Nilai Tukar Dolar Singapura Melampaui 13.946 terhadap Rupiah, Ekonom Memberikan Penjelasan
New Policy – Dengan adanya new policy terkini, nilai tukar dolar Singapura (SGD) terhadap rupiah (IDR) mencapai level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Data dari Google Finance, Kamis (28/5/2026), menunjukkan bahwa SGD berada di angka 13.946 per IDR, sementara TradingEconomics.com mencatatkan nilai 13.961 per IDR. Kenaikan nilai dolar Singapura mencapai 10,49% secara tahunan dan 3,36% secara bulanan, mencerminkan dinamika pasar yang berubah akibat new policy yang diterapkan oleh pemerintah Singapura.
Konteks Geopolitik dan Kebijakan Ekonomi Internasional
Kondisi pelemahan rupiah dalam satu bulan terakhir tidak terlepas dari dampak new policy global yang sedang berlangsung. Selain tekanan geopolitik dari serangan AS terhadap Iran, new policy dalam menangani krisis utang dan inflasi di berbagai negara juga berkontribusi pada fluktuasi kurs. Kebijakan moneter yang ketat di Amerika Serikat dan negara-negara G20 menciptakan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi, sehingga membuat dolar AS lebih diminati daripada rupiah. Namun, dolar Singapura tetap menguat karena new policy yang didukung oleh kebijakan fiskal stabil dan investasi asing yang tetap masuk.
Dalam wawancara dengan Liputan6.com, ekonom BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa new policy di Singapura dan Malaysia membantu menarik aliran modal asing yang sebelumnya lebih cenderung berpindah ke negara-negara tersebut. “Pengalihan investasi dari Tiongkok ke Singapura dan Malaysia selama masa pandemi menjadi faktor penting, dan new policy saat ini memperkuat posisi kedua negara sebagai pusat keuangan regional,” tambah David. Kondisi ini menunjukkan bahwa new policy tidak hanya mengubah struktur ekonomi lokal tetapi juga memengaruhi dinamika mata uang internasional.
Pelaku Pasar dan Proyeksi Jangka Panjang
Analisis dari Patrick Thomson, CEO EMEA JPMorgan Asset Management, menunjukkan bahwa new policy yang diterapkan oleh AS memberikan dampak jangka panjang terhadap kekuatan dolar. “Kebijakan fiskal AS yang ketat dan risiko utang yang meningkat mengancam keberlanjutan dolar sebagai mata uang utama, sehingga new policy mereka perlu diimbangi dengan langkah-langkah untuk memperkuat kepercayaan investor,” kata Patrick dikutip dari Yahoo Finance. Sementara itu, kebijakan new policy di negara-negara lain seperti Indonesia, Mesir, dan Filipina juga menjadi perhatian karena memengaruhi permintaan akan rupiah di pasar internasional.
Ekonom lain, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah akibat new policy terkini berpotensi mengganggu industri ekspor dan impor. “Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi, sementara perusahaan ekspor mungkin mengalami tekanan karena new policy yang memengaruhi daya beli konsumen luar negeri,” jelas Ibrahim. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 15.425 orang Januari hingga April 2026, yang dipicu oleh fluktuasi mata uang akibat new policy di tingkat global.
Selain itu, new policy terkait dengan kebijakan moneter Bank Indonesia juga menjadi faktor kunci dalam menstabilkan kurs rupiah. Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 52 poin menjadi 17.796 per USD, pemerintah Indonesia berupaya memperkuat new policy melalui kebijakan pengelolaan devisa dan peningkatan daya saing ekonomi. “Penerapan new policy yang lebih agresif bisa membantu mengurangi defisit neraca pembayaran, yang sebelumnya menjadi tantangan utama,” ujar ekonom dari Indosat. Perubahan ini juga memicu perdebatan tentang apakah new policy yang digunakan akan cukup efektif dalam menghadapi tekanan dari luar.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini turun menjadi Rp17.789 per USD dari Rp17.743 sebelumnya. Kondisi ini didorong oleh new policy yang menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Pelemahan rupiah juga terjadi karena permintaan investor terhadap dolar Singapura meningkat setelah penerapan new policy yang memperkuat posisi Singapura sebagai destinasi investasi utama. “Sementara new policy di Malaysia dan Singapura menarik dana asing, rupiah Indonesia tetap mengalami tekanan karena new policy yang lebih lambat dalam menangani inflasi dan utang pemerintah,” kata analis pasar uang dari Bank Permata.
Sebagai dampak dari new policy yang sedang berlangsung, perbedaan tren kurs antara dolar Singapura dan rupiah semakin jelas. Saat ini, dolar Singapura menguat karena ekosistem keuangan yang stabil, sementara rupiah masih melemah akibat kombinasi faktor domestik dan internasional. “Faktor-faktor seperti new policy dalam pembangunan infrastruktur, inflasi yang kembali naik, dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi penentu utama,” jelas ekonom dari Bank Mandiri. Kebijakan new policy ini juga memengaruhi keputusan investasi, karena menunjukkan adanya pergeseran fokus pasar ke negara-negara dengan stabilitas lebih baik.
