Pertamina’s Key Strategy: New Gas Contracts in South Sumatra and Cikarang
Strategic Collaborations to Boost National Gas Utilization
Key Strategy – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melanjutkan implementasi Key Strategy melalui penandatanganan dua perjanjian jual beli gas (PJBG) baru, yang dilakukan oleh anak perusahaan Pertamina, PT Pertamina EP, dengan PT Pertamina Hulu Rokan serta PT Cikarang Listrindo. Acara ini diadakan dalam rangka Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, sebagai wujud komitmen perusahaan untuk memperkuat pemanfaatan sumber daya energi bumi. Corporate Secretary PHE, Hermansyah Y Nasroen, menjelaskan bahwa ini merupakan bagian dari Key Strategy yang berfokus pada pengoptimalan ekosistem energi nasional, khususnya dalam mendukung sektor hulu migas.
“Kemitraan internal Pertamina Group menjadi pondasi utama Key Strategy kami, karena sinergi ini memastikan pengelolaan sumber daya energi bumi secara efisien dan berkelanjutan. Dengan penggunaan gas dari produksi lokal, kami dapat meningkatkan ketergantungan energi nasional serta memperluas jaringan pasokan ke industri-industri strategis,” kata Hermansyah, Sabtu (30/5/2026).
Enhancing National Energy Supply through Local Resources
Pertamina EP dan Pertamina Hulu Rokan telah menyetujui PJBG pertama yang menargetkan gas bumi dari Wilayah Kerja Zona 4/Aset 2 di South Sumatra (Sumsel). Kontrak ini dirancang untuk memastikan pasokan energi stabil sepanjang periode 2026–2030, dengan volume total mencapai 37.981 BBTU. Hermansyah menegaskan bahwa strategi ini bukan hanya untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi, yang menjadi fokus Key Strategy Pertamina.
Kerja sama kedua dilakukan antara PT Pertamina EP dan PT Cikarang Listrindo, dengan tujuan memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di kawasan industri Jababeka serta MM2100, Cikarang. Gas yang dihasilkan dari struktur Akasia Bagus akan dialirkan dalam jumlah 6,18 MMSCFD, yang disesuaikan dengan kebutuhan industri sektor kelistrikan. Dalam rencana penyaluran, volume gas diatur secara bertahap, mulai dari 11 BBTUD pada 2026 hingga 21 BBTUD untuk tahun 2028–2030, sebagai bagian dari Key Strategy untuk menjamin keandalan pasokan energi.
Key Strategy Pertamina tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemanfaatan maksimal sumber daya lokal. Dengan dua kontrak baru ini, perusahaan menunjukkan komitmen untuk memperluas jaringan distribusi gas bumi, sekaligus mendorong pengembangan sektor energi di daerah yang kurang terjangkau. Hermansyah menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan memperkuat ekosistem energi nasional, seiring dengan pertumbuhan permintaan industri dan kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Penandatanganan kontrak tersebut juga menegaskan peran Pertamina sebagai salah satu pelaku utama sektor hulu migas di Indonesia. Dengan menggabungkan kekuatan produksi dari Pertamina Hulu Rokan dan Pertamina EP, perusahaan dapat mengoptimalkan alur pasokan energi, sekaligus menekankan Key Strategy dalam pembangunan infrastruktur energi. PHE akan memastikan bahwa kebijakan ini berdampak pada peningkatan ketersediaan energi bersih, yang menjadi prioritas nasional.
“Kebijakan Key Strategy kami didasari oleh kebutuhan untuk menyeimbangkan antara produksi dan konsumsi energi, terutama dalam menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim. Dengan mengurangi emisi karbon melalui penggunaan gas bumi, kami juga berkontribusi pada upaya pemerintah untuk mencapai target transisi energi yang lebih hijau,” ujar Hermansyah.
Perluasan jaringan pasokan gas bumi ini akan memberikan dampak signifikan pada perekonomian regional. Di South Sumatra, kontrak pertama akan mendukung industri sektor hulu migas, sementara di Cikarang, kontrak kedua berfokus pada kebutuhan listrik industri. Hermansyah menambahkan bahwa Key Strategy ini bertujuan memastikan aksesibilitas energi bagi sektor ekonomi nasional, sekaligus menekankan pentingnya kerja sama internal dalam membangun kapasitas produksi energi bumi. Dengan kontrak ini, Pertamina berharap mampu mengurangi kesenjangan pasokan energi di berbagai daerah sekaligus meningkatkan kinerja operasional perusahaan.
