Bahaya BPA dari Galon Tua: KKI Mewakili Konsumen Ingatkan Batas Penggunaan
Latest Program – Dalam Latest Program terbaru, Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David Tobing, mengungkapkan kekhawatiran terhadap penggunaan galon plastik yang telah usang dan berpotensi merusak kesehatan. Temuan ini didasarkan pada pemantauan selama tiga tahun terakhir, termasuk survei nasional yang dilakukan pada tahun 2024 dan investigasi langsung di sekitar Jabodetabek pada 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa galon yang sudah berusia lama masih dipakai secara luas, sehingga memicu risiko peluruhan bahan BPA.
Pemantauan dan Temuan
KKI mencatat bahwa sekitar 92 persen responden menyatakan masih mendapatkan galon tua dalam distribusi air minum sehari-hari. Dengan tingkat penggunaan galon yang tinggi di Indonesia, jumlah penduduk yang terancam oleh BPA bisa mencapai lebih dari 92 juta orang. Selain itu, para ahli menyebutkan bahwa galon berusia 11 tahun sudah masuk ke dalam kategori berisiko, terutama karena perlahan-lahan BPA dapat bocor ke dalam air yang disimpan.
“Data BPS menunjukkan 34% rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dari galon. Dengan populasi sekitar 26 juta rumah tangga, sekitar 92 juta penduduk berpotensi terpapar BPA akibat peluruhan bahan tersebut,” kata David dalam Latest Program yang disiarkan.
Isu Kesehatan dan Perilaku Pengguna
David menyoroti bahwa galon yang usang tidak hanya memengaruhi kualitas air, tetapi juga menyebabkan ketergantungan masyarakat pada bahan ini. Ia menjelaskan bahwa galon yang digunakan berulang kali, terutama di daerah pedesaan, sering kali tidak memiliki pengganti yang cukup. “Banyak orang tidak menyadari bahwa galon tua bisa menjadi sumber bahaya, terutama jika tidak diperbarui secara berkala,” tutur David.
“Selain usia galon, ada faktor lain yang mempercepat peluruhan BPA, seperti paparan sinar matahari dan kurangnya kebersihan. Di beberapa lokasi, galon yang dibawa menggunakan kendaraan dengan bak terbuka lebih rentan terhadap kerusakan fisik dan kimiawi,” tambahnya dalam Latest Program terbaru.
Regulasi dan Perbandingan
David mengkritik kebijakan di Indonesia yang belum membatasi penggunaan BPA secara tegas. Ia membandingkan dengan aturan di Eropa, di mana penggunaan BPA dalam bahan kontak pangan dilarang mulai Juli 2026 setelah riset dari otoritas keamanan pangan Eropa (EFSA). Di Indonesia, BPOM hanya mewajibkan pelabelan peringatan hingga 2028, tetapi tidak menetapkan batas masa pakai galon secara jelas.
“Kebijakan di Latest Program dan Eropa berbeda. Di sini, pelabelan BPA diberlakukan tahun 2028, sementara di Eropa sudah ada larangan sejak 2026. Kita perlu mempercepat regulasi untuk melindungi konsumen,” pungkas David dalam wawancara Latest Program yang terbaru.
Kondisi Fisik Galon
Hasil survei juga menunjukkan bahwa 30% pelapor mengeluhkan kondisi galon yang kotor atau lusuh, sementara 18% lainnya mengatakan galon retak. Dari total 2% yang mengalami kerusakan fisik seperti penyok, sebagian besar ditemukan di wilayah perkotaan. “Kondisi fisik galon yang buruk bukan hanya mengurangi daya tahan, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi,” jelas David dalam Latest Program yang diluncurkan.
“Jadi, Latest Program ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah bahwa galon tua bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga kesehatan jangka panjang. Kita perlu memperhatikan batas masa pakai galon sebelum BPA terlepas ke dalam air minum,” tegasnya.
Kebutuhan Penguasaan BPA
Para ahli menegaskan bahwa BPA adalah bahan kimia yang bisa terlepas dari galon, terutama ketika terkena panas atau tekanan. Ia mengungkapkan bahwa peluruhan BPA tidak hanya terjadi pada galon yang sudah berusia 10 tahun, tetapi juga pada galon yang digunakan lebih dari 3 tahun tanpa perawatan. “Kebiasaan konsumen menggunakannya tanpa penggantian membuat BPA tetap berpotensi membahayakan,” ujarnya.
Langkah untuk Masa Depan
David menyarankan beberapa langkah untuk mengurangi risiko BPA. Pertama, pemerintah perlu menetapkan batas waktu penggunaan galon secara resmi. Kedua, produsen harus mengembangkan alternatif bahan yang lebih aman. “Selain itu, konsumen juga harus lebih peduli dengan keadaan galon mereka, terutama jika digunakan dalam jangka waktu yang lama,” jelas David dalam Latest Program yang diterbitkan.
