Purbaya Berharap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melampaui Target
Main Agenda – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV 2026 akan tetap mencapai di atas 5,5 persen, bahkan diarahkan ke level mendekati 6 persen. Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia menghadiri acara Seminar International Debottlenecking di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
“Di kuartal 3 dan 4 akan di atas 5,5 persen, saya mendorong ke arah 6,” ujar Purbaya kepada wartawan.
Respon Terhadap Kritik Ekonom
Menurutnya, kritik dari sejumlah ekonom soal efektivitas belanja pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi pada semester II tahun ini belum tepat. Ia menekankan bahwa sektor swasta menjadi motor utama pertumbuhan, meski belanja pemerintah juga berkontribusi. Purbaya juga menyatakan bahwa kinerja ekonomi yang baik tidak hanya bergantung pada satu faktor, melainkan kombinasi dari kebijakan yang dijalankan.
“Mereka tidak tahu strategi ekonomi saya seperti apa. Walaupun kemarin cuma belanja pemerintah saja yang tumbuh, tidak akan sampai 5,61 persen. Kenapa? 90 persennya swasta,” katanya.
Penguatan Dukungan untuk Sektor Riil
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan memperkuat dukungan terhadap sektor riil. Beberapa insentif seperti program pembiayaan bagi industri ekspor—tekstil, furnitur, dan alas kaki—serta pengembangan infrastruktur kendaraan listrik akan menjadi fokus utama. Purbaya juga menyebutkan bahwa segera akan diadakan pertemuan dengan pelaku industri untuk membahas skema pembiayaan yang lebih murah dan kompetitif.
“Kalau saya bilang kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen kan, untuk triwulan I 5,61 persen. Kita harapkan ke depan makin cepat, makin cepat, makin cepat,” ujarnya.
Dalam konteks global, Purbaya menilai Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengelolaan ekonomi yang sangat baik. Hal ini terbukti dari kemampuannya menciptakan pertumbuhan ekonomi lebih cepat tanpa tambahan anggaran besar. Ia menjelaskan bahwa faktor eksternal seperti kondisi pasar internasional juga turut memengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi.
“Padahal dibanding seluruh negara di Asia, di dunia, kita ini paling canggih loh. Apalagi kemarin kita bisa berhasil, kalau saya bilang sih keajaiban ya, dengan anggaran yang sama, tanpa uang tambahan, kita bisa menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat,” tuturnya.
Langkah pemerintah, seperti memperkuat likuiditas perbankan, dinilai Purbaya sebagai upaya yang efektif untuk mendorong aktivitas ekonomi. Ia menjelaskan bahwa transfer dana dari Bank Indonesia ke sektor perbankan adalah salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan tanpa perlu modal tambahan. Selain itu, ada beberapa inisiatif lain yang juga mendukung Main Agenda untuk mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi.
“Dengan hanya mindahin uang dari BI ke perbankan kan, di antaranya itu ya, di samping program-program yang lain tentunya, artinya saya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa modal,” lanjutnya.
Purbaya mengakui adanya perbedaan pandangan dari kalangan ekonom, tetapi ia yakin bahwa Main Agenda yang telah dijalankan berdampak positif pada dinamika ekonomi nasional. Ia meminta seluruh pihak tetap optimistis dan menjaga komunikasi yang baik agar kebijakan fiskal bisa diapresiasi secara proporsional. “Tapi teman-teman juga bantu doain dong, jangan dijelek-jelekin terus. Fiskal bagus dibilang jelek, fiskal bagus, depositonya terkendali dibilang itu yang membuat nilai tukar melemah,” tuturnya.
Dalam rangka mencapai Main Agenda pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, Purbaya juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Ekspor menjadi salah satu faktor kunci, dan program pembiayaan yang lebih mudah diakses diharapkan mampu mendorong pertumbuhan yang stabil. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya memperbaiki mekanisme distribusi dana dan mendorong keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
