Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Bisnis

Main Agenda: Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Diprediksi Tembus Rp 2.005 Triliun

Joseph Thomas 3 mins read 8 views

ndonesia Rp 2,005 Triliun Main Agenda – Laporan terbaru dari Antara, Selasa (2/6/2026), menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim akan

Main Agenda: Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Diprediksi Tembus Rp 2.005 Triliun

Perubahan Iklim Rugikan Ekonomi Indonesia Rp 2,005 Triliun

Main Agenda – Laporan terbaru dari Antara, Selasa (2/6/2026), menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim akan mencapai hingga Rp 2.005 triliun pada 2029. Angka ini meningkat empat kali lipat dibandingkan proyeksi tahun 2025 yang sebesar Rp 469 triliun. Direktur Lingkungan Hidup di PPN/Bappenas, Nizhar Marimi, mengungkapkan bahwa krisis lingkungan global menambah kompleksitas dalam upaya pembangunan nasional.

Krisis Planet dan Strategi Mitigasi

Perubahan iklim tidak hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kestabilan ekonomi. Dalam Main Agenda, Nizhar menjelaskan bahwa perubahan iklim menjadi bagian dari triple planetary crisis, yang melibatkan hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan, dan perubahan iklim itu sendiri. Untuk menghadapi tantangan ini, Bappenas bersama Global Green Growth Institute (GGGI) mengadopsi inisiatif Green Indonesia Future Initiative (GIFT) 2026-2030.

“Kerja sama GIFT diharapkan memberikan solusi pendanaan alternatif untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” kata Nizhar.

Dalam Main Agenda, GIFT ditargetkan mengumpulkan investasi berkelanjutan sebesar 2 miliar dolar AS pada 2030, meningkat dua kali lipat dari pendanaan sebelumnya. Selain itu, program SNDC Indonesia 2031-2035 dan NAP 2026-2030 dirancang untuk memperkuat mitigasi dan adaptasi iklim. Penguatan keberlanjutan keanekaragaman hayati juga menjadi fokus melalui IBSAP 2025-2045 serta transformasi pola produksi dan konsumsi melalui Peta Jalan Ekonomi Sirkular Indonesia.

Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

Main Agenda menegaskan bahwa perubahan iklim akan memaksa pergeseran signifikan dalam struktur ekonomi. Sector peternakan, misalnya, sering dikaitkan dengan emisi karbon yang tinggi, sehingga perlu transformasi. Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan bahwa kolaborasi dengan FAO menjadi strategi utama untuk mendorong inovasi di sektor ini.

“Dalam jangka panjang, kita harus memanfaatkan riset dan inovasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim,” jelas Arif, di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Peternakan Indonesia berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi pedesaan. Fokus utamanya adalah meningkatkan produksi susu nasional, yang menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penerapan praktik berkelanjutan seperti pengurangan gas metan dari limbah ternak diperlukan untuk menjaga produktivitas sekaligus menjaga lingkungan.

Kolaborasi Internasional

Sebelumnya, BRIN bekerja sama dengan FAO dalam forum International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation di Jakarta. Pertemuan ini menegaskan komitmen Indonesia untuk menghadapi perubahan iklim melalui inovasi ilmu pengetahuan dan kerja sama global. Main Agenda menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas riset adalah kunci untuk memastikan adaptasi yang efektif.

Di samping itu, Main Agenda menyoroti kebutuhan pengelolaan sumber daya alam secara lebih bijak. Dengan ekonomi yang tumbuh cepat, Indonesia harus menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Program GIFT dan inisiatif lainnya diharapkan menjadi jembatan untuk mencapai keseimbangan ini.

Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi iklim yang besar. Kenaikan permukaan laut, pengurangan lahan pertanian, dan perubahan pola cuaca menjadi ancaman serius. Main Agenda memprediksi bahwa tanpa tindakan mitigasi yang terukur, kerugian ekonomi akan terus meningkat, bahkan melebihi proyeksi sebelumnya.

Kerugian ekonomi akibat perubahan iklim mencakup kerusakan pada infrastruktur, penurunan hasil pertanian, serta biaya pemulihan bencana alam. Main Agenda menyoroti pentingnya kesiapan nasional untuk menghadapi ancaman ini, termasuk perbaikan sistem pengairan, pengurangan polusi, dan pengelolaan sumber daya alam secara terpadu. Dengan strategi yang terarah, Indonesia bisa mengurangi dampak negatif sekaligus memperkuat ekonomi hijau.

Gabung diskusi