Kekayaan Prajogo Pangestu Turun Rp 31,5 Triliun dalam Sehari
Special Plan – Dalam rangka Special Plan yang diumumkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), kekayaan Prajogo Pangestu, salah satu miliarder terkaya di Indonesia, mengalami penurunan signifikan pada 14 Mei 2026. Laporan terbaru dari Forbes menunjukkan bahwa nilai kekayaannya berkurang sekitar USD 1,8 miliar atau setara Rp 31,5 triliun, berdasarkan kurs dolar AS yang berlaku saat ini. Perubahan ini terjadi setelah MSCI melakukan penyesuaian indeks global, yang berdampak pada portofolio investasi Prajogo.
MSCI Menghapus Enam Saham dari Indeks Utama
Prajogo, yang masuk dalam peringkat 153 dunia menurut data billionaire real-time dari Forbes, kini terkena dampak besar dari keputusan rebalancing indeks. Dalam perubahan ini, tiga saham yang dimilikinya—yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)—dihapus dari kategori Global Standard Indexes. Penyesuaian tersebut diumumkan pada Rabu, 13 Mei 2026, dan berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Pada Special Plan kali ini, MSCI tidak hanya menghapus saham-saham tertentu tetapi juga mengevaluasi kinerja perusahaan yang menjadi bagian dari indeks utama. Hasilnya, enam saham domestik dikeluarkan dari Global Standard Indexes, sementara satu saham—PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)—masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Indexes. AMRT menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang terpilih untuk masuk ke kategori ini, meskipun jumlah saham yang dikeluarkan jauh lebih banyak dibandingkan yang ditambahkan.
Perubahan Kepemilikan dan Dampak Ekonomi
Prajogo menyesuaikan kekayaannya melalui penjualan bertahap saham CUAN sejak akhir April hingga awal Mei 2026. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 467,98 miliar, terdiri dari lima perusahaan yang diperdagangkan pada hari-hari berbeda. Akibatnya, kepemilikan Prajogo atas CUAN turun menjadi 81,29%, atau 91.394.285.500 saham, dari sebelumnya 81,64%. Proses ini bagian dari strategi Special Plan yang mengubah struktur investasi dan mempengaruhi dinamika pasar saham.
Rebalancing MSCI tidak hanya memengaruhi kekayaan Prajogo tetapi juga menghadirkan tantangan bagi investor lain. Perusahaan-perusahaan yang dikeluarkan dari indeks utama mungkin mengalami penurunan nilai saham, sementara perusahaan yang masuk ke indeks baru bisa mendapat akses ke pasar internasional. Special Plan ini mencerminkan upaya MSCI untuk memastikan indeks tetap mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan kinerja perusahaan secara akurat.
“Kami melihat pertumbuhan yang signifikan dari perusahaan-perusahaan dalam indeks utama, sehingga keputusan penyesuaian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi data,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi.
Dalam konteks Special Plan, penurunan kekayaan Prajogo mencerminkan dampak langsung dari relokasi saham ke kategori lain. Perusahaan-perusahaan yang dikeluarkan dari Global Standard Indexes kehilangan akses ke investor asing, yang secara tidak langsung memengaruhi kepercayaan pasar terhadap investasi di Indonesia. Selain itu, pengaruh ini bisa mengubah arah strategi keuangan miliarder seperti Prajogo, yang sebelumnya mengandalkan indeks global untuk memperkuat portofolio mereka.
MSCI juga mengumumkan bahwa selain BREN, TPIA, dan CUAN, saham-saham lain seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), serta PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dikeluarkan dari indeks Global Small Cap Indexes. Perubahan ini mengisyaratkan bahwa pasar saham Indonesia sedang mengalami transformasi, terutama dalam Special Plan untuk menyesuaikan standar global.
