Respons Protes Petani, Anak Usaha Bulog Jamin Tebu Lokal Terserap
Key Discussion – Berikut ini adalah Key Discussion mengenai pernyataan PT Gendhis Multi Manis, anak usaha Perum Bulog, yang menegaskan komitmen untuk menyerap hasil panen tebu dari petani lokal. Perusahaan ini berjanji akan mengalihkan produksi ke daerah seperti Blora atau wilayah lain yang lebih strategis. Dalam wawancara, Sri Emilia Mudiyanti, Plt Direktur Utama PT GMM, menyebutkan bahwa tim khusus telah dibentuk untuk menangani aspirasi petani dan menyusun skema penyerapan yang lebih optimal. Key Discussion ini juga menyoroti masalah pasokan tebu yang terganggu akibat peningkatan impor gula rafinasi.
Protes Petani dan Kebijakan Perum Bulog
Penjelasan dari PT GMM diberikan sebagai tanggapan atas aksi unjuk rasa petani tebu yang berlangsung di depan pabrik gula. Para petani mengeluhkan karena tebu hasil panen mereka tidak laku terjual. Emilia menjelaskan bahwa GMM belum beroperasi penuh akibat kendala teknis mesin. Sebagai bagian dari Perum Bulog, kebijakan penyerapan harus melewati proses evaluasi dan tata kelola yang ketat. Key Discussion dalam konteks ini menyoroti bagaimana kebijakan tersebut berdampak langsung pada keberlanjutan usaha petani.
“Kami sudah membentuk tim untuk membantu proses penyerapan dan pengalihan tebu petani ke pabrik gula lainnya. Saat ini juga sedang dilakukan pendataan wilayah-wilayah yang dapat membantu penyerapan tebu petani,” ujar Emilia, mengutip keterangan resmi, Senin (1/6/2026).
Dalam Key Discussion, para petani menyampaikan kekhawatiran terkait harga molase yang turun drastis hingga Rp1.000 per liter pada Maret 2026. “Ini persoalan besar. Jadi yang memukul petani kita, kita sendiri, molasenya tidak laku. Jadi harga turun terus, dulu Rp1.900 (per liter). Jadi aneh, kita satu sisi impor, tetapi produksi kita tidak laku,” sebut Emilia. Hal ini memicu kekhawatiran tentang efektivitas sistem distribusi gula nasional yang saat ini dianggap tidak seimbang.
Kebijakan Impor dan Dampak pada Pasar Lokal
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyoroti dampak banjir impor gula rafinasi yang mengganggu pasar lokal. Ia mengungkapkan bahwa gula rafinasi yang seharusnya diolah oleh industri justru masuk langsung ke lapangan, membuat harga gula konsumsi turun. Key Discussion dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Rabu (8/4/2026), menegaskan bahwa fenomena ini mengurangi daya saing produk lokal dan memperparah kesulitan petani.
“Yang terjadi di lapangan, Ibu, kita buka saja, rafinasi banjir, alau bocor, sedikit-sedikit, ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung telepon karena ada laporan dari petani di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulsel. Itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar,” kata Amran dalam raker di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Key Discussion terkait dengan peran Bulog sebagai pelaku utama distribusi gula nasional juga menyoroti kesenjangan antara produksi dan kebutuhan. Dengan proyeksi 2025, luas panen tebu mencapai 563.357 hektare, dengan produktivitas GKP sebesar 4,74 ton per hektare. Produksi diperkirakan mencapai 2,67 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 6,7 juta ton. Hal ini menunjukkan adanya defisit yang perlu diperbaiki melalui kebijakan penyerapan yang lebih adil.
Upaya Meningkatkan Keterlibatan Petani
PT GMM berencana meningkatkan keterlibatan langsung petani melalui skema baru yang dirancang tim khusus. Key Discussion ini menggarisbawahi kebutuhan untuk memperkuat hubungan antara produsen dan pihak penyedia bahan baku. Selain itu, perusahaan juga mengadakan sesi diskusi dengan para petani untuk memahami permasalahan mereka secara mendalam. Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi kenaikan harga dan penyerapan tebu lokal.
“Selain penyerapan, kita juga fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas. Kami ingin menyusun model kerja yang lebih responsif terhadap kebutuhan petani,” tambah Emilia dalam Key Discussion yang diadakan di kantor pusat GMM.
Dalam Key Discussion, para petani menginginkan kebijakan yang lebih transparan dan adil. Mereka menegaskan bahwa harga gula yang terus turun berdampak signifikan pada pendapatan. PT GMM berkomitmen untuk memperbaiki skema ini, meskipun masih ada tantangan teknis dan logistik yang perlu diatasi. Dengan kebijakan yang lebih efektif, Key Discussion ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembalikan kepercayaan petani pada sistem distribusi gula nasional.
