Harga Minyak Dunia Melesat Usai Ketegangan AS-Iran Meningkat
Special Plan – Jakarta, Liputan6.com – Senin, 11 Mei 2026, harga minyak global mengalami kenaikan signifikan setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memuncak. Peringatan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentang keberlanjutan konflik tersebut memperkuat kecemasan pasar, dengan persaingan di Timur Tengah dianggap sebagai ancaman besar bagi kestabilan pasokan energi. Terlebih, keberadaan Special Plan sebagai strategi khusus yang diusung AS dan sekutunya menjadi faktor pendorong utama pergerakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir.
Konflik AS-Iran dan Efek pada Pasar Global
Konflik antara AS dan Iran kembali memanas setelah Trump menolak usulan negosiasi dari Iran. Dalam wawancara dengan CNBC, presiden yang pernah memimpin negara tersebut menyatakan ketidakpuasan terhadap tawaran Iran, menekankan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum kepentingan AS terpenuhi. Keputusan ini memicu respons cepat dari pasar, yang menganggap ketegangan geopolitik sebagai risiko utama terhadap ketersediaan minyak. Terlebih, Special Plan dianggap sebagai alat untuk memperkuat dominasi AS dalam konflik tersebut, dengan langkah-langkah khusus untuk mengganggu operasi Iran.
Penyesuaian Pasar dan Kontrak Minyak
Masih dalam suasana ketegangan, harga minyak berjangka WTI AS mengalami lonjakan hingga 2,4% ke USD 97,69 per barel, sedangkan harga Brent internasional naik 2,3% menjadi USD 103,68 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah harga kedua kontrak tersebut melonjak hingga 40% sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memulai gejolaknya pada 28 Februari. Analisis menunjukkan bahwa market sentiment yang terpengaruh oleh Special Plan mempercepat respons harga, terutama karena ketidakpastian mengenai kelanjutan persaingan di Selat Hormuz.
Perspektif Ekonomi dan Impak Kenaikan Harga
Kenaikan harga minyak berdampak signifikan pada ekonomi global, terutama negara-negara yang bergantung pada impor energi. Menurut laporan dari Citi, jika konflik tidak segera diselesaikan, kenaikan harga bisa terus berlanjut, dengan potensi munculnya skenario yang lebih buruk. Analis mengingatkan bahwa permintaan yang melemah di negara berkembang, seperti India dan China, tidak cukup untuk menopang pasokan minyak yang kini terganggu. Special Plan juga menjadi faktor utama dalam menentukan apakah pasar akan mengalami gelombang kenaikan berikutnya atau mulai stabil.
Kata-kata Netanyahu dan Persiapan AS
“Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, dan situs pengayaan yang harus dibongkar,” ujar Netanyahu dalam wawancara dengan CBS. “Kita belum selesai, dan Special Plan akan tetap menjadi jalan untuk memastikan keberhasilan operasi di seluruh wilayah Timur Tengah.”
Pernyataan Netanyahu mengingatkan bahwa keberhasilan AS dalam konflik ini akan bergantung pada eksekusi Special Plan yang disusun secara rinci. Langkah-langkah dalam rencana ini meliputi peningkatan dukungan militer ke negara-negara sekutu, pembatasan pengiriman minyak dari Iran, dan intensifikasi tekanan politik terhadap negara-negara lain yang dianggap sebagai sekutu Iran. Kebijakan ini memperkuat posisi AS sebagai pemain utama dalam pengaturan harga minyak global.
Komparasi dengan Pandemi dan Proyeksi Masa Depan
CEO Sparta Commodities, Felipe Elink Schuurman, menilai kenaikan harga minyak saat ini mirip dengan situasi pada tahun 2020, ketika pandemi virus corona menghancurkan permintaan global. “Perbedaannya adalah, kali ini penurunan permintaan tidak hanya terjadi karena krisis kesehatan, tetapi juga karena ketegangan geopolitik yang memperparah risiko pasokan energi,” katanya. Schuurman memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak akan terus berlanjut jika Special Plan tidak mencapai titik keberhasilan yang diharapkan, dengan ancaman terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
“Sekarang pertanyaannya adalah, dari mana penurunan permintaan ini akan berasal?” tambah Schuurman. “Negara-negara dengan ekonomi kuat mungkin bisa menahan beban, tetapi negara-negara berkembang akan terpuruk. Special Plan menjadi alat penting untuk mengurangi tekanan ini, meski juga mengakibatkan kenaikan harga yang signifikan.”
