Pemerintah Siapkan 24 Ribu Ha di Jawa untuk PLTS
Key Strategy – Pemerintah tengah mengejar strategi utama dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sebagai bagian dari upaya ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Kementerian ATR/BPN telah mengidentifikasi sekitar 24.000 hektare lahan di Pulau Jawa yang akan digunakan untuk pembangunan berbagai PLTS. Ini bertujuan mempercepat pencapaian target 100 GW energi surya yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai bagian dari agenda nasional transisi energi hijau.
Strategi Terpadu untuk Mendorong Energi Bersih
Strategi ini menjadi bagian dari langkah besar pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memperkuat keberlanjutan lingkungan. Dengan menyiapkan lahan seluas 24.000 hektare, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas listrik tenaga surya secara signifikan. Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM, menjelaskan bahwa koordinasi antara tiga lembaga—ESDM, ATR/BPN, dan PT PLN—menjadi kunci sukses dalam mengalokasikan lahan secara efisien. “Ketersediaan lahan yang kita temukan bersama Kementerian ESDM dan ATR/BPN mencapai 24.000 hektare. Ini menjadi dasar kerja sama antara tiga lembaga tersebut untuk mewujudkan infrastruktur energi yang berkualitas,” ujarnya.
Strategi key strategy ini tidak hanya fokus pada pengembangan PLTS, tetapi juga mencakup perencanaan yang terintegrasi dengan kebutuhan infrastruktur pendukung seperti jaringan transmisi dan gardu induk. Yuliot menekankan bahwa selarasnya antara pembangunan PLTS dan sistem distribusi energi menjadi prioritas, agar listrik yang dihasilkan dapat disalurkan secara optimal ke berbagai wilayah.
Pengurangan Penggunaan Diesel di Wilayah Terpencil
Sebagai bagian dari key strategy yang lebih luas, pemerintah juga mengusung strategi dedieselisasi untuk wilayah terpencil. Program ini bertujuan mengurangi penggunaan diesel yang selama ini menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Dengan menggantinya dengan PLTS, pemerintah berharap mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi dampak lingkungan dari pembakaran bahan bakar minyak.
Dalam konteks ini, KEK Industropolis Batang telah menyetujui pengembangan PLTS skala besar dengan kapasitas 100-200 Megawatt. Proyek ini menempati lahan seluas 200 hektare di Batang, Jawa Tengah, dan akan didukung melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang. Ngurah Wirawan, Direktur Utama KEK Industropolis Batang, menegaskan bahwa proyek ini menjadi salah satu pilar energi bersih yang kompetitif. “Kehadiran PLTS skala besar dan teknologi air mutakhir ini memberikan solusi konkret bagi investor global yang mencari destinasi berbasis ESG. Kami sedang membangun masa depan industri hijau Indonesia,” tambahnya.
Kerja sama dengan Iconic Energy Kft dan Hungarian Water Partnership (HWP) semakin memperkuat key strategy dalam pengembangan PLTS. Melalui aliansi ini, teknologi pengolahan air bersih dan sistem monitoring kualitas air terbaik dari Hongaria akan diterapkan di kawasan. Proyek pilot pengelolaan air terintegrasi menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem utilitas kelas dunia yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Strategi key strategy ini juga mencakup perencanaan menyeluruh untuk mengoptimalkan penggunaan lahan. Selain 24.000 hektare di Jawa, pemerintah mengeksplorasi lahan potensial di daerah lain, seperti Sumatera dan Kalimantan, sebagai bagian dari keseluruhan rencana 100 GW. Yuliot Tanjung menyebutkan bahwa pemanfaatan lahan yang tepat sangat penting untuk memastikan keberhasilan proyek ini. “Kita perlu memastikan bahwa lahan yang dialokasikan untuk PLTS tidak hanya memenuhi kebutuhan teknis, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal,” jelasnya.
Key strategy dalam pengembangan PLTS dirancang untuk menciptakan sinergi antara sektor energi, pertanian, dan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Pemerintah berharap melalui ini, lahan yang digunakan untuk PLTS bisa menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi tekanan pada lingkungan. Program ini juga diharapkan mendorong investasi swasta dan menciptakan lapangan kerja baru di bidang energi hijau.
