Seskab Teddy Jawab Kritik soal Rombongan Prabowo ke Luar Negeri
Visit Agenda – Dalam wawancara terbaru, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa jumlah anggota rombongan Presiden Prabowo Subianto saat melakukan kunjungan ke luar negeri telah mengalami penyesuaian signifikan. Dijelaskan bahwa kini rombongan hanya terdiri dari 50 hingga 60 orang, dibandingkan dengan masa jabatan sebelumnya yang mencapai lebih dari 120 orang. Respons ini dilontarkan sebagai upaya memperjelas pandangan pemerintah terhadap kritik yang dilayangkan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, yang menilai kebiasaan Prabowo sering melakukan perjalanan internasional menguras anggaran pemerintah.
Jawaban Teddy tentang Kritik Rombongan Prabowo
Teddy dalam wawancara yang dibagikan melalui akun media sosial Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026), menjelaskan bahwa penurunan jumlah rombongan ini telah berlangsung secara bertahap. “Jumlah anggota rombongan Presiden saat ini jauh lebih minimal dibandingkan sebelumnya, lebih dari separuh dari jumlah yang pernah ada,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memastikan efisiensi dalam penggunaan anggaran, terutama mengingat isu biaya kunjungan luar negeri yang sering diperdebatkan publik.
“Zaman Pak Dino, dalam satu visit agenda bisa lebih dari 120 orang,” tambah Teddy, sambil membandingkan dengan kunjungan presiden sebelumnya. Ia menegaskan bahwa penyesuaian ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan evaluasi kebijakan yang lebih terarah.
Teddy juga menyebutkan bahwa rombongan presiden pada tahun 2014, misalnya, mencakup 110 orang selama kunjungan ke Lisabon, Portugal, New York, Washington DC, dan Osaka, Jepang. Anggota rombongan tersebut terdiri dari berbagai elemen, termasuk Dino Patti Djalal. Menurutnya, keberadaan Dino di dalam rombongan itu memberikan dampak yang terukur pada skala biaya dan efektivitas komunikasi pemerintah.
Perbandingan Anggota Rombongan dalam Kunjungan Luar Negeri
Pembahasan tentang visit agenda Prabowo juga mencakup perbandingan antara periode sebelumnya dan saat ini. Teddy menjelaskan bahwa dalam beberapa kunjungan yang lalu, rombongan mencakup pejabat pemerintah, anggota legislatif, serta jurnalis. Namun kini, jumlahnya dikurangi demi efisiensi dan untuk fokus pada misi utama kunjungan tersebut.
Dalam kunjungan luar negeri yang lebih kecil, Teddy menyebutkan bahwa keberadaan rombongan tidak hanya terbatas pada pejabat administratif, tetapi juga melibatkan representasi dari berbagai sektor seperti ekonomi, politik, dan pertahanan. “Visit agenda yang lebih terkompresi memungkinkan pemerintah mengoptimalkan waktu dan sumber daya, sehingga hasilnya lebih terukur,” katanya.
Menurut Teddy, perubahan ini juga memperhatikan tanggung jawab anggaran. Ia menjelaskan bahwa biaya yang melebihi anggaran negara akan ditanggung sepenuhnya oleh uang pribadi Prabowo. “Segala pengeluaran yang tidak terduga dalam visit agenda akan disisihkan dari dana pribadi presiden,” tegasnya. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan komitmen Prabowo dalam mengatur penggunaan dana secara transparan.
Pembagian Biaya Kunjungan Luar Negeri
Dalam menjawab kritik terkait biaya kunjungan luar negeri, Teddy menekankan bahwa pemerintah telah memperketat pengawasan terhadap pengeluaran. Ia mengungkapkan bahwa rombongan Prabowo kini diatur dengan lebih baik, sehingga biaya yang terjadi selama visit agenda lebih terkendali.
Menurutnya, pengurangan jumlah anggota rombongan tidak hanya menekan biaya, tetapi juga meningkatkan kualitas komunikasi dengan pihak luar negeri. “Dengan visit agenda yang lebih kecil, kami dapat mengoptimalkan penggunaan waktu dan fokus pada kepentingan nasional,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah terbuka terhadap saran dari berbagai pihak, termasuk Dino Patti Djalal, yang dianggap sebagai figur yang sangat profesional dalam bidang luar negeri.
Teddy menyoroti bahwa kritik Dino dianggap sebagai bagian dari proses evaluasi yang sehat. “Beliau memang seorang diplomat berpengalaman, pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, meski hanya selama sekitar tiga bulan,” katanya. Ia menambahkan bahwa kritik tersebut bisa menjadi bahan untuk memperbaiki kebijakan visit agenda ke depan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan politik yang semakin kompleks.
