Minyak dari Rusia Kapan Datang? Ini Jawaban Bahlil
Key Discussion – Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa minyak mentah (crude oil) dari Rusia akan tiba di Indonesia dalam waktu dekat. Menurutnya, estimasi pengiriman bisa terjadi dalam satu hingga dua minggu ke depan. “Secara deal sudah. Kontrak sudah. Sekarang bicara tentang teknik pengirimannya dan mungkin satu dua minggu ini sudah bisa, ya,” ujarnya di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Komitmen Impor 150 Juta Barel
Ia menjelaskan bahwa impor tersebut merupakan bagian dari komitmen pembelian minyak mentah sebanyak 150 juta barel dari Rusia, yang akan dilaksanakan bertahap hingga akhir tahun 2026. Bahlil belum merinci volume impor tahap awal maupun kilang yang akan mengolah minyak tersebut. Dalam kondisi global yang dinamis, pemerintah mengutamakan kepastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan masyarakat dan sektor industri. “Dalam keadaan kondisi kayak begini negara harus menjamin ketersediaan semua jenis BBM. Itu jauh lebih penting,” tegasnya.
Penjelasan Yuliot Tanjung
Selain Bahlil, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebutkan bahwa impor minyak mentah dari Rusia akan dilakukan menggunakan harga pasar. Dia mengatakan tidak tahu apakah ada diskon khusus dalam transaksi ini. “Ini kan kita ikut harga pasar. Itu kalau ada diskon, kita juga enggak tahu,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Adapun pengadaan minyak mentah dilakukan secara bertahap karena keterbatasan kapasitas penyimpanan di Indonesia. Pembelian 150 juta barel ini bertujuan memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir 2026. “Kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” katanya.
Skema Impor yang Dibahas
Bahlil Lahadalia juga mengungkapkan bahwa ada dua alternatif skema impor. Pertama, melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan kedua, melalui Badan Layanan Umum (BLU). Regulasi untuk kedua opsi tersebut sedang disiapkan. “Jadi sekarang kita tinggal instrumen bagaimana kita mengimpornya. Apakah langsung BUMN atau ada BLU? Ini dua opsi yang lagi kita siapkan payung regulasinya,” jelas Yuliot.
Yuliot menambahkan bahwa pilihan BUMN dan BLU memiliki pertimbangan masing-masing. Impor melalui BUMN bisa menimbulkan konsekuensi, seperti proses tender yang wajib dilalui. Sementara itu, skema BLU menawarkan kemudahan, termasuk aspek pembiayaan. “Kalau di BUMN harus melalui tender terlebih dulu ya, sedangkan skemanya adalah G2G. Jadi, untuk ini konsekuensi itu yang saya maksudkan,” lanjutnya.
Langkah Strategis Pemerintah
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Meski masih ada tantangan, Bahlil yakin bahwa minyak mentah Rusia akan segera masuk. “Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada. Dan untuk (minyak mentah) Rusia sebentar lagi masuk ya,” ujarnya.