Penjelasan BI Usai Rupiah Tembus 17.660 per USD
Main Agenda – Di tengah perubahan dinamis pasar keuangan global, Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa rupiah tetap stabil meskipun tercatat melemah hingga 17.660 per USD. Hal ini menjadi sorotan utama dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, yang dihadiri oleh Gubernur BI Perry Warjiyo. Dalam kesempatan tersebut, Perry menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah dinilai berdasarkan tingkat volatilitas, bukan hanya angka kurs tertentu. “Main Agenda BI adalah menjaga stabilitas rupiah melalui pendekatan yang berfokus pada pengendalian volatilitas,” kata Perry, Senin (18/5/2026). Hal ini menunjukkan bahwa BI tidak hanya memperhatikan pergerakan mata uang secara harian, tetapi juga menganalisis tren jangka menengah untuk menilai kesehatan ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah yang mencapai 17.660 per USD memang mencerminkan tekanan eksternal yang berkekuatan, terutama terkait ketidakpastian pasar keuangan internasional. Namun, Perry menegaskan bahwa angka ini masih dalam batas wajar dan tidak menyebabkan ketidakstabilan ekonomi yang signifikan. “Main Agenda BI adalah menilai stabilitas berdasarkan volatilitas rata-rata 20 hari, bukan sekadar pergerakan harian,” jelasnya. Pendekatan ini bertujuan mengurangi risiko fluktuasi tajam yang bisa merusak daya beli masyarakat dan investasi asing.
“Kami cek secara year to date sampai sekarang volatilitasnya sekitar 5,4%, yang sebenarnya masih stabil,”
Kebijakan BI dalam menjaga stabilitas rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi domestik. Perry menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5% pada 2025 serta inflasi yang berada di bawah target 2,5% menjadi faktor pendukung. Meski demikian, kenaikan kurs rupiah terhadap USD tidak bisa diabaikan, terutama karena tekanan dari neraca perdagangan dan dinamika suku bunga di luar negeri. “Main Agenda BI adalah memastikan bahwa nilai tukar rupiah tetap seimbang dengan pertumbuhan ekonomi,” tambah Perry, menekankan bahwa stabilitas nilai tukar adalah bagian integral dari kebijakan moneter yang diterapkan.
Stabilitas Rupiah dan Faktor Pendorongnya
Stabilitas rupiah sejauh ini diukur berdasarkan indikator volatilitas, yaitu perubahan kurs dalam jangka waktu tertentu. Perry menegaskan bahwa BI tidak hanya terpaku pada angka kurs harian, tetapi juga menganalisis pergerakan mata uang secara berkelanjutan untuk mengantisipasi risiko. “Main Agenda kami adalah menjaga volatilitas rupiah agar tetap terkendali, terlepas dari kondisi pasar yang fluktuatif,” ujarnya. Kebijakan ini berlaku terutama dalam situasi ketika ekonomi global mengalami perubahan cepat, seperti kenaikan suku bunga di AS atau tekanan geopolitik yang memengaruhi arus modal.
Kondisi pasar keuangan dunia terutama dikaitkan dengan kebijakan moneter yang ketat dari Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve). Perry menyebutkan bahwa kebijakan BI tetap fleksibel dalam menghadapi situasi seperti ini. “BI berupaya mempertahankan kepercayaan pasar dengan menciptakan lingkungan keuangan yang konsisten, meskipun terjadi perubahan di luar negeri,” tambahnya. Dengan menjaga stabilitas rupiah, BI berperan penting dalam mendukung investasi dan konsumsi masyarakat, serta mencegah tekanan inflasi yang berlebihan.
Tantangan dan Strategi BI dalam Mengatasi Fluktuasi
Perry juga menjelaskan bahwa kebijakan BI memiliki beberapa strategi untuk menghadapi fluktuasi kurs rupiah. Salah satunya adalah pengendalian cadangan devisa, yang mencapai USD 146,2 miliar per 2025. “Main Agenda BI adalah memastikan cadangan devisa tetap cukup untuk mendukung stabilitas ekonomi,” kata Perry. Selain itu, BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan sektor swasta untuk menekan defisit neraca pembayaran dan meningkatkan daya saing produk ekspor.
Kebijakan BI yang mengedepankan stabilitas nilai tukar memang dianggap sebagai main agenda utama dalam kebijakan moneter. Namun, kekhawatiran terhadap tekanan eksternal terus muncul, terutama dari kalangan anggota DPR. Charles Meikyansah, dari Fraksi Partai NasDem, menyatakan bahwa meskipun BI mengklaim rupiah stabil, kurs yang melemah hingga 17.660 per USD menunjukkan adanya tekanan fundamental yang perlu diwaspadai. “Main Agenda BI adalah menjaga stabilitas, tetapi kita perlu memastikan bahwa rupiah tidak melemah di luar batas wajar,” ujarnya dalam rapat kerja tersebut.
Charles menyoroti bahwa fluktuasi kurs rupiah yang terjadi saat ini sejalan dengan kondisi ekonomi global yang sedang berubah. “Kami mengapresiasi upaya BI dalam menjaga stabilitas, tetapi tekanan terhadap rupiah yang meningkat membutuhkan respons lebih cepat,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa BI perlu meningkatkan transparansi dalam menilai stabilitas rupiah, terutama mengingat peran kurs sebagai indikator kepercayaan investor. “Main Agenda BI adalah menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif, dan rupiah yang stabil adalah bagian penting dari itu,” kata Charles.
