Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Bisnis

New Policy: Biaya Energi Jadi Tantangan Terbesar Industri Manufaktur

Daniel Smith 3 mins read 1 views

Jadi Tantangan Terbesar Industri Manufaktur New Policy - Sejak diterapkannya New Policy pada awal 2026, biaya energi menjadi faktor utama yang memengaruhi

New Policy: Biaya Energi Jadi Tantangan Terbesar Industri Manufaktur

Biaya Energi Jadi Tantangan Terbesar Industri Manufaktur

New Policy – Sejak diterapkannya New Policy pada awal 2026, biaya energi menjadi faktor utama yang memengaruhi kelangsungan industri manufaktur di Indonesia. Kebijakan ini memberikan peningkatan tarif listrik yang signifikan, mengakibatkan perusahaan-perusahaan manufaktur menghadapi tekanan besar terutama dalam mengelola efisiensi operasional dan mempertahankan daya saing. Dalam industri tekstil, listrik menyumbang sekitar 15-25 persen dari biaya produksi total, menjadikannya komponen penting yang tidak bisa diabaikan. Dengan New Policy, biaya operasional semakin menanjak, sehingga menyebabkan penurunan margin keuntungan dan tantangan dalam mengakses pasar global.

Perubahan Pasar Akibat Kebijakan Energi Baru

New Policy tidak hanya mengubah struktur tarif energi, tetapi juga memaksa sektor manufaktur untuk mengambil langkah strategis dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya. CEO Trivigo, Kunadi Setiadi, menyoroti bahwa kebijakan ini memicu perusahaan untuk lebih sadar akan kebutuhan efisiensi energi. “Perusahaan tidak langsung bangkrut karena New Policy, tetapi tekanan biaya energi bisa mengurangi keuntungan secara bertahap hingga industri kehilangan kemampuan untuk bersaing,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026). Hal ini menunjukkan bahwa New Policy menjadi penggerak utama perubahan pola bisnis dalam industri manufaktur.

Di tengah tekanan New Policy, industri manufaktur khususnya menghadapi dilema antara kebutuhan produksi yang tinggi dan kenaikan biaya energi. Selain itu, kebijakan ini juga berdampak pada kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan standar ekonomi hijau yang semakin ketat di pasar internasional. Kunadi menambahkan bahwa sektor tekstil, yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Indonesia, kini harus menghadapi tantangan lebih besar dalam memenuhi target emisi dan keberlanjutan. “Perusahaan harus mengintegrasikan New Policy ke dalam rencana jangka panjang mereka, baik melalui penghematan energi maupun investasi dalam teknologi alternatif,” jelasnya.

Adopsi Energi Surya sebagai Solusi

Kebijakan New Policy yang mengarah pada peningkatan harga energi konvensional mempercepat adopsi teknologi energi terbarukan, terutama energi surya. Menurut Mada Ayu Habsari, Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), industri manufaktur menjadi pengguna utama PLTS atap nasional. “Dengan New Policy, penggunaan energi surya tidak hanya menjadi pilihan, tetapi keharusan untuk menjaga keseimbangan biaya dan keberlanjutan,” kata Mada. Ia menekankan bahwa selama tiga tahun terakhir, penggunaan PLTS di sektor manufaktur meningkat hingga 30 persen, yang terbukti efektif dalam mengurangi ketergantungan pada listrik tradisional.

“Pertanyaan yang benar bukan berapa biaya pemasangannya, tetapi berapa biaya yang harus ditanggung jika kita tidak melakukannya. Dengan teknologi dan skema pembiayaan saat ini, proyek energi surya bisa mencapai pengembalian modal dalam empat hingga enam tahun, sementara manfaat penghematan bisa dinikmati hingga puluhan tahun berikutnya,” jelas Mada. Hal ini menunjukkan bahwa New Policy mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan investasi jangka panjang dalam energi terbarukan sebagai strategi adaptasi.

Berkembangnya industri manufaktur sebagai pengguna PLTS juga didukung oleh regulasi pemerintah yang semakin terbuka terhadap inovasi energi hijau. New Policy yang mencakup insentif pajak dan subsidi untuk energi terbarukan memberikan dorongan kuat bagi perusahaan untuk beralih ke sumber daya yang lebih ekonomis. Selain itu, kebijakan ini juga sejalan dengan tujuan ekonomi hijau yang diusung pemerintah, termasuk kebijakan lingkungan global seperti CBAM yang mulai diterapkan Uni Eropa pada 2026. Mada menegaskan bahwa New Policy menjadi pendorong utama dalam menyiapkan industri manufaktur untuk menghadapi standar keberlanjutan yang lebih ketat.

Di sisi lain, New Policy juga menghadirkan peluang baru bagi perusahaan yang ingin menerapkan praktik berkelanjutan. Meski biaya awal untuk pemasangan PLTS masih tergolong tinggi, perusahaan-perusahaan besar mulai menilai bahwa investasi ini lebih menguntungkan secara jangka panjang. Kunadi Setiadi menambahkan bahwa New Policy menjadi momentum penting untuk perusahaan yang ingin mengurangi risiko fluktuasi harga energi. “Dengan New Policy, kita bisa mempercepat transisi ke energi hijau, sehingga meningkatkan efisiensi dan memperkuat posisi ekspor,” ujarnya.

Dalam konteks New Policy, industri manufaktur harus beradaptasi dengan pola penggunaan energi yang lebih optimal. Dengan adanya kebijakan tersebut, perusahaan-perusahaan diharapkan tidak hanya fokus pada produksi yang cepat, tetapi juga pada pemanfaatan energi yang ramah lingkungan. Ini memberikan gambaran bahwa New Policy tidak hanya memperketat persaingan, tetapi juga mendorong inovasi dan perubahan ke arah yang lebih berkelanjutan. Kebijakan ini menjadi bukti bahwa Indonesia sedang bergerak menuju sistem energi yang lebih modern, meski tantangan masih terasa dalam penerapannya.

Gabung diskusi