” tegasnya.
Strategi BI dan Ketersediaan Devisa
Kebijakan BI dalam mengelola cadangan devisa Indonesia, yang mencapai USD 146,2 miliar, menjadi sorotan anggota dewan. Charles menegaskan bahwa BI harus menjelaskan bagaimana cadangan tersebut bisa digunakan untuk mengimbangi tekanan pasar, terutama jika dana asing terus mengalir keluar.
“Dengan tren pelemahan yang berlanjut selama tiga bulan terakhir, BI harus mengungkap strategi intervensi yang mungkin dilakukan untuk mempertahankan nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Analisis dari Doo Financial Futures mengungkap bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh perang AS-Iran di Timur Tengah, tetapi juga oleh sentimen risiko yang menyebar di seluruh dunia. Persetujuan pertemuan antara Presiden Trump dan Xi Jinping dinilai kurang efektif dalam mengatasi ketegangan geopolitik, sehingga dolar AS menguat dan menyebabkan rupiah terkoreksi.
“Situasi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global membuat investor lebih memilih aset yang lebih aman, seperti dolar AS,” kata Lukman Leong.
China, AS, dan Dampak Diplomatik
Di sisi lain, negosiasi antara China dan AS berdampak pada stabilitas rupiah. Meski Beijing menekankan upaya meredakan ketegangan di Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap perang Iran dan AS masih menyebabkan fluktuasi pasar.
“China memperkuat posisi ekonomi global, tetapi AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah aliran dana asing,” imbuh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Charles berharap BI bisa menyusun skenario terburuk jika dana asing terus mengalir keluar. DPR juga menekankan pentingnya kebijakan BI selaras dengan strategi pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.
“Dengan tingkat kepastian yang rendah, kita perlu memahami bagaimana BI menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Dalam rangka meningkatkan keterlibatan publik, BI diharapkan menyusun laporan transparan yang mencakup penyebab pelemahan rupiah, efeknya terhadap sektor ekspor, dan langkah-langkah mitigasi.
“BI harus menunjukkan komitmen untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional, bahkan di tengah tekanan global,” ujar satu anggota DPR.
Analisis menunjukkan bahwa pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter global. Interaksi antara BI dan otoritas keuangan internasional menjadi penting dalam menjaga kepercayaan investor.
“Kepemimpinan BI dalam mengatur dana asing tidak hanya penting bagi ekonomi Indonesia, tetapi juga untuk stabilitas kawasan Asia Tenggara,” tutur ekonom independen.
