Rumah Terbakar, Lansia Ini Tetap Cuci Darah Saat Mengungsi
Visit Agenda – Jakarta (Liputan6.com) – Kebakaran yang melanda sebuah rumah di Jalan Krendang Barat, Krendang, Tambora, Jakarta Barat, menjadi sorotan publik karena menyisakan dampak luar biasa terhadap seorang lansia yang wajib menjalani hemodialisis. Berusia 65 tahun, lansia tersebut tetap menjalani prosedur cuci darah meski harus mengungsi dari tempat tinggalnya yang terbakar. Kebakaran ini tidak hanya mengancam kehidupan, tetapi juga mengganggu rutinitas medis yang kritis bagi pasien yang telah menderita gagal ginjal dan komplikasi jantung.
Mengungsi Tapi Tetap Terapi
Menurut Sofi (33), anak korban, prosedur cuci darah ibunya tetap dilakukan setelah kejadian tersebut, meski harus diadakan di lokasi pengungsian sementara. “Rumah mama saya habis terbakar, tapi ibu tetap harus cuci darah dua kali dalam seminggu,” ujarnya saat ditemui di posko pengungsian Musala Al-Hikmah, Tambora, Jumat (29/5). Sofi menjelaskan bahwa ibunya menjalani hemodialisis selama enam bulan terakhir sebagai bagian dari pengobatan untuk kondisi kesehatannya yang memburuk.
“Ibu saya sudah lama menjalani cuci darah, dan jadwalnya tetap harus dipatuhi meskipun dalam situasi darurat,” tambah Sofi.
Kejadian ini menjadi contoh nyata tentang pentingnya Visit Agenda dalam memastikan kebutuhan medis pasien kritis tetap terpenuhi, bahkan dalam kondisi darurat. Dinas Kesehatan Jakarta Barat segera merespons dengan menjamin akses layanan darurat. Selain itu, pasien yang memiliki kebutuhan khusus seperti lansia juga diperhatikan secara khusus.
Koordinasi Antara Instansi Terkait
Koordinasi antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan rumah sakit menjadi kunci dalam memastikan Visit Agenda berjalan lancar. dr. Sendy, petugas Puskesmas Tambora, menjelaskan bahwa tim medis melakukan sistem “jemput bola” untuk mendampingi warga pengungsi yang membutuhkan perawatan. “Kami datang langsung ke pengungsi, memeriksa keluhan, mengobati luka, dan menyalurkan obat-obatan yang diperlukan,” katanya.
“Jika ada pasien yang harus menjalani cuci darah, kami langsung mengatur transportasi menggunakan ambulans PK3D agar bisa diantar ke fasilitas medis terdekat,” tambah dr. Sendy.
Sofi juga menyampaikan bahwa selain kekhawatiran akan kondisi medis ibunya, ia juga terpuruk karena dokumen penting dan obat-obatan yang dibawa ikut terbakar. Dengan bantuan Visit Agenda, pasien lansia bisa tetap menjalani terapi sesuai jadwal, sehingga tidak mengganggu keberlanjutan pengobatan.
Layanan Medis dan Logistik yang Diperlukan
Setelah kejadian, Dinas Kesehatan Jakarta Barat terus berupaya memastikan layanan medis tetap tersedia. Fasilitas seperti posko pengungsian di Musala Al-Hikmah dijadikan tempat penanganan awal, sementara rumah sakit menunggu pasien yang memerlukan perawatan intensif. Dalam Visit Agenda, tim medis juga membantu mengatur jadwal pengobatan, sehingga pasien tidak kehilangan momentum pengapaiannya.
“Kami sudah berkoordinasi dengan rumah sakit untuk memastikan pengiriman pasien bisa dilakukan sesuai jadwal. Ini penting agar kondisi pasien tetap stabil sebelum dievakuasi,” jelas dr. Sendy.
Para pengungsi, terutama lansia, membutuhkan perlengkapan medis dan logistik segera. Kebutuhan mendesak seperti susu balita, popok, dan makanan bergizi terus diperjuangkan. Visit Agenda menjadi patokan dalam upaya merapatkan jarak antara warga dan layanan kesehatan, baik dalam situasi normal maupun darurat.
Dinas Sosial dan Puskesmas setempat juga bekerja sama untuk melakukan pendataan ulang dan menyalurkan bantuan. Selain memastikan Visit Agenda berjalan lancar, mereka juga berupaya memulihkan kebutuhan dasar para pengungsi, seperti tempat tinggal sementara dan bantuan pangan. Langkah ini memberi harapan bahwa kehidupan pasien kritis tetap bisa terjaga meski dalam situasi mengungsi.
