Purbaya Buka Pembicaraan tentang Kinerja Bea Cukai dan Reaksi Prabowo
Latest Program menjadi salah satu topik yang dibahas dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta, Selasa (19/5/2026). Dalam acara tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti peningkatan kinerja pegawai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC), yang menunjukkan perbaikan signifikan. Ia menjelaskan bahwa realisasi penerimaan bea dan cukai hingga April 2026 mencapai Rp 100,6 triliun, tumbuh 0,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Purbaya menyebutkan, capaian ini menggambarkan upaya konsisten dalam Latest Program yang bertujuan meningkatkan efisiensi pengumpulan pajak dan bea cukai.
Mengapa Kinerja Bea Cukai Mulai Berubah?
Purbaya mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan pertama 2026, penerimaan bea cukai sempat menurun secara signifikan—14% pada Januari, 14,7% pada Februari, dan 12,6% pada Maret. Namun, kondisi kini berbeda. “Jadi keliatannya orang Bea Cukai sudah mulai serius kerjanya,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Latest Program telah menghasilkan perubahan yang mengarah pada peningkatan kepatuhan dan transparansi di sektor penerimaan.
“Kata Presiden, begitu saya katakan Pak sudah membaik, Presiden ketawa, mereka sudah mulai pada takut ya, iya kayaknya pak,”
Presiden Prabowo Subianto, yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut, merespons dengan tawa saat mendengar kinerja DJBC yang mulai menunjukkan peningkatan. Ia menyebut bahwa pegawai bea cukai kini lebih berhati-hati dalam melakukan penindakan dan menghindari kesalahan. Reaksi positif ini menjadi bukti bahwa Latest Program tidak hanya dijalankan di tingkat teknis, tetapi juga mencapai perhatian pemerintah tingkat tinggi.
Ekspor dan Kinerja KPPBC TMP C Sumbawa
Dalam Latest Program, Purbaya juga menyoroti kinerja KPPBC TMP C Sumbawa yang mencapai realisasi penerimaan negara sebesar Rp 1,44 triliun dalam empat bulan pertama 2026. Angka ini melebihi dua kali target tahunan pemerintah, atau setara 228,1% dari rencana awal. Kepala KPPBC TMP C Sumbawa, Sugeng Hariyanto, menjelaskan bahwa capaian ini didorong oleh ekspor konsentrat mineral yang masih menikmati relaksasi izin hingga April 2026.
“Kontributor terbesar berasal dari Bea Keluar senilai Rp 1,43 triliun, disusul Bea Masuk sebesar Rp 14,28 miliar dan Cukai Rp 274 juta,”
Kenaikan harga komoditas global, terutama konsentrat tembaga, juga menjadi faktor penting dalam peningkatan penerimaan. Dengan implementasi Latest Program, pemerintah berupaya memperkuat sistem pengumpulan pajak dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan transaksi perdagangan internasional.
Transformasi Sistem Bea Cukai dalam Era Hilirisasi
Purbaya menekankan bahwa perubahan besar sedang berlangsung, terutama dalam konteks transformasi industri pertambangan ke tahap hilirisasi. Kebijakan terkait smelter dan tarif bea keluar emas yang mulai berlaku akhir 2025 menjadi bagian dari strategi Latest Program. “Artinya, capaian ini merupakan ‘windfall’ atau keuntungan tak terduga yang menjadi modal penting bagi negara di masa transisi menuju hilirisasi penuh,” ujarnya.
Transformasi ini tidak hanya menyangkut penerimaan negara, tetapi juga mengubah pola kerja pegawai bea cukai. Dengan adanya penegakan aturan yang lebih ketat, mereka mulai lebih waspada terhadap penyimpangan. Purbaya menambahkan bahwa penerimaan bea cukai yang meningkat merupakan bukti bahwa kebijakan Latest Program berhasil menarik perhatian dan mengubah mindset para petugas di lapangan.
Kenaikan Penindakan Barang Ilegal
Diluar angka penerimaan, Purbaya menyoroti peningkatan penindakan atas barang ilegal seperti rokok dan narkotika. Jumlah batang rokok ilegal yang disita meningkat 125,8% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 684 juta batang. Sementara kasus narkotika naik 10,8% secara tahunan, mencapai 522 kasus. Kenaikan ini juga mencerminkan keberhasilan Latest Program dalam memperketat pengawasan dan penegakan hukum di sektor kenaikan.
Impact pada Pertumbuhan Ekonomi Regional
Keberhasilan penerimaan bea cukai di Sumbawa dan daerah lain menciptakan efek berantai positif. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 13,64% pada kuartal I 2026, tinggi di wilayah Bali-Nusa Tenggara. Purbaya menjelaskan bahwa aktivitas logistik dan usaha jasa pendukung meningkat, sementara sektor perdagangan lokal juga ikut berkembang. “Latest Program ini tidak hanya berdampak pada penerimaan negara, tetapi juga memacu dinamika ekonomi daerah,” katanya.
Dalam konteks ini, Purbaya menggarisbawahi bahwa kinerja DJBC yang meningkat merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat sistem keuangan negara. Ia meminta agar pertumbuhan ini dijaga agar tidak hanya terjadi pada sementara periode, tetapi bisa berlanjut secara berkelanjutan. “Ini adalah salah satu buah dari Latest Program yang kita lakukan selama ini,” tutup Purbaya.
