Respons Sutradara Pesta Babi Usai Mama Sinta Laporkan Dugaan Eksploitasi
Visit Agenda – Dokumenter *Pesta Babi* yang sempat memicu kontroversi di tengah masyarakat, kini direspons oleh tim produksi melalui pernyataan resmi. Pemilik nama lengkap Yasinta Moowend, yang lebih dikenal sebagai Mama Sinta, melaporkan dugaan eksploitasi dirinya dalam film tersebut ke Polda Metro Jaya. Berdasarkan laporan dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT, Mama Sinta menyatakan bahwa wajahnya muncul di layar tanpa izin dan penjelasan yang jelas. Sutradara film, Dandhy Laksono, yang juga perwakilan tim produksi, menjelaskan bahwa mereka tetap menghormati pernyataan Mama Sinta dan berupaya menjelaskan konteks karya tersebut kepada publik.
“Kami secara aktif berkoordinasi dengan Mama Sinta sejak awal produksi. Tim kami ingin memastikan bahwa eksploitasi yang dituduhkan tidak terjadi secara tidak adil, dan kita tetap menjaga hubungan baik sambil menyelesaikan masalah ini,” ujar Dandhy dalam pernyataan tertulis yang diterima pada hari Sabtu (30/5/2026).
Proses Produksi dan Kolaborasi
Produksi *Pesta Babi* melibatkan beberapa lembaga, seperti Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc. Film ini digambarkan sebagai bentuk dokumentasi sosial yang menggambarkan permasalahan lokal di Tanah Papua, khususnya isu keadilan dan penggunaan data pribadi. Dandhy menyebutkan bahwa konsep film ini dirancang untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya hak atas privasi dan pengakuan budaya. “Visit Agenda berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan hak individu yang dilibatkan dalam proyek ini,” tambahnya.
Pengambilan gambar yang terjadi pada 23 Mei 2026 menjadi titik awal dari isu ini. Saat itu, Mama Sinta menyadari wajahnya muncul di video yang diputar di Susteran Maranatha, Jayapura, tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengonfirmasi. “Saya hanya ingin menonton film, tapi tiba-tiba wajah saya menjadi pusat perhatian. Ini membuat saya merasa tidak dihargai,” ungkap Mama Sinta dalam wawancara khusus. Dandhy mengakui bahwa tim produksi belum sempat bertemu langsung dengan Mama Sinta hingga 29 Mei, namun tetap berusaha menjelaskan alur kisah film tersebut secara transparan.
“Visit Agenda percaya bahwa dokumentasi ini bermaksud baik, dan kami akan terus berupaya memperbaiki proses komunikasi dengan Mama Sinta. Kami juga membuka ruang untuk diskusi dengan keluarga dan komunitas Malind,” terang Dandhy.
Konteks Budaya dan Proses Pemutaran
Kontroversi yang muncul terkait film ini memperlihatkan ketegangan antara ekspresi seni dan hak budaya. Mama Sinta, sebagai tokoh adat yang dikenal aktif di bidang keadilan sosial, menyatakan bahwa pemutaran film *Pesta Babi* tanpa izin menciptakan kesan bahwa komunitas adat dipakai sebagai objek untuk kepentingan politik atau media. “Visit Agenda adalah bagian dari upaya kami untuk menyampaikan isu ini ke masyarakat, tapi kami harap ada pertanggungjawaban atas penggunaan gambar saya yang tiba-tiba,” jelasnya. Laporan yang diajukan menyoroti pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, terutama Pasal 65 juncto 67, yang mengatur tentang penggunaan data tanpa persetujuan.
Tim produksi juga menyebutkan bahwa film ini diproduksi sebagai bentuk kolaborasi antara lembaga lokal dan internasional. Mereka berharap pemutaran film dapat menjadi sarana edukasi bagi publik tentang kehidupan adat di Papua. “Kami ingin menyelesaikan ini secara baik, sehingga Visit Agenda dapat menjadi representasi yang lebih seimbang dan akurat,” kata salah satu anggota tim. Namun, di tengah upaya ini, Mama Sinta menekankan bahwa hak atas privasi harus dihormati sejak awal.
Dalam rangka mempercepat penyelesaian, tim produksi menyatakan siap melakukan pertemuan langsung dengan Mama Sinta dan keluarganya. Mereka juga berencana untuk memberikan penjelasan rinci tentang bagaimana wajah Mama Sinta tercantum dalam film tersebut. “Visit Agenda berharap masyarakat dapat memahami bahwa film ini adalah bagian dari proses sosial yang kompleks. Kami tidak menyangkal usaha untuk menyebarluaskan pesan keadilan, tapi kami perlu memastikan semua pihak terlibat dalam keputusan akhir,” ujar Dandhy.
Sebagai bentuk respons, tim produksi juga memperkenalkan langkah-langkah untuk meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan gambar. Mereka berencana mengadakan acara diskusi dengan masyarakat adat dan akademisi untuk menggali lebih dalam mengenai permasalahan ini. “Kami ingin Visit Agenda bisa menjadi contoh bagaimana dokumentasi seni dapat berdampak positif, selama ada komunikasi yang terbuka,” pungkasnya. Dengan demikian, upaya untuk memperbaiki hubungan antara tim produksi dan Mama Sinta terus dilakukan guna mencapai kesepahaman yang sehat.
