China dan AS Perluas Perdagangan Pertanian Setelah Kesepakatan di Beijing
Topics Covered – Jakarta, Liputan6.com – Kesepakatan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) untuk memperluas perdagangan pertanian telah diumumkan setelah KTT terbaru di Beijing. Perjanjian ini menargetkan pengurangan tarif serta penyelesaian hambatan non-tarif, termasuk masalah akses pasar yang sebelumnya memengaruhi aliran produk pertanian. Menteri Perdagangan Tiongkok menyatakan komitmen untuk mendorong pertukaran dua arah, dengan fokus pada komoditas seperti kedelai, gandum, dan sorgum.
Kesepakatan ini dilihat sebagai langkah penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antara dua negara. Data menunjukkan bahwa impor pertanian dari AS ke Tiongkok terhambat karena bea tambahan 10 persen setelah putaran tarif timbal balik tahun lalu. Kenaikan tersebut menyebabkan penurunan volume perdagangan sebesar 65,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dengan komitmen untuk menurunkan tarif, ekspektasi pertumbuhan kembali di sektor ini mulai terlihat.
Detail Komitmen dan Pelaku Utama Impor
Topics Covered – Analisis menunjukkan bahwa negara bagian AS tetap menjadi pembeli utama produk pertanian yang masuk ke Tiongkok. Beberapa analis memperkirakan bahwa pengurangan tarif kedelai sebesar 10 persen bisa membuka peluang bagi perusahaan pengolahan swasta Tiongkok untuk kembali bersaing di pasar AS. Meski impor terhenti selama periode tertentu, kebutuhan Tiongkok akan bahan baku pertanian tetap tinggi.
Kementerian Perdagangan Tiongkok juga menekankan bahwa perjanjian ini mencakup penyelesaian masalah regulasi dan standar kualitas produk. Contohnya, Tiongkok berkomitmen mempercepat proses pendaftaran fasilitas daging sapi dan ekspor unggas dari negara bagian tertentu. Langkah ini diharapkan mempercepat pengiriman komoditas pertanian ke pasar Tiongkok, terutama untuk menjawab kebutuhan pangan nasional yang semakin meningkat.
Komitmen Komersial dan Dampak Ekonomi
Penyelesaian hambatan non-tarif menjadi fokus utama dalam komitmen bilateral. Sebanyak 425 pabrik daging sapi AS akan mendapatkan perpanjangan registrasi lima tahun, sementara 77 fasilitas tambahan juga disetujui. Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, menyebutkan bahwa Tiongkok setuju menerapkan perjanjian ini, termasuk pembukaan kembali impor dari 17 negara bagian AS.
Dengan pengurangan tarif, ekspor pertanian AS ke Tiongkok diharapkan meningkat signifikan. Impor pertanian AS ke Tiongkok mencapai USD 8,4 miliar atau setara Rp 147,70 triliun pada 2025, menurut data Departemen Pertanian AS. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menegaskan bahwa AS ingin melihat pembelian senilai “puluhan miliar dolar AS” dalam tiga tahun mendatang. Kebutuhan ini akan mencakup berbagai komoditas seperti jagung dan bahan baku pangan lainnya.
“Pengurangan tarif pada produk pertanian menjadi simbol normalisasi perdagangan Tiongkok-AS. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang untuk membangun hubungan ekonomi yang lebih stabil,” ujar Johnny Xiang, pendiri AgRadar Consulting. Analis tambah menyoroti bahwa perjanjian ini bisa mendorong ekspor pertanian AS ke Tiongkok mencapai titik baru dalam sektor pertanian global.
Strategi Masa Depan dan Tantangan
Langkah-langkah ini juga mencakup pengaturan kerja sama teknis untuk memastikan kualitas produk yang diperdagangkan sesuai standar internasional. Tiongkok berupaya mempercepat proses verifikasi dan inspeksi, sementara AS berkomitmen menjamin transparansi dalam distribusi bahan baku. Menteri Perdagangan Tiongkok menyatakan bahwa perjanjian akan diselesaikan secara bertahap, dengan target peningkatan ekspor sektor pertanian pada 2026.
Kesepakatan ini memiliki dampak luas pada ekonomi kedua negara. Bagi AS, peningkatan impor pertanian bisa memperkuat industri pertanian lokal, termasuk segmen eksportir kecil yang sebelumnya kesulitan masuk pasar Tiongkok. Sementara bagi Tiongkok, aliran bahan baku yang lebih lancar bisa meningkatkan efisiensi rantai pasok dan memperkuat keamanan pangan. Analyst memperkirakan bahwa dampak ekonomi akan terasa dalam beberapa tahun ke depan, terutama jika perjanjian ini berjalan sesuai target.
Topics Covered – Perjanjian ini juga membuka peluang untuk ekspor pertanian dari negara lain ke Tiongkok. Dengan AS memperluas akses pasar, Tiongkok bisa mengurangi ketergantungan pada negara-negara lain. Namun, tantangan utama tetap ada, seperti fluktuasi harga dan perubahan kebijakan internasional. Komitmen jangka panjang akan menjadi kunci keberhasilan normalisasi perdagangan ini.
