Key Strategy: Target PSEL Bali Layani 1.500 Ton Sampah per Hari
Key Strategy: Target PSEL Bali Layani 1.500 Ton Sampah per Hari Key Strategy menjadi pusat perhatian dalam upaya transformasi sistem pengelolaan sampah di
Key Strategy: Target PSEL Bali Layani 1.500 Ton Sampah per Hari
Key Strategy menjadi pusat perhatian dalam upaya transformasi sistem pengelolaan sampah di Indonesia, terutama di Bali. Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi (Waste-to-Energy atau PSEL) di Bali, yang mulai dibangun secara resmi oleh pemerintah, menggambarkan langkah penting dalam menerapkan solusi berkelanjutan untuk masalah sampah. Proyek ini merupakan bagian dari rencana nasional yang menargetkan peningkatan efisiensi pengolahan sampah hingga 1.500 ton per hari, yang setara dengan volume sampah yang dikumpulkan oleh sekitar 500 truk per hari. Dengan adanya Key Strategy, Bali diharapkan menjadi model sukses dalam penerapan teknologi ramah lingkungan.
Implementasi Sistem PSEL di Bali
Key Strategy PSEL Bali dijelaskan oleh Fadli Rahman, CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera), sebagai pendekatan holistik yang tidak hanya membangun fasilitas pengolahan energi, tetapi juga melibatkan penataan sistem pengumpulan dan pengelolaan sampah secara terpadu. “Pembangunan PSEL ini adalah Key Strategy untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi energi dari sampah,” kata Fadli dalam wawancara dengan Antara, Sabtu (11/7/2026). Proyek ini diperkirakan selesai pada semester I-2028, dengan fasilitas yang berlokasi di Pedungan, Denpasar Selatan.
Pembangunan PSEL di Bali tidak terlepas dari peran pemerintah pusat dan daerah dalam mengalokasikan dana serta menyiapkan infrastruktur. Investasi sebesar Rp 3 triliun atau setara 170,4 juta dolar AS telah disiapkan untuk fase pertama proyek ini. Key Strategy ini juga mencakup kerja sama dengan Danantara Indonesia, yang berperan sebagai mitra pengembangan proyek strategis nasional. Dengan Key Strategy ini, Bali menjadi satu dari tiga lokasi awal yang akan menerapkan metode pengolahan sampah modern di seluruh negeri.
Teknologi dan Standar Emisi
Key Strategy PSEL Bali mengandalkan teknologi moving grate incinerator, yang merupakan pilihan terbaik dalam mengolah sampah campuran secara efektif. Teknologi ini telah digunakan di sekitar 75-80 persen fasilitas WtE global, dan memenuhi standar emisi yang ketat, yaitu European Industrial Emissions Directive (EU IED). Dengan Key Strategy ini, proses pembakaran sampah akan dilakukan pada suhu di atas 850 derajat Celsius, memastikan senyawa berbahaya diubah menjadi energi dan mengurangi polusi udara.
Pembakaran sampah dalam Key Strategy ini juga mengintegrasikan proses pengeringan yang dilakukan selama 5-7 hari untuk menurunkan kadar air. Hasil pembakaran kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik yang disalurkan ke PLN. “Sisa dari proses ini bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk keperluan industri atau pertanian,” tambah Fadli. Key Strategy ini tidak hanya berfokus pada produksi energi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Dalam Key Strategy PSEL Bali, keberhasilan proyek ini akan memberikan manfaat yang signifikan baik secara ekonomi maupun lingkungan. Diperkirakan, fasilitas ini mampu menangani 44 persen dari total sampah yang dihasilkan di pulau Bali, mengurangi risiko kesehatan bagi warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain itu, Key Strategy ini menargetkan penciptaan hingga 1.200 peluang kerja hijau, dengan prioritas diberikan kepada tenaga kerja lokal. “Dari sisi energi, listrik yang dihasilkan setara kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga per tahun,” jelas Fadli.
Key Strategy PSEL Bali juga menjadi contoh keberhasilan dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam. Dengan tarif energi sebesar 0,20 dolar AS per kilowatt-jam (kWh) melalui Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang, PLN akan memperoleh pasokan listrik yang stabil. Proyek ini selain mengurangi volume sampah, juga berpotensi menghemat biaya pengolahan limbah dan mendorong penggunaan energi terbarukan di Indonesia. Key Strategy ini berharap menjadi langkah awal menuju keberlanjutan ekosistem dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Key Strategy dalam PSEL Bali tidak hanya mengutamakan efisiensi teknis, tetapi juga transparansi dan partisipasi masyarakat. Fadli Rahman menekankan bahwa sistem ini dirancang untuk memastikan proses pengolahan sampah bisa diawasi secara berkala, sehingga masyarakat dapat memahami manfaat dan dampak dari proyek ini. “Kami ingin menciptakan Key Strategy yang selaras dengan kebutuhan lingkungan dan ekonomi, serta mendorong adopsi teknologi WtE di daerah lain,” kata Fadli. Proyek ini juga akan menjadi basis data bagi pengembangan proyek serupa di seluruh Indonesia.
Dengan Key Strategy yang terus diperkuat, Bali menjadi daerah yang menggabungkan inovasi teknologi dan komitmen lingkungan. Proyek PSEL di Bali diharapkan menjadi langkah nyata dalam mengurangi emisi per ton sampah hingga 80 persen dibandingkan metode tradisional. Selain itu, Key Strategy ini akan memberikan contoh bagaimana sampah bisa diubah menjadi sumber energi yang berguna, sekaligus menciptakan ekosistem pengolahan limbah yang lebih terpadu. Dengan adanya Key Strategy ini, Bali berpotensi menjadi pusat referensi bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan sampah di era modern.
