Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Hasto Ungkit Kudatuli: Akar Rumput Tak Pernah Bisa Dicabut Kekuasaan

Barbara Miller - beritaterbaik.com 3 mins read 10 views

Dalam peringatan tiga dekade Kudatuli yang diselenggarakan di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026), Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan

Hasto Ungkit Kudatuli: Akar Rumput Tak Pernah Bisa Dicabut Kekuasaan

Hasto Ungkit Kudatuli: Akar Rumput Tak Pernah Bisa Dicabut Kekuasaan

Beritaterbaik.com – Dalam peringatan tiga dekade Kudatuli yang diselenggarakan di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026), Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan refleksi mendalam tentang ketahanan organisasi. Hasto Ungkit Kudatuli sebagai momen bersejarah yang membuktikan bahwa fondasi kepemimpinan Megawati Soekarnoputri di dalam partai dibangun dari kekuatan rakyat kecil yang tak pernah pudar, bahkan di tengah tekanan berat rezim Orde Baru. Pesan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh kader partai tentang nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan.

Peristiwa 27 Juli 1996: Lebih dari Serangan Fisik

Menurut Hasto, penyerbuan terhadap kantor PDI pada tanggal 27 Juli 1996 memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar serangan fisik terhadap bangunan partai. Upaya tersebut merupakan bagian dari strategi untuk membungkam aspirasi politik rakyat. Namun, pemerintah saat itu keliru dalam menilai kekuatan militansi yang dimiliki oleh simpatisan dan kader di tingkat akar rumput. Hasto Ungkit Kudatuli dalam pidatonya untuk menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada dukungan dari bawah.

“Akar rumput itulah yang mengukuhkan kepemimpinan Megawati dan menolak Kongres Medan. Akar rumput itulah yang menjaga kantor Diponegoro siang malam—tidur bergelaran tikar, makan nasi bungkus, bermodal iuran seadanya,” kata Hasto.

Dukungan dari tingkat bawah menjadi penopang utama eksistensi PDIP pasca-Kudatuli. Tanpa dukungan tersebut, partai mungkin tidak akan mampu bertahan melalui masa-masa sulit setelah tragedi tersebut. Para kader dan simpatisan menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan tetap bertahan di kantor partai meskipun menghadapi berbagai hambatan dan ancaman.

Metafora Rumput: Simbol Ketangguhan Perjuangan

Hasto kemudian menggunakan perumpamaan tentang rumput untuk menggambarkan daya tahan perjuangan PDIP. Ia menjelaskan bahwa meskipun rumput bisa dipotong, diinjak-injak, atau bahkan dibakar hingga tanahnya hitam, namun akarnya tetap tertanam kuat di dalam bumi. Hasto Ungkit Kudatuli sebagai contoh nyata dari filosofi ini, di mana partai mampu bangkit kembali setelah setiap kali dihantam oleh kekuatan luar.

“Rumput boleh dibabat. Rumput boleh diinjak, boleh dibakar sampai hitam tanahnya. Tetapi akarnya tetap tinggal di dalam tanah. Dan begitu tersiram air hujan, ia tumbuh kembali, lebih lebat dari sebelumnya. Itulah yang tidak pernah dipahami oleh mereka yang menyerbu kantor PDI,” ujarnya.

Metafora ini menjadi cerminan karakter perjuangan PDIP yang selalu berpihak pada rakyat kecil. Filosofi tersebut tidak hanya menjadi sejarah, tetapi juga fondasi yang terus menginspirasi hingga saat ini. Setiap generasi kader belajar dari pengalaman Kudatuli untuk membangun ketahanan organisasi yang lebih kuat.

Dari Kudatuli Menuju Kemenangan Demokrasi

Tiga tahun setelah Kudatuli, kombinasi antara dukungan akar rumput dan rakyat kecil membawa PDIP meraih kemenangan dalam Pemilu 1999 melalui jalur demokrasi. Hasto juga menyoroti keputusan Megawati yang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 1997 sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Hasto Ungkit Kudatuli sebagai bagian dari narasi panjang perjuangan partai menuju kemenangan demokratis.

Keputusan tersebut, menurut Hasto, berkontribusi pada runtuhnya PDI kubu Soerjadi dalam Pemilu 1999. Hal ini menunjukkan bagaimana strategi politik yang tepat dapat menghasilkan perubahan signifikan. Peran rakyat kecil dalam setiap tahap perjuangan menjadi kunci keberhasilan partai dalam menghadapi tantangan politik.

Menutup pidatonya, Hasto mengajak seluruh kader untuk menjadikan Kudatuli sebagai pelajaran berharga agar kekerasan negara terhadap rakyat tidak terulang kembali. Hasto Ungkit Kudatuli sebagai pesan moral yang harus terus dipegang oleh seluruh anggota partai dalam menjalankan fungsi dan perannya di masyarakat.

“Kita berteriak melawan lupa, agar tidak boleh lagi ada kekerasan atas nama negara kepada rakyatnya. Kita bukan kaum pendendam, namun kita harus belajar dari luka-luka sejarah, agar tidak ada lagi jiwa-jiwa yang penasaran dan dengan demikian, kita bisa menatap masa depan,” pungkasnya.

Gabung diskusi