Key Discussion: Bank Indonesia Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga untuk Stabilkan Rupiah?
Key Discussion – Liputan6.com, Jakarta – Dalam tinjauan terkini terhadap nilai tukar rupiah, beberapa ahli pasar uang menyebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) mungkin segera mempertimbangkan penyesuaian suku bunga referensi yang saat ini berada di level 4,75 persen. Pergerakan mata uang Garuda yang terus melemah menjadi indikator kuat bahwa kebijakan moneter bisa menjadi solusi untuk mengendalikan tekanan eksternal dan memperkuat daya beli rupiah.
Analisis Rupiah dan Potensi Kenaikan Suku Bunga
Analisis terhadap kinerja rupiah menunjukkan bahwa tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang tidak terhindarkan. Ibrahim Assuaibi, salah satu ahli ekonomi kunci, menyatakan bahwa tercapainya level kurs Rp 18.000 per dolar AS pada Mei 2026 adalah kemungkinan besar. Jika terjadi, rupiah bisa melanjutkan penurunan hingga menyentuh angka Rp 22.000, yang menunjukkan kebutuhan BI untuk segera memperkuat kebijakan moneter.
“Dalam perdagangan Mei ini, kurs Rp 18.000 bisa saja terjangkau. Jika terjadi, rupiah berpotensi melanjutkan penurunan ke Rp 22.000,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
Dalam Key Discussion, Ibrahim menegaskan bahwa BI perlu menaikkan suku bunga dasar sekitar 25-50 basis poin (bps) dalam pertemuan Dewan Gubernur berikutnya. Meski situasi ekonomi global saat ini masih menantikan keputusan BI, analis memperkirakan pihak berwenang akan memilih kenaikan suku bunga sebagai langkah stabilisasi. Hal ini didukung oleh tekanan inflasi yang terus meningkat dan kebutuhan mengurangi risiko pelemahan rupiah.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kebijakan BI
Kebijakan BI tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi domestik, tetapi juga oleh dinamika global. Dalam Key Discussion, Ibrahim menyoroti perubahan kepemimpinan di The Federal Reserve (The Fed) sebagai salah satu faktor utama. Kevin Warsh, yang menggantikan Jerome Powell, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga dolar AS cenderung menguat. Hal ini menambah tekanan pada rupiah, terutama di tengah kenaikan harga minyak dunia yang sedang terjadi.
“Impak kepemimpinan The Fed saat ini membuat suku bunga lebih tinggi akan berkontribusi pada penguatan indeks dolar, apalagi jika diiringi oleh perang dagang,” imbuhnya.
Pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping juga menjadi isyarat geopolitik yang memengaruhi harga minyak. Perundingan tersebut berpotensi mengubah arah pasokan minyak global, sehingga memperkuat posisi rupiah atau sebaliknya. Dalam Key Discussion, Ibrahim menekankan bahwa BI harus memperhatikan dampak dari perubahan kebijakan luar negeri, terutama dalam konteks kenaikan harga minyak dan stabilitas ekonomi China.
Menjelang libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026, BI terus berupaya mengendalikan volatilitas rupiah. Karena pasar valuta asing Indonesia sedang tidak aktif, BI mengambil langkah-langkah intensif untuk mengurangi tekanan eksternal. Dalam Key Discussion, para ahli menyebutkan bahwa BI sedang memantau berbagai indikator, termasuk permintaan valuta asing, untuk memastikan stabilitas nilai tukar.
“Kurs rupiah Jumat pagi mencapai Rp 17.600 lebih, lalu turun. Ini membuktikan bahwa BI sedang melakukan upaya stabilisasi secara aktif,” tambahnya.
Key Discussion menyoroti bahwa kenaikan suku bunga bisa menjadi strategi jangka panjang untuk mengatasi inflasi dan menjaga daya beli rupiah. Meski BI sedang mencoba menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar, beberapa analis menilai bahwa keputusan menaikkan suku bunga adalah hal yang lebih mendesak. Dalam situasi seperti ini, BI harus memastikan bahwa kebijakan moneter tidak hanya menangani tekanan dari luar, tetapi juga memberikan kepastian bagi sektor ekonomi dalam negeri.
