Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Bisnis

Facing Challenges: Rupiah Tembus 18.000, Istana Buka Suara

Barbara Miller 3 mins read 8 views

Rupiah Melorot ke Rp18.000, Pemerintah Memberi Penjelasan Facing Challenges - Menyikapi kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tantangan, Menteri Sekretaris

Facing Challenges: Rupiah Tembus 18.000, Istana Buka Suara

Rupiah Melorot ke Rp18.000, Pemerintah Memberi Penjelasan

Facing Challenges – Menyikapi kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tantangan, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan respons terkait penurunan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Ia menyatakan bahwa berbagai kementerian dan lembaga telah berupaya memperkuat koordinasi dalam mengambil langkah-langkah intervensi. “Kita sedang memantau dan mengambil langkah-langkah secara terus-menerus,” jelas Prasetyo saat berbicara di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (4/6/2026). Pemerintah, menurutnya, menjaga konsistensi dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh mata uang lokal.

Fundamental Ekonomi Diyakini Kuat

Prasetyo memastikan bahwa dasar ekonomi Indonesia tetap stabil, meskipun rupiah mengalami pelemahan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional dan inflasi yang masih terkendali menjadi penunjuk bahwa ekonomi Indonesia memiliki kemampuan dasar yang memadai. “Kami yakin bahwa fundamental ekonomi tetap memadai,” tambahnya. Dalam wawancaranya, ia menekankan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga kekuatan rupiah meski nilai tukar terus mengalami penurunan.

“InsyaAllah, kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” kata Prasetyo.

Ia menjelaskan bahwa meskipun ada tekanan dari luar, seperti kondisi ekonomi global yang tidak menentu, pemerintah tetap optimistis dalam menghadapi tantangan. Prasetyo juga menyebutkan bahwa penurunan rupiah saat ini tidak mengubah visi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Pembicaraan tentang rupiah yang mengalami pelemahan juga diikuti oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menegaskan bahwa pelemahan tersebut berdampak pada utang pemerintah yang berdenominasi valuta asing. Namun, kondisi ini masih dalam batas simulasi yang telah diperhitungkan sejak awal. “Kupon utang bersifat tetap, jadi kita tidak perlu terlalu khawatir,” ujar Purbaya saat diwawancara di Kompleks DPR RI, Kamis (4/6/2026).

Pembayaran Utang Masih dalam Rangka Perhitungan

Purbaya mengakui bahwa pelemahan kurs akan menaikkan nilai pembayaran utang dalam rupiah, terutama untuk kewajiban luar negeri. “Ketika rupiah melemah, pembayaran utang dalam rupiah meningkat, tapi ini tetap dalam rentang yang telah kami simulasikan,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah mengasumsikan rupiah berkisar di Rp16.500 per dolar AS.

“Di masa APBN pertama, asumsi nilai tukar sekitar Rp16.500. Kami juga melakukan simulasi jika ada perubahan faktor ekonomi, termasuk skenario pelemahan rupiah yang lebih dalam,” ujar Purbaya.

Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan ekonomi dasar Indonesia. “Secara dasar, rupiah seharusnya lebih kuat dari posisi sekarang,” katanya. Pemerintah, menurutnya, tetap optimistis dalam menghadapi tantangan tersebut.

Kebijakan pemerintah dalam menghadapi tantangan juga melibatkan peran Bank Indonesia (BI) sebagai pengelola kebijakan moneter. BI, kata Purbaya, telah melakukan beberapa langkah untuk memastikan bahwa pergerakan rupiah tidak melemah secara signifikan di bawah asumsi awal. Dengan adanya koordinasi antara kementerian keuangan, BI, dan lembaga lainnya, pemerintah berharap dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia masih dikenal sebagai salah satu yang paling stabil di kawasan Asia Tenggara. Meski menghadapi tantangan, pemerintah memastikan bahwa stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Dengan indikator seperti pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, defisit transaksi dagang yang terkendali, dan inflasi yang tidak melebihi batas, ekonomi Indonesia dinilai mampu menghadapi tantangan eksternal.

Menteri Prasetyo menambahkan bahwa pemerintah juga sedang menyiapkan beberapa kebijakan tambahan untuk memperkuat daya tahan ekonomi. Diantaranya, penyesuaian kebijakan fiskal, peningkatan investasi dalam sektor strategis, serta penguatan kerja sama dengan negara-negara lain di tingkat regional dan global. “Kita perlu bersikap proaktif dalam menghadapi tantangan,” pungkasnya, menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut akan dilakukan secara bertahap dan terukur.

Gabung diskusi