Buka Keran Ekspor Baru, RI Incar Kerja Sama Energi hingga Mineral Kritis di Eurasia
Meeting Results – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke tiga negara di kawasan Eurasia, yaitu Kazakhstan, Rusia, dan Belarus, pada 10–16 Mei 2026. Perjalanan ini bertujuan memperkuat kerja sama ekonomi bilateral dan mekanisme kelembagaan dengan mitra strategis Indonesia. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka mendorong implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (Indonesia–EAEU FTA), yang ditandatangani pada 21 Desember 2025. Dengan adanya FTA ini, Indonesia berharap mampu memperluas akses pasar, meningkatkan volume ekspor, serta mendorong kolaborasi ekonomi yang lebih produktif.
Strategi Ekspor Non-Tradisional
Meeting Results menyatakan bahwa kawasan Eurasia menjadi prioritas dalam strategi ekspor non-tradisional Indonesia. Pemerintah menargetkan pertemuan ini akan menghasilkan kesepakatan konkret di bidang energi, mineral kritis, dan infrastruktur logistik. Susiwijono Moegiarso, Sesmenko Perekonomian, berperan aktif dalam memastikan agenda kebijakan ekonomi berjalan sesuai harapan. Dalam konteks globalisasi, kemitraan dengan negara-negara Eurasia dianggap penting untuk meningkatkan daya saing sektor industri Indonesia.
Kunjungan ke Kazakhstan, yang dimulai pada 10–12 Mei 2026, menjadi momen kritis dalam memulai kembali kerja sama bilateral yang sempat tertunda. Forum yang dihadiri Airlangga dan pemimpin pemerintahan Kazakhstan fokus pada peningkatan koordinasi di bidang perdagangan, investasi, serta konektivitas. Kemitraan dengan negara-negara EAEU juga dirancang untuk memperkuat ekspor pertanian dan manufaktur Indonesia, sekaligus menarik investasi langsung dari mitra-mitra tersebut.
Meeting Results menekankan bahwa pengembangan kerja sama dengan Rusia akan menjadi prioritas utama dalam rangka mengakses pasar energi dan mineral kritis. Pada 12–13 Mei 2026, Airlangga menghadiri Sidang Komisi Bersama ke-14 dengan Rusia, yang membahas potensi kerja sama di sektor energi, teknologi, dan pertanian. Pemerintah RI berharap memperoleh kesepakatan untuk meningkatkan keberlanjutan energi dan memastikan pasokan mineral kritis seperti nikel dan kobalt tetap stabil.
Pengembangan Infrastruktur dan Logistik
Sebagai bagian dari Meeting Results, peningkatan sistem logistik menjadi salah satu fokus utama. Airlangga menegaskan bahwa penguatan infrastruktur transportasi dan penyederhanaan prosedur bea cukai akan mempercepat aliran barang ekspor dan impor. Dalam pertemuan dengan Belarus, ia juga meninjau kemungkinan kerja sama di bidang pariwisata dan hubungan masyarakat. Ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan ketergantungan ekonomi yang lebih seimbang antara Indonesia dan negara-negara EAEU.
Kunjungan ke Minsk, Belarus, pada 14–16 Mei 2026, menegaskan komitmen Indonesia untuk melibatkan negara-negara EAEU dalam ekspor non-tradisional. Airlangga berharap hasil Meeting Results akan berdampak langsung pada kebijakan ekonomi nasional, termasuk pengembangan ekspor pertanian dan minyak bumi. Selain itu, kesepakatan dalam pertemuan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan bilateral di bidang teknologi dan pendidikan, yang menjadi fondasi untuk ekspor jangka panjang.
“Meeting Results ini bukan sekadar pertemuan rutin, tapi momentum untuk memperkuat komitmen ekonomi antar negara, khususnya dalam mengembangkan pasar baru dan meningkatkan daya saing ekspor,” jelas Susiwijono Moegiarso. Dengan adanya perjanjian perdagangan bebas, Indonesia berharap memperoleh akses lebih mudah ke pasar Eurasia, yang menawarkan peluang ekspor yang signifikan.
Dalam konteks perekonomian global, Indonesia memandang Eurasia sebagai area potensial untuk memperluas jaringan perdagangan. Meeting Results menekankan pentingnya kolaborasi di bidang energi terbarukan, karena kebutuhan dunia akan sumber daya alam terus meningkat. Pemerintah juga berfokus pada peluang ekspor mineral kritis, yang menjadi bahan baku utama dalam industri modern. Hasil dari pertemuan ini diharapkan mampu menjadi dasar bagi kerja sama ekonomi yang lebih berkelanjutan, termasuk dalam bidang manufaktur dan pertanian.
