Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Waspada Potensi Banjir Rob di Pesisir Bali hingga 5 Juni 2026

James Gonzalez 3 mins read 4 views

esisir Bali hingga 5 Juni 2026 Waspada Potensi Banjir Rob di Pesisir - Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata utama Indonesia, kini dihimpit waspada

Waspada Potensi Banjir Rob di Pesisir Bali hingga 5 Juni 2026

Waspada Potensi Banjir Rob di Pesisir – Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata utama Indonesia, kini dihimpit waspada terhadap potensi banjir rob hingga 5 Juni 2026. Berdasarkan peringatan dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III, wilayah pesisir Bali akan mengalami kenaikan air laut yang signifikan akibat fenomena fase Bulan Purnama pada 31 Mei 2026. Fase tersebut menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan ketinggian pasang air laut, yang berpotensi menyebabkan banjir rob. Kepala BBMKG Wilayah III, Cahyo Nugroho, menjelaskan bahwa peringatan ini dikeluarkan untuk memastikan masyarakat siap menghadapi ancaman alam tersebut.

Fenomena Banjir Rob dan Faktor Penyebabnya

Banjir rob, atau gelombang pasang yang tinggi, terjadi karena kombinasi antara pasang tinggi alami dan pengaruh faktor seperti posisi Bulan serta kondisi angin. Fase Bulan Purnama, yang terjadi saat Bulan berada di posisi paling jauh dari Bumi, memperkuat efek pasang air laut. Cahyo Nugroho menegaskan bahwa fenomena ini bisa memicu kenaikan air laut hingga beberapa meter di wilayah pesisir Bali, terutama di Jembrana, Tabanan, Badung, Denpasar, Gianyar, dan Klungkung. Fenomena tersebut diprediksi akan berlangsung sepanjang periode 27 Mei hingga 5 Juni 2026, dengan puncaknya pada 31 Mei.

“Kenaikan pasang air laut maksimum yang berlangsung bersamaan dengan fase Bulan Purnama pada 31 Mei 2026, berpotensi meningkatkan risiko banjir rob di sejumlah daerah pesisir Bali,” tulis Cahyo saat memberikan peringatan melalui media sosial Instagram @bmkgbali, Minggu (31/5/2026).

Menurut data BMKG, kenaikan air laut tersebut disebabkan oleh interaksi gravitasi Bulan dan Matahari yang memicu pasang surut. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi ketinggian air, tetapi juga bisa mengubah arus dan gelombang, sehingga menambah risiko terhadap infrastruktur pesisir seperti jembatan, terowongan, dan permukiman di dekat garis pantai. Kondisi seperti angin tenang atau kencang, serta arus laut yang berubah, menjadi faktor tambahan yang perlu dipertimbangkan dalam memprediksi dampak banjir rob.

Dampak pada Masyarakat dan Ekonomi

Banjir rob bisa menyebabkan kerusakan parah di daerah pesisir Bali, terutama di kawasan yang memiliki sistem drainase terbatas. Peningkatan ketinggian air laut yang ekstrem bisa menyebabkan air masuk ke permukiman, mengganggu aktivitas harian seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata. Di sisi lain, peningkatan gelombang juga berdampak pada transportasi laut, seperti kapal penumpang dan kapal barang yang beroperasi di pelabuhan. Selain itu, daerah wisata yang bergantung pada ketersediaan pantai, seperti Kuta dan Sanur, bisa terganggu akibat penggenangan air.

“Berdasarkan peringatan dini dari BMKG, kenaikan air laut bisa mencapai 2-3 meter di beberapa titik pesisir Bali, sehingga perlu persiapan lebih dini untuk mengurangi risiko kerusakan,” imbuh BPBD DKI Jakarta dalam peringatan yang diunggah ke Instagram @bpbddkijakarta, Rabu 27 Mei 2026.

Warga pesisir Bali disarankan untuk memperkuat sistem pengamanan rumah, seperti membuat tambak atau pagar penghalang air. Di samping itu, masyarakat perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir rob yang berulang setiap tahun, terutama di musim penghujan atau saat angin berubah arah. Pemerintah daerah dan organisasi penanggulangan bencana terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak fenomena ini dan mengkoordinasikan respons darurat.

Mengingat peringatan dini dari BBMKG Wilayah III, masyarakat pesisir Bali perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca maritim. Informasi terkini dapat diperoleh melalui situs resmi bbmkg3.bmkg.go.id atau maritim.bmkg.go.id, serta melalui aplikasi BMKG. Dengan memantau perubahan ketinggian air laut dan mengikuti instruksi dari instansi terkait, risiko banjir rob bisa dikurangi secara signifikan. Selain itu, warga disarankan untuk menghindari aktivitas di dekat garis pantai saat fase Bulan Purnama berlangsung.

Gabung diskusi