Harga Referensi Biji Kakao Naik Imbas Penutupan Selat Hormuz
Harga Referensi Biji Kakao Naik Imbas – Jakarta, Liputan6.com – Harga referensi biji kakao mengalami kenaikan US$ 563,48 atau Rp 10,03 juta per MT pada Juni 2026. Angka ini naik 17,24% menjadi US$ 3.832,17 atau Rp 68,30 juta per MT. Kenaikan terjadi karena penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, asuransi, serta bahan bakar. Selain itu, perlahan penurunan pasokan dari Nigeria juga berkontribusi pada fluktuasi harga.
Faktor yang Mendorong Kenaikan Harga
Menurut Tommy Andana, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, kenaikan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh dua aspek utama. Pertama, gangguan pada jalur transportasi laut akibat penutupan Selat Hormuz. Kedua, adanya penurunan volume suplai dari produsen utama seperti Nigeria.
“Peningkatan HR dan HPE biji kakao terjadi karena penutupan Selat Hormuz yang memperparah biaya logistik, asuransi, dan bahan bakar. Penurunan pasokan dari Nigeria juga memperkuat tekanan harga,” kata Tommy Andana, dalam pernyataan resmi, Sabtu (30/5/2026).
Penetapan Harga Ekspor dan Kebijakan
Penetapan harga referensi biji kakao Juni 2026 didasarkan pada PMK Nomor 38 Tahun 2024 dan PMK Nomor 68 Tahun 2025, dengan angka sebesar 7,5%. Sementara itu, harga patokan ekspor (HPE) diatur berdasarkan PMK Nomor 69 Tahun 2025 dan PMK Nomor 9 Tahun 2026, juga mencapai 7,5%.
Perubahan Harga Ekspor pada Komoditas Lain
Beberapa komoditas lainnya mengalami perubahan harga ekspor. HPE getah pinus meningkat US$ 64 atau 6,99% menjadi USD 980 per MT dari bulan Mei 2026. Kenaikan juga terjadi pada HPE kayu veneer dan produk olahan kayu dengan ukuran tertentu, seperti meranti, merbau, serta jenis hutan tanaman lainnya.
Sebaliknya, HPE untuk kayu lapis yang digunakan dalam kemasan, kayu keping, serta beberapa produk kayu olahan dari jenis jati dan pinus menurun. Namun, tidak ada perubahan signifikan pada HPE produk kulit dan kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm² selama periode tersebut.
