CEO Boeing: Pesanan 200 Pesawat China Hanyalah Awal, Potensi Tembus 700 Unit
Key Discussion – Liputan6.com, Jakarta – Dalam kunjungan ke Tiongkok bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump, CEO Boeing, Kelly Ortberg, mengungkapkan bahwa pesanan 200 pesawat yang disepakati menjadi bagian dari perjanjian strategis yang lebih luas. Menurutnya, kesepakatan ini menandai awal dari peningkatan signifikan dalam kemitraan Boeing dengan pasar Tiongkok, yang berpotensi mencapai hingga 700 unit pesawat dalam jangka panjang.
Strategi untuk Memperkuat Kemitraan dengan Pasar Tiongkok
Kunjungan Trump ke Tiongkok pada akhir bulan Mei 2026 membuka peluang baru bagi Boeing untuk meraih pesanan pesawat berbadan sempit (narrowbody) yang sebelumnya terkunci karena ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok. Ortberg menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak hanya terbatas pada 200 unit, tetapi menjadi batu loncatan untuk negosiasi lebih besar yang akan memperkuat dominasi Boeing di pasar Negeri Panda. Dalam Key Discussion, ia menekankan pentingnya kepercayaan antara kedua pihak untuk menghadapi tantangan global.
“Kunjungan ini memastikan bahwa hubungan antara Boeing dan Tiongkok tidak terganggu oleh isu sebelumnya. Saya yakin, 200 pesawat ini hanyalah awal dari perjanjian yang lebih besar,” ujar Ortberg dalam wawancara dengan media lokal, yang diliput oleh TRT World.
Langkah Kunci untuk Memastikan Pasokan Suku Cadang
Salah satu syarat utama untuk kesepakatan 200 pesawat adalah kepastian pasokan komponen dan suku cadang. Dalam Key Discussion, pihak Boeing memastikan bahwa AS akan menjamin ketersediaan mesin dan bahan baku untuk armada pesawat yang dioperasikan maskapai Tiongkok. Ini adalah respons terhadap ancaman Trump tahun lalu untuk membatasi ekspor komponen Boeing, yang sempat menyebabkan keterlambatan dalam pengiriman pesawat ke Tiongkok.
Kepastian ini juga memberikan kejelasan bagi maskapai Tiongkok yang selama beberapa tahun terakhir mengalami kesulitan mendapatkan komponen pesawat. Dengan penandatanganan perjanjian baru, pemerintah Tiongkok dan Boeing sepakat untuk melanjutkan kolaborasi dalam memastikan rantai pasok tetap stabil, terutama dalam menghadapi persaingan dari produsen pesawat lain seperti Comac.
“Kami telah berkomitmen untuk menyediakan suku cadang secara konsisten, dan ini adalah langkah penting dalam membangun kembali kepercayaan di pasar Tiongkok,” tambah Ortberg.
Konteks Tahunan dan Rencana Pengembangan
Kesepakatan 200 pesawat dianggap sebagai bagian dari upaya Boeing untuk memperkuat kehadiran di Tiongkok, yang merupakan salah satu pasar utama untuk produksi pesawatnya. Pihak Boeing menyatakan bahwa penambahan pesanan akan terus berlangsung sepanjang tahun ini, dengan potensi mencapai 700 unit dalam satu atau dua tahun ke depan. Sumber dari dalam proses negosiasi menyebut bahwa peningkatan ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah AS yang lebih mendukung ekspor ke Tiongkok setelah pertemuan Trump dengan Xi Jinping.
Meski sejumlah investor awalnya kecewa karena jumlah pesanan 200 unit lebih rendah dari asumsi 500 unit yang sempat dibicarakan sebelumnya, ortberg menegaskan bahwa ini adalah hasil dari kompromi yang tercapai setelah pemimpin kedua negara meninjau ulang persyaratan kerja sama. Dalam Key Discussion, ia menyebut bahwa pihak Tiongkok akan mengungkapkan pesanan tambahan secara bertahap, berdasarkan kebutuhan pasar dan ketersediaan sumber daya.
“Kami tidak ingin hanya memenuhi permintaan sekarang, tetapi membangun jangka panjang. Ini adalah Key Discussion yang penting bagi kedua belah pihak,” tambahnya.
Peluang untuk Maskapai Tiongkok
Kesepakatan ini memberikan peluang besar bagi tiga maskapai utama Tiongkok, yaitu Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines. Dalam Key Discussion, suara internal menyebut bahwa alokasi pesawat akan dilakukan secara proporsional berdasarkan kebutuhan operasional masing-masing maskapai. Pihak Boeing juga berharap kerja sama ini akan memperkuat hubungan dengan maskapai lokal, sekaligus menjadi langkah untuk mengatasi persaingan dari produsen Tiongkok lain.
Dalam beberapa tahun terakhir, maskapai Tiongkok mengalami kesulitan mendapatkan komponen pesawat akibat pembatasan ekspor dari AS. Kesepakatan baru ini diperkirakan akan membantu mengurangi ketergantungan mereka pada suku cadang luar negeri, sekaligus mempercepat pengembangan armada yang lebih besar. Ortberg menegaskan bahwa Boeing siap memberikan dukungan teknis dan logistik untuk memastikan penerapan pesanan tersebut berjalan lancar.
“Kami telah memperkuat kerja sama dengan pihak Tiongkok untuk mengatasi hambatan yang ada. Ini adalah Key Discussion yang menggambarkan keberlanjutan investasi jangka panjang,” tutupnya.
