Skip to content
beritaterbaik
bd66379f-ae92-4c3e-ba95-2e54682ea02d-0
  • Home
  • News
  • Bisnis
  1. Home
  2. News
  3. Solving Problems: Balita Tewas Ditangan Paman, Polisi Bongkar Pengakuan Mengejutkan
News

Solving Problems: Balita Tewas Ditangan Paman, Polisi Bongkar Pengakuan Mengejutkan

Linda Moore Reporter Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 01:43 WIB 4 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
c50a8e06-b3cf-4bba-ad82-87f39701828f-0

Table of Contents

Toggle
  • Penyebab Pembunuhan Balita Berusia 2,5 Tahun Terungkap, Tersangka Mengakui Motif Mengejutkan
    • Pengakuan Tersangka: Bisikan di Pikiran dan Kebutuhan Bertemu Tuhan
    • Hasil Visum: 32 Luka Tusuk di Tubuh Korban
    • Kasus yang Muncul: Dinamika Keluarga dan Pengawasan yang Longgar
    • Potensi Bunuh Diri: Tindakan Akhir Tersangka
    • Kesimpulan: Kombinasi Tekanan dan Kondisi Kesehatan

Penyebab Pembunuhan Balita Berusia 2,5 Tahun Terungkap, Tersangka Mengakui Motif Mengejutkan

Solving Problems – Kota Bekasi menjadi sorotan setelah kasus pembunuhan balita yang terjadi di rumah kontrakan Jatirangga, Jatisampurna, ditemukan selesai. Kasus ini berawal dari aksi tega yang dilakukan oleh tersangka G (18), paman kandung korban, yang akhirnya mengakhiri nyawa anak keponakannya, A, dengan cara memotong lehernya. Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, insiden tersebut terjadi karena tersangka merasa terganggu saat bermain game. “Ketika korban naik ke punggungnya, hal itu mengganggu kegiatan bermain game yang sedang dilakukannya,” jelas Iqbal kepada wartawan, Jumat (29/5/2026). Emosi yang memuncak akhirnya memicu G untuk menyerang korban secara langsung.

Pengakuan Tersangka: Bisikan di Pikiran dan Kebutuhan Bertemu Tuhan

Dalam pemeriksaan, G mengungkapkan bahwa ia tidak hanya marah akibat gangguan dari balita, tetapi juga terdampak oleh bisikan-bisikan di dalam pikirannya. “Pengakuannya ada bisikan-bisikan. Dia juga pengen cepat ketemu Tuhan,” tambah Iqbal. Menurut informasi yang diterima polisi, G kerap merasakan suara aneh yang membuatnya merasa cemas sebelum melakukan aksi pembunuhan. Hal ini terjadi meski kondisi korban justru terlihat tenang, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Kasat Reskrim menjelaskan bahwa korban, A, sehari-hari diasuh oleh neneknya sejak masih bayi. Kedua orang tersebut tinggal bersama tersangka G di kontrakan yang sama. Setiap sore, nenek wajib pergi berjualan untuk mencari nafkah, sehingga korban di tinggalkan di bawah pengawasan G. Kondisi ini memicu pertanyaan tentang tanggung jawab G dalam menjaga anak yang sangat kecil.

Dalam keterangan, Iqbal menyebutkan bahwa korban sempat menangis selama tiga jam sebelum ditemukan tewas. “Bayi ini menangis kurang lebih tiga jam,” ujarnya. Bahkan, seorang saksi di sekitar tempat kejadian perkara mengatakan masih mendengar suara tangisan lemah dari dalam rumah saat G pergi mengisi token listrik menjelang waktu magrib. Keterlambatan respons dari tersangka menjadi indikasi awal keganasan yang terjadi.

Hasil Visum: 32 Luka Tusuk di Tubuh Korban

Berdasarkan hasil visum yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Polri Kramat Jati, terungkap fakta bahwa korban mengalami kekerasan berat. “Khusus di wajah saja ada 20 tusukan. Kemudian di badan ada 12. Jadi total kurang lebih 32 tusukan di seluruh tubuh korban,” jelas Iqbal. Dengan jumlah luka yang begitu banyak, polisi memperkirakan bahwa serangan terjadi dalam waktu singkat dan tanpa keraguan. Dalam proses penyerangan, G menancapkan pisau pertama di kepala korban, lalu melanjutkan ke tubuh bagian lain.

Penyidik juga menemukan fakta bahwa G memiliki riwayat gangguan mental yang berkelanjutan. Keterangan dari keluarga menyatakan bahwa tersangka sudah beberapa kali menyampaikan niat untuk mengakhiri hidup. “Tersangka ini udah sempat mencoba menyampaikan ingin bunuh diri kurang lebih 10 kali,” terang Iqbal. Faktor ini memperkuat dugaan bahwa aksi kekerasan terjadi karena kombinasi dari tekanan psikologis dan kondisi kesehatan fisik yang menurun.

Epilepsi, penyakit yang diderita oleh G, disebut menjadi salah satu penyebab munculnya stres yang berlebihan. Menurut Iqbal, penyakit tersebut mengganggu kestabilan mental tersangka sejak lama. “Jadi dia juga stres dengan penyakitnya,” tambahnya. Dengan keadaan emosi yang terus meningkat, G mungkin merasa kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, sehingga mengambil langkah ekstrem untuk mengakhiri kehidupan korban.

Kasus yang Muncul: Dinamika Keluarga dan Pengawasan yang Longgar

Keluarga korban memberikan keterangan bahwa pengasuhan A oleh neneknya selama ini berjalan lancar. Namun, kondisi yang terjadi saat G mengambil alih tugas pengawasan membuat keadaan berubah drastis. “Pada saat hari kejadian itu, tersangka tidak ada komunikasi dan naik ke atas sama sekali,” terang Iqbal. Hal ini menunjukkan bahwa G memutus hubungan dengan korban, mungkin karena rasa frustrasi atau kebosanan.

Dalam konteks keluarga, G mengakui bahwa korban sering kali rewel atau menangis, sehingga memicu keinginan untuk menenangkan anak tersebut. Namun, di hari kejadian, G tidak lagi berupaya memperbaiki situasi. Dengan kondisi emosional yang tidak terkendali, ia memilih serangan fisik yang mengarah pada kematian. “Biasanya jika korban rewel, G meminta bantuan kakaknya di lantai dua,” jelas Iqbal. Kebutuhan ini tidak terpenuhi, sehingga aksi menjadi lebih ganas.

Pembunuhan balita ini tidak hanya memicu kekecewaan, tetapi juga membuat masyarakat lokal menggugat ketangguhan pengawasan yang dilakukan oleh G. Meski berusia 18 tahun, G ditempatkan sebagai pengasuh utama korban, yang seharusnya bisa menjadi pelindung, bukan pelaku kekerasan. “Tersangka mengaku bahwa tindakannya dilakukan karena terganggu saat bermain game,” ulang Iqbal. Faktor ini bisa menjadi titik awal dari peristiwa tragis tersebut.

Potensi Bunuh Diri: Tindakan Akhir Tersangka

Berdasarkan laporan, setelah melakukan pembunuhan terhadap korban, G diduga mencoba mengakhiri hidupnya sendiri di dalam kontrakan. “Setelah melakukan aksinya dia mencoba bunuh diri,” kata Iqbal. Tindakan ini menunjukkan bahwa G tidak hanya marah terhadap korban, tetapi juga merasa bersalah atau tertekan setelah menghabiskan nyawa keponakannya. Dalam proses ini, ia mungkin mengalami perasaan putus asa yang memicu keputusannya untuk mengakhiri kehidupan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana tekanan emosional dan kondisi kesehatan fisik bisa memicu tindakan sadis. Pihak kepolisian menilai bahwa kejadian tersebut bukan hanya karena kebencian terhadap korban, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi dari kegundahan dalam jiwa G. Dengan tambahan fakta tentang bisikan di dalam pikirannya, kasus ini menjadi lebih kompleks dan memicu perdebatan tentang penyebab psikologis.

Keluarga korban mengungkapkan bahwa G telah lama menunjukkan tanda-tanda kegundahan mental. Dalam perjalanan hidupnya, ia beberapa kali menyampaikan keinginan untuk berhenti hidup. “Tersangka ini udah sempat menyampaikan ingin bunuh diri kurang lebih 10 kali,” tegas Iqbal. Dengan adanya riwayat ini, polisi menambahkan alasan bahwa kejadian pembunuhan tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi sebagai akibat dari kelelahan mental yang terus-menerus.

Penyebab pembunuhan balita ini menjadi bahan pertimbangan bagi polisi dalam proses penyelidikan. Tersangka G, sebagai paman korban, ditemukan memiliki dua sumber motivasi: gangguan emosional akibat kegiatan bermain game dan bisikan di dalam pikirannya. Dengan kombinasi kedua faktor ini, G mungkin merasa bahwa serangan terhadap korban adalah cara tercepat untuk menghilangkan masalah yang dihadapinya.

Kesimpulan: Kombinasi Tekanan dan Kondisi Kesehatan

Menurut Iqbal, pembunuhan yang terjadi memperlihatkan campuran antara tekanan psikologis kronis dan kondisi kesehatan fisik yang menurun. “Jadi dia juga stres dengan penyakitnya,” tandasnya. Epilepsi, penyakit yang memengaruhi kesehatan mental, serta ketidakpuasan akibat korban menggang

Bagikan:

Berita Terkait

1eccf430-dfad-4d88-9c86-6fcb6289f962-0

Solving Problems: Jokowi Kaget, Demam ‘Mas Bahlil Ganteng’ Sampai Depan Rumahnya

30 Mei 2026

Topics Covered: Jaga Stabilitas dan Pemerataan Ekonomi, Mendagri Dorong Kepala Daerah se-Sulawesi Perkuat Sinergitas

30 Mei 2026
0b5f03d6-7960-4d7c-898f-53a69ad4e937-0

Solution For: Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Membumbung 1 Kilometer di Atas Puncak

30 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

75cb4b5e-2e23-4076-8b0c-2d38f1fd0103-0

Key Strategy: Aturan Baru PPH Final UMKM 0,5%, Ini Daftar Wajib Pajak yang Berhak Menerima

53 menit yang lalu
054781200_1469523917-agustina_melani-44

Liga Champions PSG Vs Arsenal: Segini Hadiah Uang yang Bakal Diterima Pemenang

55 menit yang lalu

New Policy: Pegadaian Salurkan 913 Hewan Kurban pada Idul Adha 1447 H, Jangkau Berbagai Daerah di Indonesia

58 menit yang lalu

Latest Program: Influencer dan Selebgram Tak Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5%

1 jam yang lalu
054781200_1469523917-agustina_melani-43

Official Announcement: Michael Dell Salip Mark Zuckerberg jadi Orang Terkaya ke-6 di Dunia

1 jam yang lalu

Kategori

  • Bisnis (795)
  • News (1063)
  • Uncategorized (1)

About Us

beritaterbaik menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • Solving Problems: Jokowi Kaget, Demam ‘Mas Bahlil Ganteng’ Sampai Depan Rumahnya
  • Historic Moment: Polri Buru Bos dan Perekrut Utama di Balik Markas Judi Online di Hayam Wuruk
  • Top 3 News: Aktivitas Terakhir Anggota BPK Haerul Saleh Sebelum Meninggal dalam Kebakaran Rumah
  • Historic Moment: Kapolri Rotasi 9 Kapolda, Ini Daftar Lengkapnya

Quick Links

  • Bisnis
  • News
  • Uncategorized

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 . All rights reserved.