Meeting Results: Riset KPID Jabar Tunjukkan Dampak Media Sosial pada Gen Z
Meeting Results – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat melaksanakan diskusi publik global dengan tema “Broadcasting dalam Perspektif Psikologi” dalam kolaborasi dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Acara ini menyajikan hasil riset yang mengungkap cara media sosial memengaruhi perkembangan pikiran dan mental generasi muda, terutama Gen Z. Dalam pemaparan, Ketua KPID Jabar, Adiyana Slamet, menekankan bahwa media digital kini tidak hanya sebagai alat komunikasi dan hiburan, tetapi juga berpotensi merusak cara berpikir, emosi, serta interaksi sosial generasi muda. Hasil meeting results ini menjadi peringatan penting bagi para pemangku kebijakan dan masyarakat.
“Tren digital menyebabkan perubahan signifikan dalam pola pikir, emosi, dan tingkah laku generasi muda. Meeting results menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan emosional dan gangguan kognitif,” ujar Adiyana saat membuka acara di Gedung Lokantara Budaya RRI Bandung, Senin, 11 Mei 2026.
Dalam meeting results ini, Adiyana memaparkan bahwa algoritma media sosial dan fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi ancaman terhadap karakter generasi muda. Tiga faktor utama yang teridentifikasi adalah: kecanduan media, paparan konten negatif, serta kurangnya pengawasan orang tua. Penelitian menunjukkan bahwa 97-98% responden memiliki smartphone, sementara 99,83% menggunakan media sosial secara rutin. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5%, data tersebut valid dan memberikan gambaran akurat tentang pola penggunaan digital di kalangan Gen Z.
Hasil Penelitian: Perubahan Kognitif Generasi Muda
Meeting results dari KPID Jabar mengungkap bahwa konsumsi konten hiburan seperti film, musik, dan komedi mencapai 51,74% responden. Dalam konteks kognitif, fenomena ini dianggap sebagai bentuk escape dari kenyataan sehari-hari. Namun, terdapat dampak negatif yang lebih serius, yaitu penurunan kemampuan berpikir kritis dan daya fokus. Penelitian menemukan bahwa 68,39% responden mengalami gangguan konsentrasi akibat paparan digital yang berlebihan. Selain itu, efek berantai dari konten viral dan e-commerce juga terlihat pada 62,06% responden.
Meeting results menyoroti bahwa media sosial memicu penurunan span perhatian, yang mengakibatkan anak-anak mengalami kesulitan dalam memahami konteks informasi. Dengan penggunaan gawai yang meningkat, kualitas komunikasi langsung terancam, dan empati serta hubungan sosial menjadi lebih dangkal. Tren seperti K-Pop dan notifikasi berulang ditemukan sebagai pemicu utama tekanan psikologis pada Gen Z dan Gen Alpha.
Dampak Psikologis: Stres dan Kecemasan Digital
Meeting results juga mengungkap bahwa 52,41% responden mengalami stres akibat konten digital. Tingkat kecemasan ketika tidak bisa mengakses smartphone mencapai 38,10%, menunjukkan dominasi penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Faktor lain yang menjadi penyebab utama FOMO adalah perbandingan sosial (68%) dan berita viral (60%). Indonesia dikenal memiliki tingkat nomophobia yang tinggi, mencapai 71% secara nasional, sesuai dengan temuan meeting results ini.
Menurut Adiyana, meeting results menunjukkan bahwa anak-anak terpapar konten berbahaya seperti kekerasan dan pornografi sebanyak 62,06%. Ini memperkuat kebutuhan regulasi yang ketat untuk melindungi generasi muda dari efek jangka panjang media digital. Pemantauan terhadap konten yang disebarkan melalui platform online menjadi tugas utama KPID Jabar dan pihak terkait.
Perubahan Pola Interaksi Sosial
Dalam meeting results, perubahan pola interaksi sosial menjadi salah satu aspek utama yang dibahas. Lebih dari 70% responden menunjukkan bahwa komunikasi langsung mulai digantikan pesan teks, dan kebiasaan menggunaan gawai mengganggu perhatian saat berinteraksi. Fenomena phubbing (mengabaikan orang di sekitar saat menggunakan ponsel) semakin menyebar, menciptakan paradoks konektivitas digital. Meski terus terhubung secara daring, kualitas hubungan sosial dan empati mengalami penurunan.
Meeting results ini menyoroti bahwa pola interaksi digital mengubah cara Gen Z berkomunikasi. Mereka lebih memilih media sosial sebagai media utama, dan kecemasan terhadap kelalaian dianggap sebagai bagian dari identitas generasi muda saat ini. Hal ini memperkuat argumen bahwa media digital perlu diatur secara ketat agar tidak mengganggu kehidupan sosial mereka.
Pemicu Utama FOMO
Meeting results menyebutkan bahwa notifikasi yang terus-menerus menyebabkan gangguan pada 85% responden, sementara tren global seperti K-Pop dan berita viral juga memengaruhi 75% Gen Z. Faktor lain yang menjadi pemicu FOMO adalah perbandingan sosial (68%) dan penyebaran konten negatif melalui platform digital. Data ini menggambarkan bahwa media sosial bukan hanya alat hiburan, tetapi juga penggerak psikologis yang memengaruhi keputusan emosional dan sosial generasi muda.
Adiyana menambahkan bahwa meeting results ini adalah langkah awal untuk memahami bagaimana media digital membentuk generasi muda. Pemerintah dan lembaga penyiaran harus berkolaborasi dalam menciptakan regulasi yang lebih kuat, karena efek negatif dari disrupsi digital tidak bisa diatasi hanya dengan pengaturan mandiri. Dengan memahami dampak dari media sosial, kita bisa mengambil langkah proaktif untuk melindungi generasi muda dari kecanduan dan perubahan mental yang tidak sehat.
