Bos Saudi Aramco: Pasar Minyak Global Masih Akan Mengalami Ketidakstabilan Hingga 2027
New Policy – Dalam pernyataan terbaru yang disampaikan selama kuartal pertama, Amin Nasser, CEO Saudi Aramco, menegaskan bahwa pasokan minyak dunia akan tetap terganggu hingga 2027 karena ketegangan di Selat Hormuz. Pernyataan ini menyoroti New Policy yang diadopsi oleh perusahaan untuk mengatasi krisis pasokan yang berlangsung sejak awal Maret, seperti yang dilaporkan oleh CNBC, Selasa (12/5/2026).
“Dengan New Policy yang kita terapkan, kita yakin bahwa stabilitas pasar minyak akan tercapai setelah tahun 2027. Namun, jika keterlambatan pembukaan Selat Hormuz berlanjut, dampaknya akan sangat signifikan,” ungkap Nasser dalam sesi briefing.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa sekitar 20% dari total pasokan minyak global melewati Selat Hormuz sebelum konflik pecah. Namun, setelah rute ini ditutup oleh Iran, angka tersebut menurun drastis hingga hanya dua hingga lima kapal yang melintas setiap hari. Hal ini mengakibatkan gangguan besar dalam distribusi energi ke berbagai pasar internasional, terutama saat permintaan sedang tinggi.
New Policy juga mencakup strategi perubahan rute pengiriman minyak. Saudi Aramco memperkenalkan jaringan pipa Timur-Barat, atau Petroline, sebagai bagian dari New Policy untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Kapasitas pipa ini telah ditingkatkan menjadi 7 juta barel per hari, yang merupakan langkah kritis dalam memperkuat ketahanan pasokan.
Dampak Ekonomi Global dan Perubahan Pola Konsumsi Energi
Adopsi New Policy oleh Saudi Aramco tidak hanya berdampak pada industri minyak, tetapi juga mengubah pola konsumsi energi di berbagai negara. Pasar global mulai memperhatikan ketersediaan cadangan minyak, terutama untuk produk seperti bensin dan bahan bakar pesawat. Kondisi ini memicu kekhawatiran, terlebih menjelang musim liburan dan perjalanan musim panas yang meningkatkan permintaan energi.
“Dengan New Policy ini, kita sedang mengatur ulang sistem distribusi energi untuk meminimalkan risiko krisis di masa depan. Pasokan bisa mencapai titik kritis menjelang musim berkendara dan perjalanan musim panas,” tambah Nasser.
Kapitalisasi pasar minyak dunia terus mengalami tekanan akibat kekurangan pasokan. Sejumlah 600 unit kapal tanker terjebak di Teluk Persia, sementara 240 kapal lainnya masih menunggu akses ke laut. Nasser memperkirakan sebagian besar armada tersebut akan beralih ke lokasi alternatif, seperti Laut Merah, sebagai bagian dari New Policy yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada rute sempit.
Analisis dari lembaga pemeringkat menunjukkan bahwa pasokan global kehilangan sekitar 1 miliar barel setiap minggu akibat penutupan Selat Hormuz. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga minyak yang signifikan, dengan reaksi pasar yang terlihat jelas dalam beberapa hari terakhir. New Policy diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ini, tetapi perlu waktu beberapa bulan hingga tahun 2027 untuk menormalisasi kembali.
Dalam New Policy, Saudi Aramco juga mengintegrasikan kebijakan pengurangan risiko kekacauan. Perusahaan ini berupaya meningkatkan kapasitas produksi melalui teknologi canggih dan pembangunan infrastruktur. Nasser menegaskan bahwa New Policy ini adalah respons terhadap ketidakpastian global, termasuk perang di Timur Tengah dan perubahan kebijakan energi di berbagai negara.
