Sepenggal Kisah dari Pulau Buru: Berkurban tanpa Memandang Perbedaan
Topics Covered ini membawakan cerita unik dari Pulau Buru, Maluku, tempat yang dulu dikenal sebagai penjara politik pada masa Orde Baru. Kini, pulau yang pernah menyimpan kegelapan tersebut menjadi simbol keharmonisan, terutama saat memperingati Idul Adha. Ratusan warga dari Desa Wamana Lama dan Wamana Baru mengumpulkan daging kurban, menunjukkan komitmen mereka untuk mengabaikan perbedaan agama dan budaya.
Sepenggal Kisah dari Pulau Buru: Masa Lalu dan Kini
Pulau Buru memang memiliki sejarah yang berliku. Pada masa Orde Baru, tempat ini berfungsi sebagai penjara politik bagi sejumlah tahanan yang diduga terlibat dalam peristiwa G30S/PKI. Diperkirakan sekitar 11.600 orang pernah tinggal di sini, mengalami kesendirian dan tekanan selama bertahun-tahun. Namun, seiring waktu, Pulau Buru berubah menjadi kampung yang harmonis, menampilkan keberagaman agama dan budaya dalam satu komunitas.
Malam Idul Adha tahun ini, suasana di Pulau Buru dipenuhi oleh gema takbir dan kegembiraan. Rombongan warga menggunakan rakit dari kaleng untuk menyeberangi Sungai Waigereng, yang memisahkan dua desa seberang. Dalam waktu sekitar satu menit, perjalanan yang biasanya memakan waktu 20-45 menit berjalan lancar. Jarak yang tidak terlalu jauh, tetapi suasana yang berbeda membuat perjalanan ini menjadi bagian dari tradisi yang terus hidup.
Kebudayaan dan Tradisi dalam Berkurban
Kampung-kampung di Pulau Buru memperlihatkan persatuan yang luar biasa. Saat Idul Adha tiba, warga tidak hanya membagikan daging kurban secara merata, tetapi juga memastikan semua keluarga, termasuk nonmuslim, merasakan kebahagiaan. “Kita berkurban tanpa membeda-bedakan,” kata Gusti Waemese, salah satu anggota panitia penyembelihan. Perayaan ini mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang terus dipertahankan meski lingkungan sekitar mengalami perubahan.
Tradisi berkurban di Pulau Buru juga mencerminkan kebutuhan ekonomi warga. Beberapa dari mereka menjual sapi untuk mendapatkan dana, sementara yang lain menghabiskan hewan kurban untuk kebutuhan keluarga. Mama Anita, penduduk Desa Wamana, mengatakan bahwa membagikan daging kurban adalah cara untuk mengingatkan masyarakat pada nikmat yang sebelumnya terabaikan. “Keluarkan yang untuk perawatan, tapi tetap berbagi,” imbuhnya.
Daging kurban yang diberikan menunjukkan bahwa keberagaman agama di Pulau Buru bukan hambatan, melainkan kekuatan dalam menjalin persaudaraan. Meski mayoritas warga kini beragama Islam, sebagian masih mempertahankan kepercayaan Kristen atau animisme. Perayaan Idul Adha menjadi momen untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat, menjadikannya sebagai Topics Covered yang menyentuh.
Berkurban di Pulau Buru bukan sekadar ritual agama, tetapi juga bentuk perayaan kebersamaan yang memperkuat jalinan hubungan antarwarga, meski mereka berasal dari latar belakang yang berbeda.
