Dinkes DKI Jakarta Laporkan 4 Kasus Hantavirus hingga Mei 2026
Dinkes DKI Ungkap 4 Temuan Kasus – Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan bahwa hingga bulan Mei 2026, telah tercatat empat kasus infeksi hantavirus di wilayah tersebut. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa dari total empat kasus, tiga orang telah pulih. Menurutnya, gejala yang muncul pada pasien tergolong ringan.
“Hingga saat ini, sepanjang tahun 2026, terdapat empat kasus hantavirus yang diketahui. Tiga di antaranya sudah sembuh dengan gejala yang tidak terlalu parah,” ujar Ani saat diwawancara wartawan, Selasa (12/5/2026).
Satu kasus lainnya masih dalam status suspek, dengan hasil pemeriksaan laboratorium belum diketahui. “Pasien yang satu ini masih dalam proses diagnosis, harus ditetapkan melalui laboratorium, belum pasti,” tambah Ani.
Penjelasan tentang Hantavirus
Ani menjelaskan bahwa hantavirus bukanlah jenis virus baru seperti yang terjadi pada wabah coronavirus. Menurutnya, penyakit ini sudah dikenal sejak lama dan rutin diawasi oleh pihak berwenang setiap tahun.
“Hantavirus termasuk virus yang sudah ada sebelumnya, bukan wabah baru sepertiCOVID-19. Penyakit ini terus diobservasi oleh pemerintah,” jelas Ani.
Menurut Ani, penyebaran hantavirus di Indonesia hingga saat ini masih terjadi melalui kontak dengan tikus. Hal ini bisa terjadi karena air liur, urine, atau kotoran tikus yang menginfeksi lingkungan.
“Penularan terjadi melalui cairan tikus seperti air liur atau kotoran, yang kemudian terhirup oleh manusia. Hal ini berbeda dengan wabah yang menyebar dari manusia ke manusia,” kata Ani.
Varian Andes dan Langkah Pencegahan
Ani menambahkan bahwa hanya satu varian hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia, yaitu varian Andes. Namun, hingga kini belum ditemukan varian tersebut di wilayah Indonesia.
“Varian Andes yang bisa menular dari manusia ke manusia sampai saat ini belum ditemukan di sini. Jadi, semua kasus yang ada masih bersifat infeksi dari tikus ke manusia,” ucap Ani.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat tetap tenang tetapi waspada. Ani menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta mengadopsi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mengurangi risiko penularan.
“Yang terpenting adalah tetap tenang tetapi waspada. Kita harus rutin mencuci tangan dan memakai masker di tempat-tempat berisiko,” sarannya.
