Rupiah Perkasa di Tengah Tekanan Global, Investor Mulai Lepas Dolar AS
Main Agenda – Jakarta, Liputan6.com – Rupiah kembali menunjukkan kekuatan dalam pasar valuta asing, bergerak naik ke Rp17.476 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026). Meninggalkan posisi sebelumnya di Rp17.529 per dolar AS, penguatan rupiah ini mencerminkan pergeseran sikap investor yang mulai menarik dana dari dolar AS setelah tekanan global terhadap mata uang tersebut menunjukkan pelambatan.
Analisis ICDX: Rupiah Melawan Tekanan Eksternal
“Rupiah menguat karena aksi profit taking terhadap dolar AS setelah kenaikan yang tajam pasca rilis data inflasi Amerika Serikat melebihi proyeksi pasar,” ungkap Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), dikutip Antara.
Data inflasi AS April 2026 mencatatkan angka 3,8%, yang menjadi tertinggi sejak Mei 2023. Angka ini lebih tinggi dari prediksi pasar sebelumnya sebesar 3,7%, dan berada di atas angka 3,3% pada bulan Maret. Kenaikan inflasi ini mendorong investor untuk mengubah strategi investasi, terutama dalam mencari pengembalian yang lebih stabil. Meski dolar AS masih kuat, Main Agenda menunjukkan bahwa investor mulai mempertimbangkan alternatif lain, seperti rupiah, sebagai aset yang lebih aman.
Kebijakan Ekonomi Global dan Kehadiran BI
Dari perspektif domestik, rupiah diperkuat oleh upaya Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. BI aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi untuk mencegah tekanan negatif. Selain itu, ada spekulasi bahwa bank sentral mungkin akan menyesuaikan suku bunga dalam beberapa waktu ke depan, guna meningkatkan daya tarik aset domestik. Main Agenda menyoroti bahwa BI memainkan peran kritis dalam memastikan rupiah tetap menjadi pilihan utama bagi investor lokal dan internasional.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menguat ke Rp17.496 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.514. Perubahan ini menunjukkan bahwa meski tekanan global masih ada, rupiah terus menunjukkan ketangguhan. Analis mengatakan, dinamika ini berdampak positif pada sentimen pasar, terutama dalam menarik modal dari luar negeri yang mencari tempat investasi lebih aman.
“Sentimen positif juga berasal dari upaya pemerintah memperkuat likuiditas pasar dan stabilisasi surat utang,” kata Amru. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan rupiah masih bisa fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, tergantung pada kebijakan moneter global dan situasi ekonomi internasional.
Di sisi lain, pergeseran sikap investor terhadap dolar AS diiringi oleh perubahan di sektor ekonomi global. Tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya krisis politik dan perang dagang, memengaruhi dinamika pasar keuangan. Main Agenda menyoroti bahwa investor mulai berpindah dari dolar AS ke mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Faktor ini juga memperkuat posisi rupiah dalam menghadapi tekanan dari berbagai negara.
Pelaku pasar terus memantau kebijakan The Fed, yang menjadi faktor utama pergerakan dolar AS. Meski inflasi AS terus menguat, kebijakan suku bunga yang lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk tetap stabil. Main Agenda menegaskan bahwa kebijakan moneter global menjadi pendorong utama dalam pergeseran nilai tukar rupiah, sekaligus membuka peluang investasi baru bagi pihak lokal.
