Skip to content
beritaterbaik
bd66379f-ae92-4c3e-ba95-2e54682ea02d-0
  • Home
  • News
  • Bisnis
  1. Home
  2. Bisnis
  3. Rupiah Loyo – Waspadai PHK di Industri Tekstil hingga Farmasi
Bisnis

Rupiah Loyo – Waspadai PHK di Industri Tekstil hingga Farmasi

Mary Hernandez Reporter Selasa, 19 Mei 2026 pukul 00:06 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
ab2fd06d-8e6d-4cc6-879c-6ea2b0d7a61d-0

Table of Contents

Toggle
  • Rupiah Loyo, Waspadai PHK di Industri Tekstil hingga Farmasi
    • Dampak Ekonomi pada Industri Kunci
    • Respons dari Para Pengusaha

Rupiah Loyo, Waspadai PHK di Industri Tekstil hingga Farmasi

Rupiah Loyo menimbulkan perhatian serius dalam dunia bisnis Indonesia, terutama di sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Rupiah kembali melemah, mencapai level di atas 17.600 per dolar AS, yang berdampak signifikan terhadap biaya produksi perusahaan. Peristiwa ini memicu kekhawatiran akan penurunan kapasitas produksi dan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam berbagai industri kunci. Menurut Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), pelemahan rupiah yang berkelanjutan bisa memperlebar masalah jika tidak segera dikendalikan. Kenaikan beban operasional menjadi tantangan utama bagi perusahaan, khususnya yang mengandalkan impor untuk kebutuhan produksi.

Dampak Ekonomi pada Industri Kunci

“Pelemahan rupiah yang berkelanjutan akan memperlebar risiko perlambatan produksi, penundaan ekspansi usaha, dan pengurangan jumlah tenaga kerja, khususnya bagi industri dengan struktur biaya impor yang dominan,” terang Rizal saat diwawancara Liputan6.com, Senin (18/5/2026).

Berbagai sektor yang rentan terhadap ketergantungan impor antara lain farmasi, elektronik, otomotif, tekstil, kimia, serta industri makanan dan minuman. Di sektor farmasi, kenaikan biaya bahan baku impor seperti obat-obatan dan alat kemasan berpotensi memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Sementara itu, industri tekstil, yang sebagian besar bahan bakunya diimpor, juga menghadapi tekanan besar karena kenaikan harga bahan baku dan avtur. Tekanan ini tidak hanya memengaruhi operasional perusahaan, tetapi juga berdampak pada daya beli masyarakat, yang terlihat dari penurunan penjualan produk domestik.

Sebagai contoh, di industri manufaktur tekstil, pelemahan rupiah membuat impor benang dan kain lebih mahal, sehingga meningkatkan biaya produksi. Hal ini berpotensi mengurangi margin keuntungan perusahaan, yang jika tidak diatasi, bisa memicu PHK atau penutupan beberapa unit produksi. Sementara di sektor farmasi, kenaikan harga bahan baku impor seperti antibiotik dan bahan bantu produksi memaksa perusahaan untuk menaikkan harga obat, yang berisiko menurunkan daya beli konsumen dan mengurangi permintaan di pasar lokal. Selain itu, sektor transportasi dan logistik juga mengalami tekanan akibat kenaikan harga energi dan suku cadang yang diimpor, memperburuk biaya operasional secara keseluruhan.

Respons dari Para Pengusaha

Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah telah memicu kenaikan biaya operasional di berbagai sektor. “Kami khawatir omzet pelaku usaha semakin tertekan jika pelemahan nilai tukar terus berlangsung, sehingga perusahaan terdorong melakukan pengurangan jumlah karyawan,” ujarnya saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (15/5/2026). Sarman menambahkan bahwa pengusaha mulai waspada ketika rupiah mencapai Rp 17.000 per dolar AS, dengan peringatan bahwa lanjutnya pelemahan akan memperkuat alarm bagi para pengusaha untuk bersiap menghadapi perubahan ekonomi.

Dalam upaya mengatasi masalah Rupiah Loyo, para pengusaha mulai mempertimbangkan alternatif bahan baku lokal dan meningkatkan efisiensi operasional. Beberapa perusahaan juga mempercepat penggunaan dana cadangan untuk menstabilkan produksi. Meski demikian, Sarman menekankan bahwa penguatan rupiah segera terjadi akan membantu industri mengurangi tekanan biaya dan mencegah penurunan produktivitas. “Kita perlu memperkuat nilai tukar rupiah agar sektor manufaktur bisa bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil,” imbuhnya. Kebutuhan akan penyesuaian struktur ekonomi dan kebijakan fiskal menjadi fokus utama dalam upaya memperbaiki kondisi rupiah.

Pelemahan rupiah juga berdampak pada kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia. Beberapa pelaku investasi mulai mencari alternatif pasar lain yang lebih stabil, sehingga mengurangi aliran modal ke sektor manufaktur. Di sisi lain, pemerintah diberi tekanan untuk segera melakukan intervensi, seperti memperkuat cadangan devisa atau mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan inflasi. Jika Rupiah Loyo terus berlanjut, risiko krisis ekonomi dalam jangka pendek menjadi lebih nyata, dengan potensi penurunan ekspor dan peningkatan angka pengangguran.

Sementara itu, risiko PHK tidak hanya terbatas pada sektor manufaktur. Di sektor pertanian, kenaikan harga bahan baku impor seperti pupuk dan mesin pertanian juga berdampak pada keuntungan petani. Di sektor perhotelan dan pariwisata, pelemahan rupiah membuat harga impor makanan dan bahan kemasan lebih tinggi, yang berpotensi mengurangi daya beli wisatawan. Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah (UKM) juga sangat rentan, karena ketergantungan pada impor dan daya tahan keuangan yang lebih rendah. Tantangan ini memaksa mereka untuk melakukan penghematan biaya atau mempercepat proses modernisasi.

Dalam jangka panjang, pelemahan rupiah bisa mengubah struktur ekonomi Indonesia. Jika tidak diatasi, sektor manufaktur akan semakin bergantung pada impor, sementara sektor domestik bisa kehilangan daya saing. Para ahli ekonomi menyarankan kebijakan moneter yang lebih ketat, serta peningkatan daya beli masyarakat melalui subsidi dan program pemerintah. Dengan Rupiah Loyo yang terus berlangsung, industri yang selama ini berkembang pesat kini harus siap menghadapi tantangan baru, termasuk PHK dan penurunan produksi. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat jika situasi tidak segera membaik, sehingga langkah-langkah pencegahan menjadi sangat penting.

Bagikan:

Berita Terkait

75cb4b5e-2e23-4076-8b0c-2d38f1fd0103-0

Key Strategy: Aturan Baru PPH Final UMKM 0,5%, Ini Daftar Wajib Pajak yang Berhak Menerima

30 Mei 2026
054781200_1469523917-agustina_melani-44

Liga Champions PSG Vs Arsenal: Segini Hadiah Uang yang Bakal Diterima Pemenang

30 Mei 2026

New Policy: Pegadaian Salurkan 913 Hewan Kurban pada Idul Adha 1447 H, Jangkau Berbagai Daerah di Indonesia

30 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

75cb4b5e-2e23-4076-8b0c-2d38f1fd0103-0

Key Strategy: Aturan Baru PPH Final UMKM 0,5%, Ini Daftar Wajib Pajak yang Berhak Menerima

1 jam yang lalu
054781200_1469523917-agustina_melani-44

Liga Champions PSG Vs Arsenal: Segini Hadiah Uang yang Bakal Diterima Pemenang

1 jam yang lalu

New Policy: Pegadaian Salurkan 913 Hewan Kurban pada Idul Adha 1447 H, Jangkau Berbagai Daerah di Indonesia

1 jam yang lalu

Latest Program: Influencer dan Selebgram Tak Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5%

1 jam yang lalu
054781200_1469523917-agustina_melani-43

Official Announcement: Michael Dell Salip Mark Zuckerberg jadi Orang Terkaya ke-6 di Dunia

1 jam yang lalu

Kategori

  • Bisnis (795)
  • News (1063)
  • Uncategorized (1)

About Us

beritaterbaik menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • Solving Problems: Jokowi Kaget, Demam ‘Mas Bahlil Ganteng’ Sampai Depan Rumahnya
  • Historic Moment: Polri Buru Bos dan Perekrut Utama di Balik Markas Judi Online di Hayam Wuruk
  • Top 3 News: Aktivitas Terakhir Anggota BPK Haerul Saleh Sebelum Meninggal dalam Kebakaran Rumah
  • Historic Moment: Kapolri Rotasi 9 Kapolda, Ini Daftar Lengkapnya

Quick Links

  • Bisnis
  • News
  • Uncategorized

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 . All rights reserved.