KNKT Ungkap Dugaan Penyebab Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
Topics Covered: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengungkap beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026), Soerjanto Tjahjono, ketua KNKT, menjelaskan bahwa gangguan pada sistem sinyal menjadi penyebab utama kejadian tersebut. Dugaan ini muncul setelah KNKT menyelidiki proses kecelakaan yang terjadi antara kereta api Argo Bromo Anggrek dan kereta api lain, menyebabkan 16 penumpang meninggal. Dengan analisis mendalam, KNKT memaparkan bahwa beberapa aspek teknis dan lingkungan berkontribusi pada kecelakaan tersebut.
Kemungkinan Distraksi dari Lingkungan Sekitar
Menurut Soerjanto, sinyal bantu yang mengalami gangguan akibat distraksi dari cahaya di sekitar jalur kereta. “Sinyal bantu tadi terdistraksi oleh lampu-lampu di sekitar jalur, sehingga masinis kesulitan melihatnya secara jelas,” katanya dalam sesi wawancara. Ia menambahkan, jika masinis dapat memperhatikan sinyal bantu dengan baik, kecelakaan bisa dihindari. Distraksi ini menjadi faktor penting dalam memperparah situasi, terutama saat petugas di lokasi harus berkoordinasi secara efektif.
“Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat, artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi, Pak,” ujar Soerjanto.
Jeda Komunikasi yang Menjadi Faktor
Soerjanto juga menyebutkan bahwa jeda komunikasi antar petugas pengendali perjalanan kereta (PK) menjadi penyumbang masalah. Ia menjelaskan, laporan awal kecelakaan KRL dengan taksi diterima oleh PK wilayah selatan, sementara KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali PK wilayah timur. Oleh karena itu, informasi harus melalui beberapa pihak sebelum masinis KA Argo Bromo Anggrek dapat dihubungi. Kondisi ini mengakibatkan penundaan dalam respons darurat, yang berdampak pada keselamatan penumpang.
“Nah, ini yang membuat jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” tambahnya.
Kondisi Sinyal dan Kecelakaan Beruntun
KNKT mencatat bahwa selain gangguan sinyal, ada kondisi tidak aman di sekitar jalur tersebut. “KA 5568 tidak bisa mendeteksi adanya KA 5181 di Bekasi Timur, dan situasi itu juga berkontribusi pada kecelakaan,” ujar Soerjanto. Ia menjelaskan, kecelakaan antara KA 5568A dengan KRL terjadi pada pukul 20.48.13 hingga 20.48.29 WIB. Setelah proses penurunan penumpang, KA 5568A bergerak sejauh 1,69 meter sebelum berhenti karena pengemudi melihat kerumunan masyarakat di jalur hulu. Dalam Topics Covered ini, KNKT juga menyoroti bagaimana kecelakaan beruntun memperburuk dampak kemanusiaan.
“KA 5568 setelah naik turun penumpang berjalan 1,69 meter, jadi cuma pendek saja, dan berhenti karena masinis melihat kerumunan masyarakat di jalur hulu,” katanya.
Perbedaan Sinyal dan Waktu Tabrakan
Lasarus, ketua Komisi V DPR RI, mempertanyakan apakah sinyal hijau diberikan untuk KA Argo Anggrek sebelum kecelakaan terjadi. Soerjanto Tjahjono menjawab bahwa sinyal hijau memang diberikan, meski ia mengakui bahwa kondisi di depan jalur seharusnya memaksa sinyal berwarna merah. “Harusnya merah kan Pak ya? karena di depan ada obstacle,” tanya Lasarus. Jawaban ini menggarisbawahi pentingnya pengamatan yang tepat oleh petugas pengendali perjalanan dalam situasi darurat.
“KA 5568 setelah naik turun penumpang berjalan 1,69 meter, jadi cuma pendek saja, dan berhenti karena masinis melihat kerumunan masyarakat di jalur hulu,” katanya.
Analisis Kecelakaan dan Rekomendasi KNKT
KNKT menyatakan bahwa investigasi kecelakaan kereta Bekasi Timur mengungkap beberapa temuan kritis. Dalam Topics Covered ini, mereka menekankan pentingnya penggunaan teknologi pendeteksi障碍 (obstacle) yang lebih canggih, serta pelatihan petugas pengendali perjalanan untuk meningkatkan kecepatan respons. Selain itu, KNKT merekomendasikan pemeriksaan ulang terhadap sistem sinyal di area tersebut, mengingat faktor distraksi dari lingkungan sekitar yang terbukti memengaruhi visibilitas masinis. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi industri transportasi untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan.
“Kita harus memastikan sistem sinyal tidak hanya mengandalkan lampu merah dan hijau, tapi juga memberikan informasi real-time tentang kondisi jalur,” tambah Soerjanto.
