New Policy: Sumatera Butuh Sistem Kelistrikan Terintegrasi Setelah Blackout
New Policy menjadi perhatian utama setelah kejadian blackout yang terjadi di beberapa daerah Sumatera menggugah kebutuhan perbaikan infrastruktur kelistrikan. Dalam wawancara dengan Liputan6.com, Jakarta, Sofyano Zakaria, direktur Puskepi, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperkuat jaringan transmisi utama di pulau tersebut sebagai langkah strategis mengatasi masalah ketahanan listrik. Menurutnya, pengembangan transmisi 500 kilovolt (kV), 275 kV, dan jaringan 150 kV yang tercantum dalam RUPTL 2025–2034 adalah bagian kunci dari upaya menciptakan sistem yang terpadu dan mampu meminimalkan risiko pemadaman besar-besaran di Aceh, Sumatera Barat, hingga Lampung.
Strategi Penguatan Infrastruktur Kelistrikan
New Policy menekankan perlunya peningkatan kapasitas transmisi listrik untuk menjamin keandalan pasokan energi. Sofyano Zakaria menyatakan bahwa jaringan utama yang lebih kuat akan membantu mengurangi ketergantungan pada jaringan lokal yang rentan gangguan. Selain itu, kebijakan ini menawarkan peningkatan kemampuan pengaturan beban listrik secara real-time, yang bisa memitigasi kejadian blackout akibat kesalahan distribusi atau kerusakan infrastruktur. Penekanan pada teknologi digital dan prediktif diharapkan mampu meningkatkan respons kejadian pemadaman dan mempercepat pemulihan layanan.
Kebijakan ini juga mencakup rencana pengembangan pembangkit listrik yang lebih responsif terhadap permintaan energi. Dengan penerapan sistem interkoneksi yang lebih canggih, keseluruhan pulau Sumatera bisa lebih cepat beradaptasi dengan fluktuasi kebutuhan listrik. Sofyano menjelaskan bahwa upaya ini bukan hanya tentang memperbaiki sistem yang rusak, tetapi juga mengubah cara pengelolaan energi secara keseluruhan. “Kita perlu sistem yang lebih fleksibel dan bisa beradaptasi dengan berbagai kondisi, baik cuaca ekstrem maupun peningkatan permintaan energi,” tegasnya.
Pelajaran dari Kebocoran Pasokan Listrik
Blackout yang terjadi di Sumatera menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dalam merancang New Policy. Menurut data Puskepi, insiden seperti ini telah terjadi lebih dari 15 kali dalam setahun terakhir, terutama di daerah dengan jaringan kelistrikan yang belum terpadu. Sofyano Zakaria menyoroti bahwa pemadaman listrik tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi dan produksi industri. “Kita harus memahami bahwa sistem kelistrikan yang baik adalah investasi jangka panjang yang menyangkut kestabilan negara,” jelasnya.
Dalam konteks internasional, kebijakan New Policy mengacu pada pengalaman negara-negara maju seperti Australia, Inggris, Spanyol, dan Portugal yang juga menghadapi masalah serupa. Sebagai contoh, Australia Selatan mengalami blackout besar pada 2016 akibat cuaca ekstrem yang merusak jaringan transmisi. New Policy berharap menghindari situasi serupa dengan membangun sistem yang lebih kuat dan terkoordinasi. Sofyano menyampaikan bahwa kejadian seperti ini menunjukkan pentingnya pengelolaan energi yang terpusat dan mengintegrasikan berbagai wilayah dalam satu sistem.
Kebijakan ini juga memperhatikan aspek kesiapsiagaan di masa depan. Dengan penerapan teknologi prediktif, operator bisa mendeteksi potensi kerusakan sebelum terjadi. Sofyano Zakaria menjelaskan bahwa proyek seperti transmisi 500 kV tidak hanya memperkuat jaringan utama, tetapi juga memungkinkan penggunaan energi terbarukan yang lebih efisien. “Jika sistem terintegrasi, kita bisa memanfaatkan sumber energi yang lebih beragam, sehingga mengurangi risiko ketergantungan pada satu sumber,” katanya.
Menurut Sofyano, New Policy juga akan meningkatkan kecepatan pemulihan setelah terjadi gangguan. Dalam sistem interkoneksi yang lebih luas, koordinasi antar wilayah dan pihak terkait bisa dilakukan secara lebih efektif. Ini berarti, jika terjadi blackout di satu daerah, sistem bisa segera mengalihkan beban ke wilayah lain. “Koordinasi selama proses normalisasi sistem menjadi lebih mudah karena semua wilayah terhubung dalam satu jaringan,” tambahnya. Dengan demikian, New Policy tidak hanya mengatasi masalah saat ini, tetapi juga membentuk fondasi untuk sistem kelistrikan yang lebih resilient di masa depan.
