Kurs Dolar AS Melonjak ke Rp 17.855-17.857 pada 29 Mei 2026
Special Plan memperlihatkan pergerakan tajam kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pada hari Jumat, 29 Mei 2026. Berdasarkan data terbaru dari Google Finance dan Investing.com, nilai dolar AS hari ini menyentuh level Rp 17.855 hingga Rp 17.857. Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di Rp 17.760, dengan pergerakan harian mencapai rentang Rp 17.772-17.868. Perubahan ini menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam pasar keuangan global.
Faktor yang Mempengaruhi Kurs Dolar AS
Pada minggu keempat tahun 2026, dolar AS menguat 9,58% dibandingkan rupiah, yang menjadi faktor utama dalam Special Plan. Namun, pada hari Jumat, mata uang AS mengalami penurunan kecil terhadap mata uang utama lainnya, terutama karena pengaruh perjanjian antara AS dan Iran yang memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah. Kesepakatan ini akan memberikan waktu tambahan sekitar 60 hari untuk arus perdagangan melalui Selat Hormuz, meskipun masih menunggu persetujuan dari Trump.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada kekuatan dolar AS, menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Meskipun harga minyak turun dan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman berkurang, tekanan investor tetap terbatas karena sikap hati-hati terhadap resolusi yang konsisten. Dalam Special Plan, hal ini menjadi indikator utama pergerakan kurs.
“Pada kondisi konflik geopolitik yang memanas, dolar AS diperkirakan akan tetap lemah,” jelas Massimiliano Castelli, strategi utama UBS Asset Management. “
Menurut Castelli, kestabilan kurs dolar tergantung pada seberapa cepat ketegangan di Timur Tengah berakhir dan seberapa besar dampaknya terhadap pasokan energi global. Penguatan rupiah dalam Special Plan juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter bank sentral Indonesia, serta ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan.
Perbandingan Kurs Mata Uang Global
Di samping perubahan kurs dolar AS, beberapa mata uang utama juga mengalami pergerakan. Euro naik 0,03 persen menjadi US$ 1,1653, sementara poundsterling stabil di US$ 1,3445. Dolar Australia mengalami penurunan kecil, berada di US$ 0,7164, dan dolar Selandia Baru naik 0,2 persen ke US$ 0,5946, mendekati level tertinggi dalam dua minggu terakhir.
Dalam Special Plan, yen Jepang menguat menjadi 159,27 karena pelemahan dolar AS yang luas, melebihi level 160 per dolar yang sempat diintervensi pihak berwenang Jepang. Hal ini menunjukkan kecenderungan investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, terutama di tengah ketidakpastian politik global. Selain itu, Ibrahim Assuabi, pengamat pasar uang, memproyeksikan rupiah akan mendekati Rp 18.000 di hari Jumat berikutnya, berdasarkan tekanan dari konflik geopolitik yang berlangsung.
Konflik antara AS dan Iran, terutama setelah serangan terhadap instalasi di wilayah Selatan Iran, menjadi faktor dominan dalam Special Plan. Situasi ini tidak hanya memengaruhi kurs dolar AS tetapi juga menyebabkan ketidakstabilan di pasar energi global. Pengaruhnya terasa pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz, yang kini menjadi fokus perhatian para investor dan pemerintah.
