Latest Program: Kebutuhan Susu MBG Tembus 4,8 Miliar Kemasan, Industri Diminta Gandeng Koperasi
Latest Program – Kementerian Perindustrian melaporkan bahwa kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026 mencapai 4,8 miliar kemasan. Untuk mencapai target ini, industri susu diimbau untuk memperkuat kerja sama dengan koperasi, terutama dalam meningkatkan kapasitas produksi lokal. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar di Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, menyatakan bahwa saat ini, sekitar setengah dari kebutuhan total bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri.
Strategi Pemerintah untuk Memenuhi Kebutuhan Susu MBG
“Kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan 115 dan 125 mililiter (ml) hanya mencapai 2,39 miliar kemasan, atau 49,7 persen dari total kebutuhan MBG,” kata Merrijantij dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Kemenperin telah menginisiasi skema restrukturisasi yang memberikan reimbursement hingga 35 persen dari nilai investasi untuk produk ber-TKDN, serta 25 persen untuk produk dalam negeri lainnya. Menurut Merrijantij, kebijakan ini bertujuan mendukung pengembangan unit filling di industri susu dan koperasi yang ingin memproduksi susu kemasan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Koperasi Sebagai Mitra Strategis dalam Program MBG
Kementerian Pertanian sebelumnya mengusulkan konsep ‘Dapur Susu’ sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan susu MBG. Konsep Dapur Susu Indonesia (DaSI) dirancang untuk mengintegrasikan produksi susu ke dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG. Dengan modal yang relatif terjangkau, koperasi bisa membangun fasilitas pasteurisasi dan sterilisasi, sehingga memungkinkan produksi susu yang memenuhi standar kualitas.
“Dapur Susu akan menjadi kekuatan besar dalam menjangkau daerah-daerah yang masih kurang mendapat akses susu,” ujarnya.
Dalam skema ini, produsen susu akan mendapatkan jaminan penyerapan hasil produksi mereka. Kementerian Pertanian juga memperkenalkan konsep integrasi peternakan sapi dengan industri susu, terutama di Sulawesi Selatan, dengan dana Rp 5 miliar. Menurut Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, ini membuka peluang bagi peternak skala kecil untuk berkembang secara ekonomi sekaligus meningkatkan keberlanjutan program MBG.
Latest Program – Koperasi dianggap sebagai pelaku strategis dalam memperluas distribusi susu MBG ke luar Jawa, karena industri susu cenderung berkonsentrasi di Pulau Jawa. Makmun menambahkan bahwa dengan adanya kerja sama antara koperasi dan produsen, peternak bisa fokus pada pengelolaan kawasan pertanian, sementara pemasaran dan distribusi diakomodasi oleh program pemerintah. Selain itu, inisiatif ini juga diharapkan mendorong penggunaan bahan baku lokal yang lebih efisien.
Langkah kolaborasi ini menekankan pentingnya ekosistem produksi yang kuat. Dengan peningkatan kapasitas unit filling, industri susu bisa menghasilkan lebih banyak kemasan untuk memenuhi kebutuhan nasional. Makmun menjelaskan bahwa program DaSI memastikan stabilitas pasokan susu kepada penerima manfaat, yang mana kebutuhan minimal dua kali seminggu harus terpenuhi oleh MBG. Kemampuan produksi yang lebih besar juga akan membantu mengurangi risiko ketidakseimbangan pasokan.
Kebutuhan susu MBG yang tinggi mencerminkan pentingnya nutrisi bagi keluarga miskin dan anak-anak. Kementerian Perindustrian dan Pertanian terus berupaya memastikan keberlanjutan program ini melalui berbagai inisiatif. Koperasi, dengan sifatnya yang terjangkau dan dekat dengan masyarakat, dipandang sebagai mitra ideal dalam mendorong penguasaan teknologi produksi susu. Selain itu, keberadaan koperasi juga meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Latest Program – Tantangan utama dalam program MBG saat ini adalah ketersediaan sapi perah yang memadai. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah menekankan pentingnya dukungan dari berbagai sektor. Koordinasi antara Kementerian Pertanian, Kemenperin, dan koperasi menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan pasokan susu. Program ini juga menawarkan peluang untuk meningkatkan keberlanjutan pangan melalui penggunaan teknologi pasteurisasi yang efisien.
