Danantara Beri Waktu 3 Bulan Eksportir Sawit dan Batu Bara
Latest Program – Dalam upaya memperkuat transparansi perdagangan, Danantara memperkenalkan Latest Program baru yang memberikan jangka waktu tiga bulan bagi eksportir komoditas sawit dan batu bara untuk menyesuaikan proses ekspor mereka. Program ini bertujuan memastikan dana hasil ekspor tidak digunakan secara tidak efisien dan nilai transaksi benar-benar mencerminkan kondisi pasar. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki manajemen ekspor sumber daya alam (SDA), khususnya untuk mengatasi masalah under-invoicing dan overpricing yang terjadi di sektor tersebut.
Masa Transisi untuk Adaptasi
“Kami memberikan waktu tiga bulan bagi eksportir untuk berbenah sebelum menerapkan sistem yang lebih ketat,” kata Rosan di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Ia menekankan bahwa transparansi menjadi prioritas utama dalam setiap transaksi ekspor. Selama masa transisi ini, evaluasi berkala akan dilakukan setiap tiga bulan untuk memantau progres adaptasi eksportir dan menyesuaikan mekanisme yang diterapkan.
Program Latest Program ini diluncurkan dalam rangka mendukung stabilitas ekonomi nasional. Rosan menjelaskan bahwa data dari Presiden Prabowo Subianto serta laporan Bank Dunia menunjukkan adanya praktik under-invoicing dan overpricing yang merugikan negara. Dengan Latest Program, diharapkan nilai ekspor bisa lebih akurat mencerminkan harga pasar, sehingga meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional.
Langkah Penguatan Transparansi
Menurut Rosan, Latest Program juga bertujuan mencegah manipulasi data perdagangan nasional. Dengan sistem yang lebih terstruktur, pelaporan ekspor akan lebih sesuai dengan kondisi sebenarnya, mengurangi risiko kesalahan atau kecurangan. Eksportir akan diberikan kesempatan untuk menyesuaikan proses mereka selama periode transisi, sehingga tidak mengganggu kegiatan bisnis mereka secara signifikan.
Program ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek untuk masalah yang sudah lama terjadi. Rosan menambahkan bahwa ada beberapa komoditas ekspor yang mengalami ketidaksesuaian antara nilai invoice dan harga pasar. Dengan pengawasan lebih ketat dan penyesuaian sistem, diharapkan transaksi ekspor bisa lebih jujur, sehingga menguntungkan pihak-pihak terkait seperti pemerintah, investor, dan masyarakat.
Implementasi Latest Program akan dimulai pada periode Juni hingga Desember 2026. Selama tiga bulan pertama, eksportir akan diberikan kesempatan untuk memperbaiki kepatuhan terhadap aturan baru. Setelah masa transisi selesai, evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengecek sejauh mana program ini berhasil menekan praktik inkonsisten dalam transaksi ekspor. Rosan menyatakan bahwa hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan pada tahun 2027.
Dengan adanya Latest Program, Danantara berharap mampu menciptakan lingkungan usaha yang lebih adil bagi eksportir. Program ini tidak hanya fokus pada penyesuaian harga, tetapi juga memastikan bahwa dana ekspor digunakan secara efektif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Eksportir sawit dan batu bara diharapkan bisa menjaga konsistensi dalam pelaporan, sehingga memperkuat kepercayaan terhadap sistem perdagangan Indonesia.
