Bos BI Pastikan Rupiah Stabil Meski Sempat Turun ke Rp 17.669 per Dolar AS
Kebijakan BI dan Stabilitas Kurs
Topics Covered – Liputan6.com, Jakarta – Dalam pertemuan dengan Komisi XI DPR pada Senin (18/5/2026), Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membahas kebijakan yang memastikan stabilitas rupiah meski nilai tukar mata uang ini sempat menyentuh Rp 17.669 per dolar AS. Menurut Perry, BI tidak terlalu memprioritaskan rata-rata kurs sebagai target utama, melainkan fokus pada volatilitas dan pergerakan pasar yang lebih dinamis.
“Nilai tukar rupiah sejauh ini tetap stabil, meski terjadi fluktuasi sementara. Kita mengedepankan mekanisme pasar untuk memastikan keseimbangan ekonomi,” jelas Perry Warjiyo dalam sesi dialog dengan anggota dewan.
BI mengakui bahwa tekanan eksternal dari berbagai faktor global, seperti perubahan suku bunga AS dan kebijakan moneter internasional, memberikan dampak signifikan terhadap kurs. Namun, dengan pendekatan yang lebih fleksibel, BI berhasil mempertahankan kondisi rupiah dalam kisaran yang terkendali. Perry menekankan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya diukur dari nilai tukar harian, tetapi juga dari kemampuan negara untuk menahan tekanan jangka panjang.
Dalam mempertahankan kestabilan rupiah, BI menggunakan indikator volatilitas sebagai parameter utama. Mekanisme ini melibatkan perhitungan standar deviasi untuk menilai perubahan kurs secara statistik, bukan sekadar kembali ke level sebelumnya. “Kita tidak menargetkan kurs rupiah secara pasti, tetapi memastikan fluktuasi tidak berlebihan,” tutur Perry dalam menjelaskan metode pengawasan BI.
Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mendengar kritik dari anggota dewan. Charles Meikyansah dari Fraksi Partai NasDem mengapresiasi upaya BI dalam menjaga stabilitas ekonomi, tetapi menyoroti tekanan yang terus berlanjut terhadap rupiah. “Meski BI menyatakan stabilitas rupiah terjaga, kondisi kurs yang melemah perlu diperhatikan, terutama dalam konteks Topics Covered global,” ujarnya.
“Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, BI perlu memberikan skenario terburuk agar pemerintah bisa melakukan antisipasi lebih awal,” lanjut Charles, yang menyoroti pentingnya transparansi dalam kebijakan BI.
Dalam konteks global 2025, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari ketidakpastian pasar internasional dan kebijakan moneter negara-negara besar. Perry Warjiyo menyatakan bahwa BI tetap optimis, karena kemampuan ekonomi Indonesia yang memadai dan kebijakan moneter yang terus diakukan secara adaptif. “Stabilitas rupiah adalah prioritas, tetapi kita juga harus memperhatikan pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.
Charles menambahkan bahwa cadangan devisa Indonesia mencapai USD 146,2 miliar, yang menjadi indikator kekuatan ekonomi. Namun, meski jumlahnya cukup besar, ia menegaskan bahwa tekanan kurs yang terus mengalami penurunan perlu diawasi secara ketat. “Tren penurunan kurs dalam tiga bulan terakhir menunjukkan bahwa kita harus waspada terhadap risiko inflasi dan tekanan dari luar,” tambahnya.
BI juga memperhatikan arus modal yang bergerak keluar dari Indonesia. Perry Warjiyo menjelaskan bahwa BI terus memantau transaksi dan intervensi di pasar valuta asing untuk mencegah tekanan yang berlebihan. “Dengan stabilitas kurs yang terjaga, kita dapat memastikan bahwa Topics Covered ekonomi nasional tetap sehat,” katanya.
