Harga Minyak Bisa Tembus USD 110 Jika Perang AS-Iran Berlanjut
S-Iran Berlanjut Harga Minyak Bisa Tembus USD 110 Jika - Dalam situasi ketegangan geopolitik yang semakin memanas, kenaikan harga minyak global menjadi
Harga Minyak Bisa Tembus USD 110 Jika Perang AS-Iran Berlanjut
Harga Minyak Bisa Tembus USD 110 Jika – Dalam situasi ketegangan geopolitik yang semakin memanas, kenaikan harga minyak global menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan pemerintah. Menurut Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, jika konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut, harga minyak mentah berpotensi mencapai USD 110 per barel. Fenomena ini disebut sebagai “harga minyak bisa tembus USD 110” dalam analisis terbaru yang menyoroti dampak ekonomi dari perang kedua negara tersebut.
Analisis Dari Forum Ekonomi Global
Dalam acara Brussels Economic Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, pada Jumat (5/6/2026), Airlangga mengungkapkan bahwa fluktuasi harga minyak global selama beberapa bulan terakhir telah menunjukkan peningkatan tajam. Penegangan antara AS dan Iran, yang sudah berlangsung sejak tahun 2023, berpotensi memperparah keterbatasan pasokan minyak mentah dari Iran. “Ketegangan ini bisa memicu lonjakan harga energi, terutama jika terjadi penghentian produksi atau gangguan distribusi,” jelasnya dalam pidatonya. Menurut Airlangga, pemerintah Indonesia memperkirakan harga minyak akan mencapai kisaran USD 110, dengan prediksi bahwa pasar mungkin tidak menunjukkan peningkatan terbesar sejak 2007-2008.
Perbandingan Dengan Krisis Sebelumnya
Menariknya, situasi saat ini memiliki kemiripan dengan krisis minyak global sebelumnya. Dalam perang Rusia-Ukraina, harga minyak sempat melampaui USD 140 per barel, tetapi akhirnya kembali stabil setelah pasokan dari negara-negara lain meningkat. “Situasi sekarang lebih kritis karena penurunan produksi minyak Iran tidak hanya memengaruhi pasokan internasional, tetapi juga berpotensi memicu reaksi dari pihak lain,” tambah Airlangga. Ia mengingatkan bahwa fluktuasi harga minyak sangat dipengaruhi oleh dinamika politik, sehingga “harga minyak bisa tembus USD 110” menjadi kemungkinan besar jika perang AS-Iran tidak segera berdamai.
Sementara itu, para ahli ekonomi di Eropa menyatakan bahwa harga minyak yang meningkat bisa memberikan tekanan pada inflasi dan anggaran pemerintah. “Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi, transportasi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat,” kata seorang ekonom di Brussels. Peningkatan harga minyak ke USD 110 juga berpotensi memperburuk kondisi ekonomi negara-negara yang bergantung pada impor energi, seperti Indonesia dan negara-negara ASEAN.
Konflik AS-Iran diperkirakan akan berdampak lebih besar pada harga minyak dibandingkan krisis sebelumnya. Hal ini dikarenakan Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar dunia, dan penghentian produksi bisa menyebabkan kenaikan pasokan global. “Jika AS memutus akses Iran ke pasar internasional, pasokan minyak mentah akan berkurang, sehingga memicu lonjakan harga,” jelas Airlangga. Dalam skenario terburuk, harga minyak bisa mencapai lebih dari USD 110, bahkan hingga USD 130, jika terjadi keterlibatan langsung dari pihak lain seperti negara-negara Arab atau OPEC.
Pemerintah Indonesia terus memantau kondisi pasar energi untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga. Menteri Airlangga menegaskan bahwa langkah-langkah kebijakan fiskal dan persediaan minyak nasional akan diambil untuk mengurangi dampak ekonomi. “Meski kita optimis bahwa harga minyak tidak akan kembali ke USD 140, tetapi kita tetap waspada terhadap kenaikan signifikan ke USD 110,” kata dia. Di sisi lain, para analis menilai bahwa “harga minyak bisa tembus USD 110” masih terjangkau selama pasokan dari produsen lain tetap terjamin.
Kenaikan harga minyak ke USD 110 juga berdampak pada sektor-sektor vital ekonomi. Dalam perekonomian Indonesia, biaya bahan bakar dan produksi industri bisa meningkat, yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. “Masyarakat harus siap menghadapi kenaikan harga bahan bakar, terutama jika minyak terus berada di atas USD 110,” kata salah satu pakar ekonomi. Pemerintah juga sedang menyiapkan skenario penyesuaian harga domestik, terutama untuk mengurangi beban rakyat. “Dengan harga minyak yang stabil di USD 110, kita bisa menyesuaikan harga jual minyak dalam negeri secara bertahap,” tambah Airlangga.
