Wamendagri Wiyagus: Pancasila Sebagai Fondasi Perdamaian Global dalam New Policy
New Policy – Dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), New Policy menjadi fokus utama dalam pidato yang disampaikan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus. Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi pengikat bangsa Indonesia, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menciptakan perdamaian dunia. Pernyataan ini sejalan dengan visi New Policy yang bertujuan memperkuat nilai-nilai ideologi nasional dalam konteks global. Dalam pidatonya, Wiyagus menekankan bahwa keberagaman yang terdapat di 17.000 pulau dan ratusan etnis di Indonesia harus dijaga dengan pendekatan berbasis Pancasila, sebagai penjelmaan New Policy dalam praktik pemerintahan.
Momen Refleksi dan Peneguhan Nilai Pancasila dalam New Policy
Pada acara tersebut, Wiyagus menggarisbawahi bahwa Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi peringatan akan sejarah, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi keberhasilan New Policy dalam memperkuat fondasi perdamaian. Ia menyatakan bahwa meskipun dunia menghadapi tantangan seperti perubahan teknologi, geopolitik, dan perpecahan budaya, Pancasila tetap menjadi pengingat bahwa semangat kebersamaan dan toleransi harus tetap terjaga. “New Policy harus menjadi alat untuk menanamkan pemahaman bahwa Pancasila adalah solusi untuk stabilitas global,” tambahnya.
“Pancasila mengajarkan kita untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber konflik. Dengan New Policy, kita dapat menerapkan prinsip tersebut secara lebih luas,” ujar Wiyagus.
Menurut Wiyagus, New Policy juga mengharuskan setiap pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk bersikap proaktif dalam menjaga hubungan harmonis dengan negara-negara lain. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dalam mengatasi konflik internasional, terutama dengan pendekatan yang terbuka dan inklusif. Nilai-nilai Pancasila, seperti “persatuan dalam perbedaan,” menjadi landasan untuk mengembangkan kebijakan luar negeri yang lebih baik dalam bingkai New Policy.
Pancasila sebagai Bintang Penuntun New Policy
Dalam pidatonya, Wiyagus menyebutkan bahwa Pancasila adalah bintang penuntun yang mampu menghadirkan jalan keberhasilan bagi New Policy. Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai sila pertama, ketuhanan yang maha esa, serta sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah prinsip utama yang harus diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan. “New Policy harus mencerminkan semangat Pancasila dalam setiap langkah pembangunan nasional,” tegasnya.
“Dengan New Policy, kita bisa menghadirkan solusi keberagaman yang relevan di masa kini, bahkan untuk mengatasi permasalahan global seperti eksploitasi sumber daya alam dan isu lingkungan,” kata Wiyagus.
Wiyagus menekankan bahwa New Policy juga menekankan pentingnya pendidikan nilai Pancasila untuk generasi muda. Ia menilai bahwa pemahaman tentang sila-sila Pancasila harus terus ditingkatkan agar bisa menjadi fondasi dari kebijakan-kebijakan di masa depan. “New Policy harus menjadi wadah untuk membangun kesadaran bahwa nilai Pancasila tidak pernah usang, tetapi justru semakin relevan dalam menjawab tantangan global,” tambahnya.
Implementasi New Policy dalam Peneguhan Perdamaian Dunia
Dalam konteks New Policy, Wiyagus memaparkan bahwa Indonesia perlu memperkuat peran aktifnya dalam diplomasi global. Ia menyebutkan bahwa upaya seperti partisipasi dalam misi perdamaian, mediasi konflik regional, serta dukungan terhadap bangsa-bangsa yang sedang tertindas adalah bentuk konkrit dari nilai-nilai Pancasila. “New Policy memperkuat komitmen Indonesia untuk menjadi pilar perdamaian dunia, berdasarkan semangat yang tertuang dalam sila-sila Pancasila,” jelasnya.
“Dengan New Policy, kita bisa menghadirkan kebijakan yang lebih efektif dalam menjaga hubungan internasional, karena Pancasila memberikan pedoman yang universal,” ujar Wiyagus.
Wiyagus juga mengingatkan bahwa New Policy harus menjadi alat untuk menggabungkan kepentingan nasional dengan kepentingan global. Ia menilai bahwa peran Indonesia dalam menghadapi krisis pangan, energi, dan perubahan iklim bisa lebih optimal jika diiringi dengan semangat persatuan yang dijunjung Pancasila. “New Policy adalah bentuk komitmen bahwa Pancasila bisa menjadi fondasi bagi kebijakan luar negeri yang memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia,” tutupnya.
Harapan dan Tantangan dalam New Policy
Wiyagus mengharapkan New Policy mampu menjadi bukti bahwa Pancasila tidak hanya berlaku di dalam negeri, tetapi juga memiliki relevansi di luar batas Indonesia. Ia menyebutkan bahwa peran lembaga seperti Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sangat penting dalam menyalurkan nilai-nilai tersebut ke berbagai lapisan masyarakat. “New Policy harus menjamin bahwa ideologi Pancasila terus hidup dalam setiap kebijakan yang diambil, baik dalam konteks nasional maupun internasional,” imbuhnya.
“Kita harus menyadari bahwa New Policy bukan sekadar dokumen kebijakan, tetapi juga alat untuk menggali makna Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata Wiyagus.
Dalam kesimpulannya, Wiyagus meminta seluruh elemen masyarakat tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi New Policy. Ia menegaskan bahwa setiap warga negara, termasuk generasi muda, harus menjadi pelaku utama dalam menjaga perdamaian di tingkat global. “New Policy adalah wujud keberhasilan kita dalam menghadirkan Pancasila sebagai ideologi yang mampu memberikan solusi di tengah ketidakstabilan dunia,” tutupnya.
