Key Strategy: Rupiah Diprediksi Turun ke Rp18.000 Melawan Dolar AS di 29 Mei 2026
Key Strategy – Jakarta, Liputan6.com – Rupiah kembali diperkirakan akan melemah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, dengan kemungkinan menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Analisis dari Ibrahim Assuaibi menunjukkan bahwa konflik geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi faktor utama yang memperkuat tekanan terhadap mata uang lokal.
“Key Strategy menilai bahwa rupiah hari Jumat ini akan melanjutkan pelemahan ke level Rp18.000. Apalagi kemarin rupiah sudah melemah 70 poin menjadi Rp17.870 per dolar AS,” kata Ibrahim Assuaibi kepada Liputan6.com, Jumat (29/5/2026).
Ketegangan Geopolitik Mengancam Stabilitas Pasar
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, memberikan dampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Setelah serangan terhadap instalasi militer di wilayah Selatan Iran, risiko eskalasi konflik semakin meningkat, yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global. Ancaman serangan terhadap Oman serta pengerahan kapal militer AS ke Israel juga memperbesar volatilitas pasar.
Menurut Ibrahim, ketegangan geopolitik ini memicu permintaan terhadap aset aman, seperti dolar AS, yang berdampak langsung pada pelemahan rupiah. Dengan harga minyak global yang melonjak hingga USD 96, ekonomi global menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
“Key Strategy memperkirakan bahwa inflasi global yang dipicu oleh tekanan geopolitik akan memperkuat ekspektasi pelemahan rupiah. Terutama karena harga minyak yang tinggi membuat biaya impor semakin mahal,” jelas Ibrahim.
Policy dari Federal Reserve Memperkuat Tekanan
Key Strategy juga mengungkap bahwa kebijakan moneter Federal Reserve menjadi faktor pendorong utama pelemahan rupiah. Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, menyoroti bahwa inflasi tetap menjadi prioritas utama bank sentral AS, sehingga menimbulkan kesan bahwa suku bunga akan dipertahankan atau dinaikkan dalam waktu dekat.
“Key Strategy menilai bahwa kebijakan Federal Reserve menciptakan tekanan eksternal terhadap rupiah. Pernyataan dari Kashkari mengindikasikan bahwa 52,3 persen ekonom menunggu keputusan suku bunga yang akan memperkuat dolar AS,” pungkas Ibrahim.
Dengan peningkatan suku bunga AS, nilai tukar dolar terhadap rupiah menjadi lebih kuat, yang berdampak pada biaya impor dan tekanan terhadap sektor riil. Ibrahim menambahkan bahwa kebijakan ini tidak hanya memengaruhi nilai tukar, tetapi juga meningkatkan risiko kenaikan harga barang modal dan bahan baku.
Depresiasi Rupiah Menekan Sektor Produktif
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan pada sektor riil. Perusahaan yang mengimpor bahan baku, mesin, dan barang modal mengalami kenaikan biaya operasional yang signifikan, yang berpotensi mengurangi margin keuntungan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Menurut Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, key strategy dalam memantau rupiah memperlihatkan bahwa stabilitas ekonomi kian terganggu. Kenaikan inflasi impor dan biaya logistik akibat pelemahan nilai tukar membuat konsumsi domestik dan daya beli masyarakat terbatasi.
“Key Strategy menunjukkan bahwa rupiah yang terus melemah berpotensi memperparah tekanan pada sektor industri. Perusahaan importir akan menghadapi biaya yang lebih tinggi, sementara eksportir justru mendapat manfaat dari peningkatan nilai tukar dolar,” ujar Nanang.
Dalam jangka panjang, key strategy mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkelanjutan bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional. Meski dolar AS tetap menjadi aset yang diminati, rupiah perlu kebijakan stabilisasi untuk memperkuat daya tukar dan mengurangi risiko inflasi yang meningkat.
